Dunia dalam Asa, bukan Dunia dalam Berita

…….Selalu ada Asa, Rasa, dan Cita……..

Persiapan Akhir Tahun, Tutup Kalender 2008

with 7 comments

end of 2008

end of 2008

Kalender 2008 telah menunjukkan lembar bulan ke 12. Bulan terakhir dimana dia bisa menempel dengan congkak di dinding setara dengan bingkai foto keluarga di rumah saya. Sebentar lagi dia akan ditumpuk bersama dengan koran dan kertas bekas. Awal 2009 mungkin dia sudah dibawa lari tukang rombengan langganan ibu. Selamat tingal kalender 2008, selamat datang kalender 2009.

Kalender memang hanya kalender. Penunjuk hari, bulan dan tahun di peradaban ini. Secara umum yang digunakan manusia di penjuru dunia sebagai kalender universal adalah kalender masehi. Penganut Islam mempunyai kalender tersendiri yang dikenal dengan kalender Hijriyah. Perbedaannya ada pada acuan yang dipakai pada penetapannya. Jika kalender Masehi mengacu pada peredaran matahari, kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya.

Perbedaan acuan itu salah satunya mengakibatkan perbedaan jumlah hari antara kalender masehi dan hijriah. Untuk jumlah bulan tidak ada perbedaan hanya penamaan saja yang jelas berbeda. Tapi yang jelas keduanya tetap mempunyai fungsi yang sama, sebagai penunjuk waktu.

Pada kalender Masehi yang tergantung di dinding rumah saya menunjukkan setahun terdapat 12 bulan, 365 hari. Meski selama itu pula dia menggantung di dinding rumah saya tetap saja tidak hapal gambar tiap lembar bulannya. Atau bahkan saya jarang memperhatikan gambar apa yang ditampilkan oleh percetakan untuk mempermanis tampilan. Saya suka detail, tapi entah mengapa hal detail dan nyata semacam itu saya tidak memperhatikan. Kesimpulan saya sementara saya kurang suka dengan gambarnya.

2008 tertera pada kalender saya. Dia dulu hadir menjelang akhir tahun 2007. Dia hadir tanpa saya harus merogoh kocek membelinya. Dia hadir cuma-cuma, pemberian dari perusahaan tempat kakak bekerja, kampus atau pemberian cuma-cuma dari kenalan bapak. Yang jelas si-kalender ini selalu hadir secara gratis di rumah saya.

Waktu kecil saya sampai beranggapan hanya orang bodoh yang menjual kalender di jalan dimana orang-orang akan selalu mendapatkannya gratis sepulang kerja menjelang akhir tahun. Pikir saya tidak akan laku itu kalender dijajakan di jalanan! Orang bodoh baik yang menjual dan membelinya.

Saya beranjak dewasa kemudian menyadari sedikit konspirasi terkait lembaran-lembaran kalender. Kelender sebagai sarana promosi. Kelender sebagai sarana antisipasi demo pekerja. Kalender sebagai ikatan relasi.

Sebagai contoh makna kalender dalam perusahaan. Perusahaan memberi kalender kepada pegawainya maka ada banyak benefit yang mereka dapatkan selain kerugian kas divisi pengadaan akan berkurang. Keuntungannya antara lain mengurangi gap antara pimpinan dan karyawan karena terkadang foto yang dipakai mempercantik kalender adalah foto aktifitas perusahaan dan tak lupa foto dewan direksi. Jadi otomatis muncul nuansa kekeluargaan, foto buruh bersanding dengan foto direksi meski berbeda lembaran.

Lalu, dengan memberi kalender otomatis perusahaan membuat karyawan senang karena tidak perlu membeli kalender di jalanan tadi. Hemat lima ribu dalam setahun dan karyawan akan lebih semangat bekerja karenanya! Di sisi lain sebagai sarana promosi, kalender tertempel di dinding rumah berarti satu papan iklan menempel di ratusan mungkin ribuan rumah karyawan. Dimana sangat besar possibility kalender itu dilihat orang lain yang berkunjung dirumah. Dan akhirnya mengetahui, “Ohh perusahaan ini bergerak di bidang ini.”

Kelender pemberian perusahaan juga mempertegas disiplin perusahaan. Memberi kalender berarti perusahaan menuntut pekerjanya disiplin dan tepat waktu mengenal hari dimana deadline pekerjaan. Begitu juga karyawan yang dengan kalender pemberian perusahan mereka bisa memantau kapan mereka menuntut hak kepada perusahaan. Ini Tanggal muda kah? Ini tanggal tua kah?

