Dunia dalam Asa, bukan Dunia dalam Berita

…….Selalu ada Asa, Rasa, dan Cita……..

Jam Berapa, Nak?

with 8 comments

makes_eat_timeSaya hanya mahasiswa lawas yang sok sibuk. Sering kali saya mengumpat 24 jam itu tak cukup dalam sehari. Mengumpat karena waktu 24 jam tak cukup untuk saya makan, tidur, pup, kencing, ngerjaka tugas, belajar, ngerjakan proyek dan lain sebagainya. Saya mengumpat entah untuk siapa saya juga tidak tahu. Ah, semoga Tuhan tidak marah padaku.

“Jam pinten nak?” kata wanita tua berjilbab lusuh kepada saya saat saya melintas di working area-nya. Dia bertanya dengan ekspresif. Tangan kirinya diangkat ke dada dan tangan kanannya menunjuk-nunjuk pergelangan tangan kirinya. Saya yakin betul ia tidak ingin melewatkan kesempatan mendapat informasi jam yang menurutnya sangat penting saat itu.

Saya berhenti begitu dia menyapa dengan pertanyaan. Memandangnya. Wajah yang kukenal. Suara yang kukenal. Wanita tua ini memang tidak sekali pernah menanyaiku bacaan jam yang melingkar di tanganku. Sudah beberapa kali setiap aku melintas di tempat dia bekerja. Sempat ge-er juga apa karena saya gantengan dikit yak. Ah, tapi sayangnya aku tak pernah menanyainya nama dia. Lain kali mungkin.

Mungkin bukan hanya saya orang yang ditanyainya. Mungkin setiap hari setiap waktu siang menjelang sore dia menunggu sivitas akademika kampus saya ini yang melintas didepannya. Hanya untuk ditanyai jam berapa saat ini. Mungkin dan mungkin. Saya suka memprediksi.

Setelah berhenti, saya melempar senyum padanya. lalu dengan ekspresif juga ku jawab pertanyaannya. “Jam dua kurang lima, bu,” kataku sambil memperlihatkan jam tangan titanium hasil hibah dari bapakku. Dia manggut-manggut lalu tersenyum kelihatan satu gigi palsunya yang dari logam, kurasa sewarna dengan jam tanganku. “Matur nuwun, nak,” katanya.

Saya tak berlalu begitu saja. Hari itu saya tidak terlalu terburu. Saya umbar dua, tiga pertanyaan pada wanita yang tergabung dalam korps petugas kebersihan kampus saya itu. “Badhe wangsul toh bu?” kata saya coba berbahasa jawa halus. (artinya: mau pulang bu?)

“mboten nak, mangke jam 2.30,” katanya. (artinya: tidak nak, nanti jam setengah tiga sore)

“ohh.. lha ibu kerja mulai jam berapa?” tanya saya lagi, kali ini tidak konsisten berbahasa jawa halus, karena memang tidak bisa. :p

“ya mulainya jam enam, nak. jam setengah sewelas (10.30, red) bisa istirahat terus jam satu kerja lagi,” katanya sambil dilanjutkan mencabuti rumput di sela pavingstone yang jadi tugasnya siang itu.

“ohh, lha dalemipun pundi bu?” kataku mencoba berbahasa jawa halus lagi. (artinya : rumah ibu daerah mana?)

“Keputih mriki kok nak, celak,” katanya lagi. (artinya : daerah Keputih sini kok nak, dekat)

Tak kulanjutkan interview dengan ibu itu, karena kulihat dia mulai sibuk kembali dengan rumput yang tumbuh di sela pavingstone itu. Saya segera pamit dan berlalu. Dia tersenyum lagi, terlihat satu gigi logamnya. Saya berlalu sambil tetap bertanya-tanya dalam hati. Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab.
Kenapa dia selalu menanyakan waktu saat ada orang melintas?
Apa dia rindu akan rumah?
Apakah dia rindu akan anaknya?
Apa dia tidak betah bekerja kasar?
Apa honor yang diberikan kampus ini kecil sehingga dia merasa rugi kalau overtime?
Apa karena rumput-rumput disela paving stone itu membuatnya jengkel hingga tangannya mengelupas?

ahhhhh yang jelas saya tahu dia bertanya kepada saya karena dia tidak memiliki jam tangan begitu juga teman disampingnya, partner korps kebersihannya.

***

Hari berselang. Saya kali itu duduk di suatu seminar tentang industri kreatif. Saya duduk sebagai peserta waktu itu. Salah satu pembicara sempat menyinggung masalah manajemen waktu dalam bekerja. Sang pembicara, mengutip dari rekannya, dia mengingatkan, “Bekerja itu hanyalah mengisi waktu menunggu waktu Sholat”. Pikiran saya tiba-tiba kembali ke ibu kebersihan yang haus akan informasi jam. Kembali merenung sejenak. Mungkin ibu itu hanya tak ingin dia melewatkan ibadahnya tepat waktu. Ahh malu diri ini yang selalu mengumpat 24 jam tidak cukup dalam sehari. Ahh, semoga Tuhan tidak marah padaku.

asasino just another ordinary people ^_^

Written by Johan Asa

16 April 2009 at 6:14 am

Ditulis dalam Uncategorized

Sedikit Perspektif Tentang Menjamurnya Jamaah Fesbukiyah

with 2 comments

logo_facebook

“Eh aku ternyata sanguin? padahal kukira koleris?” ujar seorang cewek kepada temannya. Mereka berdua sedang menikmati sore di kantin kampusnya. Saya kebetulan juga disana, menunggu pesanan cemilan sore saya, semangkuk pangsit mie.

“Aku lho Plegmatis,” sahut teman cewek bongsor yang sebelumnya bicara. Suara kedua gadis belia, kira-kira mahasiswa tingkat dua itu terdengar cukup keras. Heboh, sampai saya senyum-senyum sendiri melihat ulah pembicaraan mereka berdua.

“Plegmatiss? gak banget dehh,” lanjut si bongsor lagi ekspresif.

Tanpa menyahut lagi, kawan si-bongsor itu lalu beranjak membayar semangkok bakso diikuti si bongsor dibelakangnya. Saya masih menunggu pangsit mie tombo nyemil saya. Masih sambil tersenyum dan tertawa dalam hati. Facebook! Ya, percakapan kedua cewek itu tentang quiz di facebook.

Situs pertemanan, social networking, memang lagi tren saat ini. Facebook sukses menggeser Friendster yang lebih dulu booming. Bahkan banyak komunitas lain seperti kampus juga berlomba membuat situs jejaring antar alumni. Sebut saja www.its-one.com. Situs bikinan alumni kampus saya ini punya konsep yang sama seperti Facebook.

Facebook telah menjadi gaya hidup. Kerja sambil mesbuk. Kerjakan tugas kuliah sambil mesbuk. Facebook jadi hiburan setiap saat. Contohnya kedua mahasiswi tingkat dua tadi, mereka antusias sekali membahas hasil test kepribadian yang disajikan dalam bentuk quiz di facebook. Menurut saya, Facebook benar-benar sudah meradang pada diri mereka. Facebook menawarkan new experience pada mereka. Tentang hidup dan cara mengekspresikannya. Bisa jadi mereka lebih jago browsing teman di facebook daripada mencari jurnal ilmiah di 4shared. Ahh, perspektif yang ini terlalu ekstrimic.

Di-Indonesia, pengguna Facebook sering diplesetkan dengan sebutan jamaah fesbukiyah. Menggelitik bukan? Terdengar Mirip dengan jamaah Ahmadiyah dan aliran-aliran kepercayaan lain yang sesat. Siapa creator dari sebutan jamaah fesbukiyah? entahlah. Yang jelas Mark Zuckerber, pendiri facebook harus bangga karena dia dianggap imam dari jamaah fesbukiyah di Indonesia.

Ada yang bilang Facebook itu racun. Banyak perkantoran bahkan yang melakukan bloking akses ke situs ini, sama seperti saat pertama kali chating yahoomesenger booming. Kebijakan itu diambil supaya karyawannya tidak lupa waktu dan grafik produktifitas tetap berjalan semestinya. Facebook dikombinasikan dengan chatting YahooMesenger malah dianggap sebagai super racun. Kombinasi untuk mematikan waktu.

Jamaah fesbukiyah di tanah air sudah mencapai ratusan ribu. Bahkan mungkin jutaan. Saya tak sempat melakukan riset menggandeng BPS dalah hal ini. Maaf. :p Pengguna facebook berasal dari berbagai kalangan dan berbagai usia. Bayi yang baru lahir pun punya facebook. Orang jompo juga update facebook. Dosen, mahasiswa, pegawai kantoran, pegawai biasa, pengusaha, caleg dan pejabat juga ikut khusyuk dalam barisan jamaah fesbukiyah.

Lalu, jamaah Fesbukiyah apakah sesat? yang jelas MUI belum angkat bicara. Mungkin mereka sebagian juga hanyut dalam arak-arakan jamaah fesbukiyah. Lalu, apa salah jika keranjingan facebook? menurut perspektif saya tidak. Menurut saya Facebook adalah personal multimedia. Kemampuannya melebihi blog yang lebih dulu eksis.Facebook, punya kelebihan dalam hal fitur content. Ditangan orang yang superkreatif facebook bisa berubah menjadi sarana marketing yang bagus. Marketting produk, marketing diri bahkan sampai marketing -isme (pemahaman) bisa dilakukan facebook. Menjadi sarana mencari uang tentu bukan mustahil bagi Facebook. Bukankah di negeri ini sekarang sedang gandrung Entrepreneur? Facebook telah memfasilitasinya.

Kecepatan update di Facebook menjadi kelebihan yang lain. Beragam informasi bisa didapat di situs jejaring yang menurut saya mempunyai konsep sharing eveything ini. Bagi saya, tidak perlu terlalu memprotect diri dari Facebook. Facebook merupakan fenomena. Facebook adalah terobosan teknologi media. Filter utama tetap pada diri sendiri. Yang perlu diperhatikan adalah jangan terlalu menjadi budak dunia maya melupakan kodrat sebagai manusia sosial di lingkungan nyata. Untuk anak-anak dan remaja ada baiknya dilakukan kontrol oleh orang tua. Mereka sangat butuh interaksi sosial nyata di lingkungan nyata. Experience nyata yang tak sebatas teks, gambar dan video.

Akhir dari perspektif yang singkat ini sore itu saya tersadar dan menyimpukan bahwa Facebook memang racun tapi tidak se-racun pangsit mie lengkap dengan saos merah yang baru saja diantarkan sang penjual pada saya. Jadi, tidak perlu menolak teknologi multimedia seperti Facebook. Bergabunglah dengan kami di jamaah fesbukiyah. hyahahahahahaha..😀

asasino is just another jamaah fesbukiyah (^.^)V

Written by Johan Asa

10 April 2009 at 9:05 pm

Ditulis dalam Uncategorized

Antara Caleg dan DDT

leave a comment »

Menurut hasil riset singkat saya bersama partner terbaik abad ini, om google, dengan keyword “DDT adalah” menghasilkan temuan DDT merupakan insektisida populer temuan masa lampau yang kini keberadaannya banyak ditentang karena ternyata tidak ramah lingkungan. DDT merusak ekosistem alami. DDT dapat masuk sampai rantai makanan manusia. Penggunaan DDT berlebihan justru dapat menimbulkan resistensi kekebalan tubuh serangga hama. Akronim, DDT adalah Dichloro Diphenyl Trichlorethane.

Mengapa saya tertarik dengan DDT? Toh saya bukan biologist atau chemist. Sederhana, saya terbawa suasana demokrasi. Ya, pesta demokrasi yang akan segera diawali dengan pemilihan legislatif 9 April yang akan datang. Lho, kok bisa DDT nyambung ke Pemilu? Bukannya Pemilu itu lebih relevan dengan politik, langsung umum bebas dan rahasia? Yayaya, masih sederhana saja, saya terbawa kesal dengan secarik kertas edaran pengumuman dari RT/RW setempat.

Pengumuman itu biasa saja, seperti halnya edaran rapat koordinasi antar warga atau ada undangan syukuran di balai desa. Tatanan struktur surat undangan sesuai dengan kaidah protokoler pemerintahan setingkat rukun warga. Dibawahnya tak lupa tertanda ketua RW dan disertai stempel resmi kenegaraannya. Hanya saja isinya menurut saya mengesalkan. Pengumuman tentang akan datangnya juru selamat yang membunuhi nyamuk-nyamuk aides pembawa penyakit deman berdarah.

Juru selamat itu tak datang cuma-cuma. Dia telah dibayar tunai oleh yang lebih berkuasa memberi amplop. Entah berapa nilainya, yang pasti minimal ada 2 – 3 juru selamat yang akan datang mengepulkan asap. Penguasa itu dermawan kalau dipikir. Selain punya uang lebih, dia pasti punya dendam tersendiri terhadap nyamuk aides. Sayangnya, hanya dermawan musiman. Penguasa itu sedang nyaleg (baca saja: nyalonkan legislatif).

Saya kesal bukan karena dermawan itu caleg (baca saja: calon legislatif). Bukan, bukan sungguh bukan. Apalagi kesal karena dermawan itu berasal dari partai tertentu. Saya juga bukan kesal dengan pesta demokrasi yang akan berlangsung ini. Kalau saya kesal dengan Pemilu pasti saya sudah malas keluar rumah. Di luar sana jalanan sudah rimbun dengan tatapan aneh pria berkumis, pria gemuk, pria bijak berkacamata dan mbak dan ibu-ibu dengan senyum manis. Kalau sudah kesal dengan pemilu saya pasti berjalan denga menutup mata. Karena dimanapun, mata ini pasti tak sengaja membaca janji janji manis partai beraneka warna itu. Sungguh saya masih peduli dengan demokrasi!

Sekali lagi, saya kesal dengan sederhana. Sudah ada dua kali surat edaran pengumuman datang kerumah saya. Yang pertama sudah terealisasi dengan sukses. Si-dermawan tentu orang yang berbeda dengan dermawan di surat edaran kedua. Partainya pun beda. Yang pertama sukses membuat penghuni komplek sibuk dengan kecoa, lipan dan bekas-bekas yang ditinggalkan sang juru selamat, fogman! Masih ada senyum bahagia kala itu, karena memang perumahan kelas menengah kebawah ini sudah sangat perlu diasap. Ada yang bersyukur, karena kalau menunggu fogging gratis dari pemkot akan lama. Mengungsikan balita saat proses pun masih dilakukan dengan senang hati. Bekerja pembersihan after effect fogging juga dengan suka cita.

Tapi, yang kedua ini agaknya datang tidak tepat waktu. Belum sebulan kalau saya tidak salah hitung, dari yang pertama datang. Saya tidak tahu pasti kandugan Fogging itu apa saja. Apakah ada unsur DDT atau tidak saya kurang paham juga. Tapi menurut hasil riset kecil saya dengan partner terbaik saya, om google, menunjukkan fogging hanya membunuh nyamuk dewasa saja. Kurang dari sebulan mungkin memang waktu yang sangat cukup untuk larva berubah menjadi nyamuk dewasa. Tapi bukan waktu yang cukup menghapus rasa capek warga membersihkan sisa pasca penyemprotan.

Selain itu kalau dipikir ilmiah, saya kira terlalu sering fogging juga tidak baik. Pertama kekhawatiran serangga pembawa penyakit akan menjadi lebih resisten. Kedua bisa mengganggu kesehatan warga, terutama balita yang belum sempurna benar ketahanan tubuhnya.

Apa fogging telah menjadi tren alat kampanye simpatik termutakhir para DCT (baca saja: Daftar Calon Tetap) legislatif saat ini? apakah DDT bisa mempengaruhi DPT (baca saja : Daftar Pemilih Tetap) untuk mencontreng nama si-dermawan sesuai yang tertera di surat edaran? Ahh, saya tidak tau. Mungkin karena sudah terlalu banyak DDT yang saya hirup selama hidup saya ini membuat saya resisten terhadap janji-janji DCT. Tapi yang jelas saya masih tercatat sebagai DPT yang baik, hadir disetiap Pemilu.

asasino is not aides aegepty, he is just another victims

Written by Johan Asa

2 April 2009 at 7:07 pm

Ditulis dalam Uncategorized

Saya, Bertanggungjawab Atas Pembunuhan Ini

with 8 comments

Red Devil Fish

Red Devil Fish

Saya dapat sms siang kemarin. Sms dari kawan baik saya sejak SD. kami berdua sama-sama hobiis ikan hias sejak SD juga. Menginjak bangku SMP, jenis ikan yang kita gemari untuk dipelihara adalah ikan jenis predator. Sebut saja ikan Oscar dan arwana yang populer, pernah kami pelihara.

Ada kesenangan tersendiri memang memelihara ikan jenis predator. Selain corak warnanya bagus dan bentuk tubuhnya indah. Dengan memelihara ikan jenis ini kita mendapat kesenangan ekstra saat memberi makan makanan hidup ada mereka. sadis? hmm itulah seninya. Apa saya berdosa? ahh, toh kodrat mereka di alam bebas memang memakan makanan hidup.🙂

Sms dari kawan saya yang sedang ambil master untuk bidang perikanan itu berisi tentang kabar terkini  ikan hias favorit kami sejak kecil. Ya, saya dan beberapa hobiis se-komplek punya ikan hias favorit. Red Devil namanya. Termasuk dalam jenis siklid. Dan bisa dibilang ikan hibrid Louhan yang pernah nge-trend juga mempunyai darah hasil persilangan dengan Red Devil dengan jenis siklid lainnya.

Ikan ini punya kelebihan. Selain nama populer yang keren mirip dengan julukan klub papan atas Manchester United, ikan ini juga dikenal memiliki warna yang indah. Jika terawat sempurna, warna ikan ini bisa mencapai orange kemerahan. Namun kebanyakan warna pada umumnya adalah kuning jeruk.

Selain itu, ikan ini memiliki ciri-ciri matanya yang merah dan terdapat jenong dikepala untuk jantan  ukuran dewasa matang kelamin. Tentunya ikan ini jenis predator juga. Karnivora dan petarung teritorial handal. Sisi menarik lainnya yang saya suka adalah ikan jenis ini mudah dikembangbiakkan. Sama dengan ikan Mujair, ikan ini termasuk kategori good parent. Dia akan melindungi anak anaknya sampai ukuran mandiri. Hanya saja bukan mouthbreeder yang menjaga anak-anaknya dalam mulut seperti ikan mujair.

Kembali ke kabar dari teman saya itu. Dikatakannya ikan favorit kami itu kini telah menjadi hama di perairan Indonesia. bahkan menurutnya, sekarang Red Devil sudah beralih jabatan dari ikan hias menjadi kripik ikan, dan itu telah diulas salah satu TV swasta. Memang semenjak tamat SMA saya sudah tidak terlalu update mengenai dunia hobiis ikan.

Riset kecil dengan om google segera saya lakukan untuk mengetahui yang sebenarnya terjadi. Hasil query dengan keyword ikan red devil menunjukkan situs harian Suara Merdeka pernah memberitakan di tahun 2005 tantang teror ikan ini pada petambak ikan di Boyolali. Red Devil memangsa ikan-ikan budidaya seperti tawes, nila, mujair, gurami dsb.

link suara merdeka : RED DEVIL di SUARA MERDEKA

Dan saya juga menemukan pemberitaan Kompas tentang kripik ikan red devil, seperti yang dikabarkan sms kawan saya tadi. Kompas telah mengulasnya pada April 2008 lalu.

link Kompas : RED DEVIL di KOMPAS

BAhkan di youtube ada yang upload video Red Devil dengan menamainya ikan adolf hitler. Ikan ini super kriminil bukan?!

link Youtube : RED DEVIL di YOUTUBE

Setelah tahu lalu apa yang ada dalam benak saya? merasa bersalah tentunya. Ikan Red Devil bukanlah ikan asli perairan Indonesia. Ikan ini ikan asli perairan Amazon, perairan Amerika. Saya merasa bersalah karena secara tidak langsung ikut menyukseskan invasi besar-besaran red devil ke sungai, tambak dan waduk Indonesia.

Selama kurun tahun 1999 – 2003, kolam ikan saya di rumah termasuk produktif menghasilkan ikan-ikan red devil. Tapi bukan untuk produksi dijual lagi. Hanya untuk kesenangan saja membiakkan. Dari ratusan anakan yang tumbuh, hanya kira2 sepuluh ikan yang dapa survive sampai ukuran remaja dan dewasa. Lainnya? terkadang dimangsa ikan lain nya yang berada di kolam atau ikut terbuang saat proses pengurasan kolam. Nah, yang terakhir ini yang membuat saya merasa bersalah. Ikan jenis ini tergolong survive dengan segala kondisi air. Bisa jadi ikan yang ada di sungai atau di tambak, adalah dari kolam saya.😦

Saya ingat betul pada tahun 1999, di toko ikan hias, red devil dewasa hanya dihargai kurang dari Rp10.000. Murah meriah memang ikan ini dulu. Dan menginjak jaman keemasan Louhan, ikan ini juga sempat ikut naik harganya karena bisa dikatakan Red Devil juga moyangnya Louhan. Nah, kalau saat ini Red Devil di Indonesia berubah menjadi kripik, mungkin sudah takdirnya karena perangainya sendiri. Tapi saya mungkin tetap punya andil membawa ikan mata merah ini ke penggorengan.😀

Maaf buat perairan Indonesia. Maaf juga buat RedDevil, di Indonesia kini kisahmu hanya sampai di kemasan plastik berlabel Kripik Ikan Enak bu Siti asli Dusun Soka, Hargowilis, Kokap, Kulon Progo. Semoga dengan notes ini para hobiis dapat mengambil suatu pesan moral. Hati-hati dengan peliharaan anda! Memeliharalah dengan bijaksana. Jangan sampai kejadian enceg gondok, piranha dan red devil menghapus kekayaan flora dan fauna Indonesia. ^_^

johan asa
just another man who’s behind the trigger

info tambahan untuk yang saya tag dan pembaca budiman  : saat ini saya ngidam kripik ikan red devil, bagi yang mengetahui tempat penjualan di surabaya saya mohon info. trimakasih banyak!😀

Written by Johan Asa

28 Maret 2009 at 9:47 pm

Ditulis dalam hobby

Berdamai dengan Kegagalan

with 11 comments

Thomas Alfa EdisonThomas Alfa Edison

“I have not failed. I’ve just found 10000 ways that won’t work”  (Thomas A. Edison)

Quote itu menjadi begitu lekat pada saya sejak malam kemarin. Salah satunya karena semalam saya baru saja menonton film berjudul National Treasure di salah satu televisi swasta. Nah di film  yang dibintangi bang Nicholas Cage ini ada kutipan om Thomas A. Edison diatas. Dan quote-nya sempat diulangi beberapa kali di film itu baik oleh penjahat maupun oleh temennya bang Cage.

Kemudian, paginya, salah satu teman yang sedang merintis ke-konsisten-nan dalam berstatus YM juga menuliskan quote om Edison itu. Ya kawan ini memang unik atau lebih tepat  OJT yang kurang kerjaan di kantornya, dia selalu menyempatkan diri untuk pasang status online dengan quote-quote bijak dari tokoh-tokoh dunia. Jadilah quote om Edison  makin terpatri dalam ingatan saya sampai detik ini.

Menurut saya qoute ini tak sepenuhnya baik diresapi. Terlebih jika dimaknai secara dangkal. Karena kalimat itu bisa menjadi sarana berkelit yang cukup  mutakhir. Bahkan saya melihat indikasi jika pemaknaan terhadap quote ini dilakukan secara sepotong akan menimbulkan efek kemalasan dan sikap menggampangkan sesuatu.

Misalnya, seseorang yang gagal meraih nilai minimum saat ujian karena memang tidak pernah mau belajar dan malah apdet blog dimalam ujian. *seperti yang kamu lakukan sendiri saudara asasino* Jika dia dalam hati saja terbesit quote tersebut dan disamakan dengan keadaannya maka saya yakin dia adalah manusia yang super tak tahu diri. Karena dia sejatinya belum bekerja keras dan berakhir kegagalan.

Berbeda dengan Thomas A. Edison yang gagal ribuan kali membuat bola lampu. Namun itu ditempuh dengan perjuangan dan penuh perhitungan pemikiran. Meski akhirnya gagal ribuan kali, tapi sejatinya setiap dia gagal berarti dia selangkah maju untuk berhasil menciptakan bola lampu.

Siang tadi saya jumpa dengan kawan yang lain. Sama-sama menimba ilmu di Lintas Jalur Teknik Sipil. Saya jumpa dia setelah dia asistensi Tugas Akhirnya. Jujur saya iri dengan dia karena kemungkinan dia akan maju sidang tugas akhir bulan ini. Dan saya belum bisa. Dia pria yang optimis dan percaya diri.

Saya memang bukan tipe orang yang pandai menyembunyikan perasaan. Terlihat betul saya kecewa dengan diri sendiri karena tidak bisa mengejar progress tugas akhir. Kawan itu mengerti dan menghibur. Saya gagal pasti karena saya punya kesibukan yang berbeda dengan yang lain katanya.

Ya, memang saya mempunyai dua tanggung jawab pekerjaan selama kuliah ini. Di laboratorium mengerjakan beberapa proyek lab dan ikut juga mengurus media online ITS. Lagi pula semester ini saya dihadapkan dengan dua tugas besar kuliah karena sempat tidak lulus salah satu mata kuliah di semester awal. Belum lagi masih lumayan banyak kuliah yang harus diikuti.  Kalau dipikir lagi memang berat semester ini jika ditambah dengan dua pekerjaan part time itu.

Ahh, siang tadi ingin rasanya ku amini quote om Edison “I haven’t failed”. Tapi rasanya dalam diri ini menyangkal, harusnya saya bisa lebih membagi waktu sebelumnya dan saya yakin bisa saja saya lakukan jika memang saya mau konsisten. Harus saya akui saya gagal!

Setelah bertemu kawan itu, selang satu jam kemudian saya berjumpa dengan kawan yang lain. Sama mahasiswa semester akhir seperti saya. Dia tampak kecewa saat bertemu saya. Dia dicekal sekretariat jurusan karena daftar hadirnya kurang dari persyaratan. Tidak bisa ikut ujian.

Kawan saya ini kebingungan. Dia minta pendapat saya apa yang harus diperbuat. Baru saja pengajuan keringanannya ke dosen bersangkutan ditolak. Ya, memang karena pencekalan itu yang mempunyai kewenangan jurusan bukan dosen.

Saya memberi saran untuk berikan surat keterangan sakit susulan di tanggal-tanggal dia tidak masuk. Saran saya memang licik, tapi itu kan yang kebanyakan dilakukan mahasiswa. Tidak sakit, tapi ingin tidak masuk kelas. Maka terbitlah surat keterangan dokter palsu. Surat tersebut ada yang didapat dari kerabat yang dokter ada juga yang memalsu sendiri dengan aplikasi edit grafis di komputer. Ditambah printer yang makin murah tapi canggih, stempel klinik atau rumah sakit pun bisa dipalsu. Itulah sekolah di Indonesia! Keren sekali.

Kawan saya itu masih bingung. Dia berpikir sejenak menimbang-nimbang dan menerawang atur strategi. Memang ribet juga posisinya. Karena ujiannya malam hari ini. Sementara dia masih kebingungan mengurus pencekalan menjelang sore ini. Entah apa yang membuatnya baru mengurus di hari ‘H’ seperti ini.  Terus terang saya mulai kesal melihat kegalauannya yang terlambat.

“Ya sudah, ngulang semester depan saja,” potong saya akhiri lamunannya. Dia menatap wajah saya beberapa detik. Takjub agaknya. Dan sejurus kemudian menyodorkan tangannya untuk salaman. “Sip yo Jo, semester ngarep (depan, red),” katanya sambil menjabat tangan saya. Dia lalu berkata menghibur dirinya sendiri. “Ahh, Aku pancen gak isok lek mbujuki (aku memang tidak bisa klo mesti berbohong),” katanya.  EmPrettt! kataku dalam hati.

Pembaca yang budiman. Lalu apa teman saya itu layak mengucapkan quote dari om Edison? I Haven’t Failed yet! Aku tidak gagal, aku cuma tidak bisa ikut ujian akhir karena kehadiranku kurang.  Ahh.. saya pikir alasan itu tidak beralasan sama sekali. Bukannya meremehkan. Tapi kawan saya itu membolos karena kemalasannya sendiri. Pada saya dia mengakuinya. Empat minggu berturut turut tidak masuk karena malas dan beberapa masuk tapi titip absen. Menurut saya dia gagal sama seperti saya. Gagal tanpa berusaha keras semaksimal mungkin. Ya bisa saja dia lulus kalau proporsi penilaian sang dosen kecil di UAS.  Tapi rasanya di kampus ini jarang ada yang bisa lulus mata kuliah tanpa ikut ujian akhir semester.

Kawan saya ini sama seperti saya,  gagal pada kesempatan pertama dan sudah seharusnya tak boleh diulangi di kesempatan kedua. Dia dan saya harus segera menyadari tidak ada waktu untuk mengulang kegagalan sampai puluhan kali dan mengagungkan quote Edison. I Haven’t failed, because i just bla bla bla… Saya dan dia gagal dan tak boleh terulang!

Kembali teringat. Semalam setelah nonton film bang Cage. Saya mengirim text (sms) ke mantan kekasih saya. Sekilas isinya terkesan sekedar menyapa basa basi meminta didoakan karena saya besok ujian. Padahal Intinya saya ingin meminta maaf karena tepat pada malam tahun baru lalu saya agak sengal membalas textnya yang menanyakan nomor telepon teman temannya yang hilang di phonebook ponselnya *i’m soo sorry, sis*.

Yeah, malam tahun baru kemarin agaknya saya sedang sensitif. Mungkin karena ada sedikit rasa iri. *kok jadi sering kena penyakit hati gini*  Dia sudah mempunyai kekasih sedangkan saya melewatkan malam tahun baru dengan layar monitor yang dingin. – meski gak sepenuhnya dingin karena waktu itu sedang senang ada yang nemanin chattingan sampe pagi. terimaksih bule sweden😛 –

Untuk yang kisah terakhir ini saya seharusnya berkata I haven’t failed in relationship with someone. but  I’ve just made bestfriend (dia) and a lot of  friends (temennya dia).🙂  hahahaha tapi kedepannya tentu  gak mau dong endingnya sama. Pinginnya happy ending ever after, klo bisa kayak fairy tales.

Akhir gumaman saya ini, perlu memang kita berdamai dengan kegagalan agar tidak terpuruk menyesali. Tapi harus ingat harus bangkit setelah kegagalan. Kegagalan adalah bagian dari proses pendewasaan dan bagian proses pencapaian tujuan akhir. Dan yang lebih penting selalu berusaha berbuat sebaik mungkin. Minimalisir kegagalan! Dan itulah mungkin yang lebih tepat dinamakan berdamai dengan kegagalan. Memberi tempat sejauh – jauhnya pada kegagalan untuk menari tanpa mengganggu kita meraih sukses.

Bagaimana dengan anda? sudah siap berdamai dengan kegagalan?

*foto dicomot dari: http://mrdaniels.wordpress.com/2008/05/

Written by Johan Asa

5 Januari 2009 at 10:49 pm

Persiapan Akhir Tahun, Tutup Kalender 2008

with 7 comments

end of 2008

end of 2008

Kalender 2008 telah menunjukkan lembar bulan ke 12. Bulan terakhir dimana dia bisa menempel dengan congkak di dinding setara dengan bingkai foto keluarga di rumah saya. Sebentar lagi dia akan ditumpuk bersama dengan koran dan kertas bekas. Awal 2009 mungkin dia sudah dibawa lari tukang rombengan langganan ibu. Selamat tingal kalender 2008, selamat datang kalender 2009.

Kalender memang hanya kalender. Penunjuk hari, bulan dan tahun di peradaban ini. Secara umum yang digunakan manusia di penjuru dunia sebagai kalender universal adalah kalender masehi. Penganut Islam mempunyai kalender tersendiri yang dikenal dengan kalender Hijriyah. Perbedaannya ada pada acuan yang dipakai pada penetapannya. Jika kalender Masehi mengacu pada peredaran matahari, kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya.

Perbedaan acuan itu salah satunya mengakibatkan perbedaan jumlah hari antara kalender masehi dan hijriah. Untuk jumlah bulan tidak ada perbedaan hanya penamaan saja yang jelas berbeda. Tapi yang jelas keduanya tetap mempunyai fungsi yang sama, sebagai penunjuk waktu.

Pada kalender Masehi yang tergantung di dinding rumah saya menunjukkan setahun terdapat 12 bulan, 365 hari. Meski selama itu pula dia menggantung di dinding rumah saya tetap saja tidak hapal gambar tiap lembar bulannya. Atau bahkan saya jarang memperhatikan gambar apa yang ditampilkan oleh percetakan untuk mempermanis tampilan. Saya suka detail, tapi entah mengapa hal detail dan nyata semacam itu saya tidak memperhatikan. Kesimpulan saya sementara saya kurang suka dengan gambarnya.

2008 tertera pada kalender saya. Dia dulu hadir menjelang akhir tahun 2007. Dia hadir tanpa saya harus merogoh kocek membelinya. Dia hadir cuma-cuma, pemberian dari perusahaan tempat kakak bekerja, kampus atau pemberian cuma-cuma dari kenalan bapak. Yang jelas si-kalender ini selalu hadir secara gratis di rumah saya.

Waktu kecil saya sampai beranggapan hanya orang bodoh yang menjual kalender di jalan dimana orang-orang akan selalu mendapatkannya gratis sepulang kerja menjelang akhir tahun. Pikir saya tidak akan laku itu kalender dijajakan di jalanan! Orang bodoh baik yang menjual dan membelinya.

Saya beranjak dewasa kemudian menyadari sedikit konspirasi terkait lembaran-lembaran kalender. Kelender sebagai sarana promosi. Kelender sebagai sarana antisipasi demo pekerja. Kalender sebagai ikatan relasi.

Sebagai contoh makna kalender dalam perusahaan. Perusahaan memberi kalender kepada pegawainya maka ada banyak benefit yang mereka dapatkan selain kerugian kas divisi pengadaan akan berkurang. Keuntungannya antara lain mengurangi gap antara pimpinan dan karyawan karena terkadang foto yang dipakai mempercantik kalender adalah foto aktifitas perusahaan dan tak lupa foto dewan direksi. Jadi otomatis muncul nuansa kekeluargaan, foto buruh bersanding dengan foto direksi meski berbeda lembaran.

Lalu, dengan memberi kalender otomatis perusahaan membuat karyawan senang karena tidak perlu membeli kalender di jalanan tadi. Hemat lima ribu dalam setahun dan karyawan akan lebih semangat bekerja karenanya! Di sisi lain sebagai sarana promosi, kalender tertempel di dinding rumah berarti satu papan iklan menempel di ratusan mungkin ribuan rumah karyawan. Dimana sangat besar possibility kalender itu dilihat orang lain yang berkunjung dirumah. Dan akhirnya mengetahui, “Ohh perusahaan ini bergerak di bidang ini.”

Kelender pemberian perusahaan juga mempertegas disiplin perusahaan. Memberi kalender berarti perusahaan menuntut pekerjanya disiplin dan tepat waktu mengenal hari dimana deadline pekerjaan. Begitu juga karyawan yang dengan kalender pemberian perusahan mereka bisa memantau kapan mereka menuntut hak kepada perusahaan. Ini Tanggal muda kah? Ini tanggal tua kah?

Akhir tahun semacam ini semua orang akan mendadak terlihat sibuk. Mahasiswa sibuk dengan tugas tugas karena tepat menjelang akhir semester. Karyawan sibuk dengan laporan pertangung jawaban, tutup buku tahunan. Pedagang juga menengok balik neraca keuangan dan perolehan selama setahun untuk mengatur strategi baru. Dan pengangguran bersiap menghadapi tahun baru dengan harapan dapat merasakan kesibukan seperti pekerja lainnya di akhir tahun.

Memasuki tahun baru tentunya setiap orang mempunyai pengharapan untuk lebih baik. Entah lebih baik finansial, lebih baik prestasi akademis, atau lancar jodoh. Semua punya resolusi yang ingin dicapai di tahun yang baru. Saya jadi ingat salah satu (kayaknya ya cuma satu) resolusi saya di penghujung 2007 adalah jodoh. Sepertinya akhir kalender 2008 ini saya harus bersiap dengan resolusi terbaru. Tentunya perihal jodoh masih termasuk didalamnya tapi juga beserta target-target penting lainnya seperti lulus dan mendapat pekerjaan dambaan saya.

Kalender saya sudah tua dan akan segera pensiun. Meski sampai postingan ini saya masih tidak tahu gambar apa yang ada di tiap halaman tapi saya berjanji sebelum menumpuknya dengan koran bekas saya akan luangkan waktu sebentar untuk melihat lembar per lembar gambar kalender 2008. Dan mungkin saat itu saya akan semakin sadar mengapa saya tidak memperhatikan detail gambar di kalender itu semasa dia menggantung di dinding. Saya angkuh, padahal saya juga tidak tahu kapan masa habis saya berdiri di dunia.  Sungguh beruntung kalender punya masa tayang yang jelas.

YA Allah Maafkan hamba-Mu yang telah menyia-nyiakan kalender, menyiakan waktu, menyiakan peluang dan kurang menghargai hidup. Dan teruntuk Kalender 2009, tak sabar saya melihat gambarmu lembar perlembar.

Written by Johan Asa

13 Desember 2008 at 12:00 pm

Ditulis dalam ceracau, opini, save_your_life

Keluarga Kedua, [hopefully] Para Calon Engineer Multi Talent

with 14 comments

Oke, marilah kali ini saya memperkenalkan keluarga kedua saya. Setelah sesi lebaran lalu saya kenalkan kericuhan di keluarga pertama saya yang tak lain keluarga kandung saya. Keluarga kedua saya ada di kampus. Keluarga kedua saya adalah redaksi ITS Online yang bermarkas di lantai 6 Perpustakaan ITS.

Oke-oke mari langsung saya kenalin satu satu kode jurnalis kami,

ki-ka (atas:) st (junior reporter), nrf (junior reporter), tyz (junior reporter), az (junior reporter), asa (akuuu iki rek), han (kooordinator liputan)------ki-ka (bawah) : ap (redaktur), fn (junior reporter), mtb (senior reporter), yud (junior reporter), bah (junior reporter), fay (redaktur)"

Mungkin bagi yang membaca posting saya ini ada yang beranggapan, “Wuiik mas iki postingnya selalu lebay poll, narsis bin narji dkk.” Hehehe, ya memang. Biarin ahh memang kebelet nampilin foto.😛 Oke lanjut saja. Begini, redaksi ITS Online udah seperti keluarga saya. Maklum, sudah terhitung empat tahun saya bergabung dengan ITS Online, semenjak kuliah di D3 sampai melanjutkan di S1. Mulai dari Junior Reporter sampai dengan wakil Pimpinan redaksi. Kru ITS Online udah kayak sodara. Tapi gak menutup kemungkinan ada yang incest ya rek. wekekekekekek. MARI DILANJOOTTTKEEN

Written by Johan Asa

25 Oktober 2008 at 10:43 pm

Ditulis dalam journalism, prensip

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.