Akhir tahun semacam ini semua orang akan mendadak terlihat sibuk. Mahasiswa sibuk dengan tugas tugas karena tepat menjelang akhir semester. Karyawan sibuk dengan laporan pertangung jawaban, tutup buku tahunan. Pedagang juga menengok balik neraca keuangan dan perolehan selama setahun untuk mengatur strategi baru. Dan pengangguran bersiap menghadapi tahun baru dengan harapan dapat merasakan kesibukan seperti pekerja lainnya di akhir tahun.

Memasuki tahun baru tentunya setiap orang mempunyai pengharapan untuk lebih baik. Entah lebih baik finansial, lebih baik prestasi akademis, atau lancar jodoh. Semua punya resolusi yang ingin dicapai di tahun yang baru. Saya jadi ingat salah satu (kayaknya ya cuma satu) resolusi saya di penghujung 2007 adalah jodoh. Sepertinya akhir kalender 2008 ini saya harus bersiap dengan resolusi terbaru. Tentunya perihal jodoh masih termasuk didalamnya tapi juga beserta target-target penting lainnya seperti lulus dan mendapat pekerjaan dambaan saya.

Kalender saya sudah tua dan akan segera pensiun. Meski sampai postingan ini saya masih tidak tahu gambar apa yang ada di tiap halaman tapi saya berjanji sebelum menumpuknya dengan koran bekas saya akan luangkan waktu sebentar untuk melihat lembar per lembar gambar kalender 2008. Dan mungkin saat itu saya akan semakin sadar mengapa saya tidak memperhatikan detail gambar di kalender itu semasa dia menggantung di dinding. Saya angkuh, padahal saya juga tidak tahu kapan masa habis saya berdiri di dunia.  Sungguh beruntung kalender punya masa tayang yang jelas.

YA Allah Maafkan hamba-Mu yang telah menyia-nyiakan kalender, menyiakan waktu, menyiakan peluang dan kurang menghargai hidup. Dan teruntuk Kalender 2009, tak sabar saya melihat gambarmu lembar perlembar.

Written by Johan Asa

13 Desember 2008 at 12:00 pm

Ditulis dalam ceracau, opini, save_your_life

7 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Akirnya ada postingan baru, rek :P
    Joe, ayo bikin acara tahun baru…
    tahun baru di sempu ato bromo kayaknya Seru!!! :P

    btw, ayo ndang lulus :P

    deordinaryone

    15 Desember 2008 at 7:27 am

  2. kita emg tak luput dari dosa jo. salah satunya sering menyianyiakan waktu. tumben jo bahasane resmi. he3.

    mads

    15 Desember 2008 at 5:10 pm

  3. JO, kebalikan niy aku dua taun belakangan ini krisis kalender niy. Di dormy emang dah ada kalender 2009 tapi aku kok ga dapet jatah ya?

    windahl

    18 Desember 2008 at 5:02 pm

  4. gambar kalender tak bajak yooo,, gae opini

    yudha

    28 Desember 2008 at 8:58 am

  5. kalendar ku ga diapa2in dikost…
    ngangur…
    olah si yudha ngambil dari sini toh foto ne
    pantesan mas jo nyuruh diganti…
    hehehehehhehe
    adek-kakak yang aneh…

    fajjar

    30 Desember 2008 at 3:41 am

  6. hmm aku suka banget tulisanmu ini mas. enak sekali buat dibaca, sarkatik tapi tetep ayem. bentuk tulisan kayak gini namanya soliloqui, ngajak orang mikir. tulisane apik mas. mbok sesekali nulis artikel yang reflektif gini buat ITS ol…
    salut!

    aklam

    4 Januari 2009 at 3:43 pm

  7. @mbak R
    makasih bgt semangatnyaa.. iya kudu cepet lulus. oh iya iya.. ayoo klo mau taun baruan. * wes telat koyoke :p *

    @mads
    iya kita tak luput dari dosa dan menyiakan waktu. mas mads tolong juga jangan berbuat dosa ke mbak R dan menyiakan waktu bersamanya. hahahahaha

    @wina
    mungkin mereka beranggapan udah cukup kalender di HP dan lappie mu. km kan maniak ol.

    @yudha
    kon iku mbajak tok. aku dewe wes mbajak kok. halah

    @fajjar
    alasan suruh ganti bukan itu, tapi lebih ke proporsi warna website its.ac.id. jadi jelek ketambahan dari yudha. wkwkwkw

    @aklam
    hahaha aku baru tahu. makasih ya yos. waah wakil pemred macam apa ini gak ngerti macam2 gaya penulisan esai. tp kuakui hifatlobrain.blogspot.com km sangat keren. terlebih mbak kontributornya :p

    Johan Asa

    4 Januari 2009 at 5:25 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: