Dunia dalam Asa, bukan Dunia dalam Berita

…….Selalu ada Asa, Rasa, dan Cita……..

Archive for Agustus 2007

Ilmu dari Seorang Arbain Rambey

leave a comment »

“Intinya, untuk sukses dalam suatu pekerjaan hati kita harus merasa enjoy tiap kali menjalankannya,” kata seorang Arbain Rambey, salah satu fotografer jurnalistik kawakan di negeri ini, saat Klinik Foto Jurnalistik, Senin (27/8) di gedung rektorat Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Itulah salah satu kutipan yang cukup menyentil saya yang saat itu duduk sebagai peserta.

Untuk diketahui kegiatan yang saya ikuti ini terselenggara atas kerjasama harian Kompas, Toyota dan Badan Eksekutif Mahasiswa ITS (BEM ITS). Harga Tiket Masuknya sangat terjangkau alias murah banget. Cuma 10 ribu dapat goody bag, copy materi, blocknote, pulpen cantik, sertifikat, roti enak dua biji. Terus yang tak kalah menarik peserta dapat brosur spesifikasi mobil Toyota Yaris. Mungkin saja ada yang mau beli atau mungkin bikin sendiri tandingannya Yaris (Haris, Baris atau Garis?! arggghhhh).

Banyak juga kejutan berupa DOORprize (hadiah kaget) oke-oke yang ditawarkan dalam kegiatan ini. Misalnya; flashdisk 1G desain cover mobil Yaris, back pack kompas, buku Geri (hahaha) Potter terbaru, dan yang paling wah adalah buku Mata Hati yang konon limited dan seharga 400rebu lebih (ada softcopy PDFnya kagak?).

Berhubung acaranya murah banget dan terselenggara di Kampus ITS yang oke banget, otomastis peminatnya banyak, alias akeh. Tapi ya ada saja oknum yang masuk nyelonong tanpa bayar dan berhak menerima semua seminar kit dan ikutan sesi materi.

Salah satu oknum itu adalah saya. Memanfaatkan status sebagai wartawan kelas teri kampus dengan bendera media resmi dibawah rektorat, sudah sangat cukup membuat saya melenggang kangkung di setiap acara yang ada kaitannya dengan ITS. Urusan jadi berita apa gak itu belakangan, yang penting duduk manis dapat ilmu. Syukur dapat nilai plus lain (dapet gebetan, dapet doorprize, dapet gebetan lagi, nambah kenalan, dll). dasar bedebah!

Awalnya sempat khawatir ditolak panitia dan harus rela merogoh 10rebu di dompet yang penuh kertas-kertas aneh. Pasalnya saya datang agak terlambat dan posisi ruangan hampur penuh. Lagipula, salah satu reporter ITS Online (media saya bernaung) sudah ada disana. Apa kata dunia kalau satu tempat dua buaya? Hmmm, jadilah saya lihat situasi dulu di luar ruangan. Dan cling! Ada Hanif, kawan saya yang juga dari di ITS Online, kebetulan dia termasuk panitia utama acara ini. Hehehe, jurus lobyng-flirting pun dilancarkan. Masuk deh dengan gratis. Hanya saja, saya tidak dapat kesempatan ikut undian doorprize, karena memang tak bertiket. dasar kriminil, otak gratisan!

Lewat kegiatan itu saya dapat beberapa ilmu yang InsyaAllah manfaat. Sebut saja, materi safety driving dari om Toyota. Meski saya belum bisa nyetir mobil tapi kan saya tiap kali juga berperan sebagai penumpang mobil, jadi harus tahu faktor-faktor yang membahayakan dari kendaraan roda empat ini. Selain itu dari om Toyota kita dapat inputan, klo bisa belilah Yaris. Hahaha memang kegiatan ini sebagian dari trik marketing dan promosi mereka. Saya paham sekali itu. Untuk sedikit berita liputan isi materinya dapat dilihat disini.

Lalu, pemateri yang saya tunggu-tunggu adalah bang Arbain sendiri. Selain mengajar how to jepret foto jurnalistik yang ciamik, dia juga membahas sekitar seratus foto yang juga tampil di buku kumpulan foto terbaik kompas (1965-2007), berjudul Mata Hati. Ahh, lagi-lagi bagian dari promosi Kompas di ranah kekuasaan JawaPos Group. Pertarungan duo media cetak raksasa.

Akan tetapi, yang paling menyentuh bagi saya, adalah saat Arbain mengatakan bahwa sebenarnya dia lulusan sarjana Teknik Sipil ITB yang dulu sebelum kepincut jurnalistik sempat mengerjakan proyek konstruksi di Papua. (sialan!) Secara saya juga calon sarjana teknik sipil ITS gitu looh (beda calon dan S saja kan?), dan juga sekarang selain kuliah toh saya juga sudah sedikit demi sedikit meminum racun jurnalistik yang memabukkan. Lalun yang akan selalu saya ingat dari klinik itu perkataan Arbain tentang bagaimana kita menghargai pekerjaan, seperti yang saya kutip di paragraph awal. Selama ini saya memang sering bimbang menentukan dimana saya berkarir (migas, engineer swasta, BUMN, bank, PNS, guru SD, juru potret, jurnalis, reporter atau mungkin juragan ikan lele?) -wekekekeke-

Selain Arbain, fotografer senior Kompas Johny TG juga hadir memberi pencerahan motret obyek otomotif. Ya, karena sesuai pesan sponsor, si-om Toyota dengan Kompas, juga membuat sayembara terbuka untuk jepreterz untuk motret mobil Yaris dengan tema Muda Yaris Photo Competition. Wuih, hadiahnya aduhai, membuat semua adem panas, ngiler ndrewes. Bayangkan, juara satu dapat kamera D80, duit 3 juta dan berlangganan Kompas setahun. Ciamik kan? mau ikutan gak? ayooo too.. melu yaa.

Berikut beberapa photo hasil jepretan saya (obyek Yaris) sesaat setelah klinik foto usai. Saya pake kamdig Canon G3 pinjeman dari mbak Indah Humas ITS yang baik. Yup, berikut hasil jepretan orang gapret (gagap jepret)!

Iklan

Written by Johan Asa

31 Agustus 2007 at 11:01 am

Ditulis dalam journalism

Ikan Bakar Maknyusss

leave a comment »

JIKA ditanya orang “apa hobimu?” hmmm, aku bakal mikir agak lamaan untuk menjawab. hohoho, karena sampai saat ini belum tau apa yang menjadi hobiku sebenarnya. Hobi jika didefinisakan merupakan kegiatan yang dilakukan diwaktu senggang dan dilakukan secara kontinyu. Lah, selama ini yang kukerjakan diwaktu senggang lebih sering adalah hal-hal yang muncul secara tiba-tiba dikepalaku. Jadi hobiku adalah melakukan hal yang terbesit tiba-tiba di pikiran, yang berpeluang menciptakan rasa damai dan menyenangkan.

Seperti, pernah pas ngerasa sepi sendiri mendesah dan pikiran ruwet, tiba-tiba langsung muncul ide wisata kuliner ke Blauran. Sendiri, benar-benar sendirian tidak ada kawan atau lawan tanding. Single fighter (kasihan)! Dan hasilnya bawa oleh2 ke redaksi ITSOnline beberapa jajan pasar yang maknyuss. Sekaligus bawaken oleh2 apem ‘fresh from the oven’ buat si Mayo yang udah pinjemin buku Mekanika Tanah untuk bahan ujian. Yang ternyata jadi santapan mayo and the gank. Aku pun tenar dengan apem maknyuss ^__^

Atau waktu hari libur, malas kemana-mana, tidak punya aktifitas berbobot untuk dilakukan, akhirnya nongkrong didepan kolam ikan. Liat ikan peliharaanku, eh lucu bisa renang. -gw lucu kok gak bisa renang yak?- ;jayus;

Mungkin juga yang satu ini, nongkrong di atap genteng sambil lihat indahnya langit. Tapi yang ini selallu berakhir dengan nestapa (masuk angin, red). Juga kadang melakukan aktifitas seperti liputan, jeprat-jepret atau sekedar mendengar keluhkesah dan opini man on the street, tanpa menulis report berita kemudian. Menyenangkan!

——————–

Kali ini yang mau di ekspos di kantor berita duniadalamasa adalah realisasi ide spontanku pada tanggal 15 Juli lalu, hari Minggu tepatnya. Sudah lama juga sih, tapi sekali lagi redaksi duniadalamasa memuat ini dikarenakan nguber jumlah posting-an. Ide itu adalah bakar ikan di rumah. weikkzzz, Yummyyy! Mbak ruri sebelumnya sudah melakukan posting mengenai aktifitas ini, bisa dilihat disini.

Ide ini sebenarnya sudah terbesit sejak lama. Tapi karena berbagai aktipitas sing ora penting harus rela menunggu sampai esok harinya. Semua berawal dari cerita mama tentang sebuah pasar ikan di dekat kawasan masjid Ampel. Pasar Ikan Pabean namanya. Mama-ku memang orang Suroboyo asli, makanya tau banyak tempat-tempat asik (dijamannya) di Surabaya.

Waktu itu, setelah mama bercerita tentang pasar Pabean, langsung saja mata ini berbinar-binar, cring-cring-cring. haha.. selalu seperti itu kalau mendengar cerita yang berbau tradisonal dan merakyat. Maklum jee aku gak pernah dolan ke yang namanya pasar ikan. kata mama waktu itu, “lho disana uakeehh iwak gede-gede. ikan pari besar juga ada,” ceritanya. Wadooow, langsung pingin kesana.

Dan, hari Minggu lah (15/7) baru itu terlaksana. Ya pada hari minggu kuturut mama tercinta ke pasar. Naik Suprafit orenz istimewa kududuk dimuka. Kududuk samping pak kusir yang fiktif belaka. Mengendarai motor supaya baik jalannya. bruuuummmmmm…ngeeengggggg. “pelan-pelan han, mama wedi (takut, red)..” kata mama sambil mencengkram pinggangku.

Lalu, sampailah kami ditempat tujuan. Bau amis ikan sudah tercium saat kami akan parkir motor. Werrrr… sebuah becak penuh dengan ikan pun lewat dihadapan kami. Wow.. mataku terbelalak saat liat ray fish besar (iwak pari) utuh dibawa becak itu. Sayang gak sempat kejepret kamera. 😦

Setelah parkir petualangan belanja ikan pun dimulai. Sekali lagi maap, gak banyak foto yang bisa saya jepret disini karena tujuan mulia awal kami adalah belanja! Dan jika kau belanja di pasar tradisional dengan jeprat-jepret, salah satu akibatnya adalah jadi susah nawar dan harga yang dipatok pedagangnya bisa-bisa jauh lebih tinggi. Yup, maybe next time. klo cuman niat hunting gambar.

Disana, mama beli beberapa jenis ikan. Mulai dari ikan teri yang putih kecil, lalu ikan bawal (alias dorang), trus ada ikan Selar yang ada warna garis kuning di badannya dan tak lupa kita beli ikan P (what a simple fish name?!).

Mamaku (paling kanan) sedang pilih-pilih ikan Selar. Ikan ini enak juga dibakar dan harganya murah. Cocok kalau ingin merasakan nikmatnya bakar-bakar ikan ala bolang (bocah petualang).

Setelah blusukan di pasar Pabean selama kurang lebih satu setengah jam. Kami pun memutuskan pulang. Yup, cukup untuk lauk selama seminggu hasil buruan kita ini.

Sesampai rumah kesibukan pun dimulai. Mama berperan aktif lagi sebagai sie-beteti (bersihkan sisik ikan), mbak Ruri sebagai koordinator cipta sambal enak tenan, Yudha (adikku) seksi pembantu umum, bapak juga sebagai supporting unit dan ketua dewan penasihat, Dan saya sebagai ujung tombak didapuk jadi ketua pengadaan barang dan jasa (cieeehhh) alias sebagai juru bakar ikan sekaligus pengadaan perlengkapan masak.

Sayang lagi, proses bakar-bakar dan keceriaan lain selama proses berlangsung tidak sempat diabadikan. Yeah, kita lupa pentingnya seksi dokumentasi. Tapi tak apa.. beberapa foto jepretan setelah output tercapai (ikan bakar matang) saya rasa cukup menyenangkan.

Sebagai inisiator pengaggas ide sekaligus juru bakar amatir (beranjak ke expert), tak lain tak bukan saya mengatakan bahwa ini ikan bakar paling yummyyy.. numero uno.. liat warnanya! matang merata dan tidak amis. Enak maknyusss.. top markotop dahhhh!

Mbak Ruri juga telah menyiapkan sambal mantapkalinya. Akhirnya, inilah tujuan yang kita idam-idamkan selama 22 tahun terakhir. (berlebihan) ^_^v

Yummy.. waktunya santap malam bersama. Ikan bakar ala bolang telah siap lengkap dengan sambal merah , sambal kacang juga nasi hangat. weitttssss, belum mulai kok ikannya sudah ada yang cuil? pasti kelakuan si-kucing Garong (criminal cat)

kelakuan si kucing garong-1 tertangkap kamera (diperagakan oleh Yudha)

criminal cat-2 pose waspada…. (diperagakan oleh Mas Iwan)

Demikian kisahnya. semoga bisa menjadi inspirasi untuk menghabiskan akhir pekan anda bersama keluarga. Bakar-bakar ikan sangat menyenangkan, dan bisa menjadi opsi yang layak dipilih. Tak perlu punya lahan yang luas atau pekarangan untuk bakar-bakar ikan. Buktinya, saya yang tinggal di perumahan juga bisa. Hehehe, saya memindahkan tempat bakar-bakar ke teras lantai 2, a.k.a balkon. Angin yang bertiup semakin membuat meriah susana, tetangga pun jadi ngiler cium baunya. wekekeke ^_^

Written by Johan Asa

8 Agustus 2007 at 10:56 am

Ditulis dalam hobby, walking around

Separatisme, Nasionalisme NKRI Diragukan

leave a comment »

TARIAN Cakalele itu membuat gempar bangsa ini. Rakyat marah. Demonstrasi terjadi, menghujat bahkan tak segan melukai siapa-siapa yang terlibat. Maluku resah. Sementara seorang mantan intelejen memaparkan kekhawatiran akan meluasnya separatisme. Lalu kemana nasionalisme? Apa membakar bendera RMS adalah kobaran dari semangat nasionalisme?

Siapa yang tidak tergelitik dengan tarian cakalele dalam acara pembukaan Hari Keluarga Nasional ke XIV di Ambon, Maluku, Jumat pagi (29/6). Sebanyak 20 orang penari sukses membuat presiden SBY yang hadir dalam acara itu geram. “Saya meminta para pelaku diusut sesuai dengan hukum yang berlaku,” kata Presiden kepada tamu yang hadir, seperti dikutip dalam tempointeraktif.com.

Setelah tarian berdurasi lima menit itu, bergulirlah berbagai wacana yang hebat. Lagi-lagi Indonesia menjadi sorotan mancanegara. Isu separatisme mencuat ke permukaan. Diskusi demi diskusi pun digelar, membahas ’hantu’ separatisme itu.

Seperti yang dilaporkan detik.com (7/7), dalam diskusi Mengungkap Eksistensi Separatisme di Menara Kebon Sirih, Hendropriyono mantan kepala BIN mengungkapkan kekhawatirannya. Hendro mengutarakan saat ini separatisme diyakini sudah semakin meluas. Papua diperkirakan bakal menjadi yang kedua terlepas dari NKRI jika pemerintah tidak segera mengatasi konflik disana. Dan lima tahun lagi tidak menutup kemungkinan Borneo lepas.

Dalam diskusi lain bertema Dibawah Bayang-Bayang Separatisme yang dihelat di Mario Place Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, (7/7) detik.com melaporkan bahwa intelejen asing dianggap mempunyai andil dalam munculnya separatisme. Rakyat Maluku dan Papua kemungkinan malah tidak mudheng dengan separatisme dan tidak menginginkannya. ”Orang Maluku sudah puas dengan Indonesia. Di Papua orang juga tidak paham dengan separatisme. Yang terjadi orang-orang tertentu di kedua daerah itu dipakai orang asing untuk kepentingan mereka,” kata mantan Kasdam Trikora Brigjen Purn Rustam Kastor, seperti dilaporkan detik.com.

Yang menjadi persoalan sekarang, mengapa bisa sampai seperti itu? Separatisme meluas. Menjadi kekhawatiran pula, benarkah hanya mereka yang di wilayah timur yang tidak tahu apa itu separatisme? Atau bahkan hampir seluruh bangsa ini sudah lupa dengan kata nasionalisme? Lebih nakal lagi, muncul pertanyaan dalam diri penulis, apa yang dimaksud dalam kutipan Rustam bahwa orang Maluku sudah puas dengan Indonesia? Lalu siapa Indonesia yang dimaksud?

Teringat pula saya dengan cuplikan sajak WS Rendra berjudul Demi Orang Orang Rangkas Bitung sebagai berikut;
Bukankah kemerdekaan yang sempurna itu
adalah kemerdekaan negara dan bangsa?
Negara anda sudah merdeka.
Tetapi apakah bangsa anda juga sudah merdeka?

Separatisme Vs Nasionalisme
Separatisme politis menurut wikipedia adalah suatu gerakan untuk mendapatkan kedaulatan dan memisahkan suatu wilayah atau kelompok manusia (biasanya kelompok dengan kesadaran nasional yang tajam) dari satu sama lain (atau suatu negara lain). Masih menurut ensiklopedia online ini, istilah ini biasanya tidak diterima para kelompok separatis sendiri karena mereka menganggapnya kasar, dan memilih istilah yang lebih netral seperti determinasi diri.

Alasan ketidakpuasan terhadap pemerintahan agaknya yang membuat beberapa daerah, dengan beberapa tokoh didalamnya membangkitkan gerakan pemisahan diri dari NKRI. Mempunyai kedaulatan sendiri, mengolah sumber daya sendiri diyakini gerakan ini dapat lebih mendatangkan kemakmuran bagi rakyatnya. Memang motivasi separatisme sebagian besar karena kepentingan politik dan ekonomi. Tapi beberapa juga ada yang muncul dengan basis religius.

Bisa jadi, gerakan-gerakan separatis yang timbul di negeri ini seperti kekhawatiran Rustam karena ditunggangi oleh kepentingan asing. Tapi pemerintah juga harus intropeksi diri. Apakah nahkoda arah perjuangan pasca kemerdekaan ini sudah sesuai dengan cita-cita nasionalisme? Tercapainya keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Jangan sampai timbul polemik keraguan identitas kebangsaan. Benar kata Rendra dalam sajaknya, ”Apakah Bangsa anda juga sudah merdeka?”

Indonesia bukan hanya milik segelintir penduduk di Pulau Jawa yang notabene adalah tempat para penguasa NKRI berada. Tapi Indonesia adalah dari sabang sampai merauke, meski sudah ada gompal di Timor Timur.

Jika sudah ada perasaan Maluku itu Indonesia, Papua itu Indonesia dan lain sebagainya di NKRI adalah Indonesia, kemudian, pemerintah menjalankan pemerintahan seadil-adilnya, niscaya, hantu yang akhir-akhir ini ditakuti tak akan muncul.

Gol dari gerakan separatisme terbukti tidak selalu membawa kebaikan bagi rakyat. Tidak usah jauh menengok, negara muda Timor Leste dalam Indeks Kegagalan Negara yang disusun Fund for Peace, sebuah organisasi penelitian independen di Washington, Timor leste berada di urutan ke-20 dalam kategori berbahaya.

Negara-negara muda yang terbentuk dari perpecahan terbukti punya kesulitan untuk tetap eksis. Dan, itu bisa menjadi pelajaran bagi bangsa ini untuk lebih menghargai suatu kesatuan dan mengerti betul nasionalisme. Salah satu cara pendekatan yang biasa digunakan untuk membangkitkan semangat nasionalis adalah dengan melacak kembali atau flashback sejarah bangsa ini sebelum mencapai kemerdekaan hingga sekarang. Mulai dari perjuangan kedaerahan, lahirnya Budi Utomo, Sumpah Pemuda, lalu Proklamasi yang menggetarkan dan sampai pada masa ini.

Akan tetapi perlu digarisbawahi, paham nasionalisme yang mendasari kesatuan bangsa hendaknya tidak dikotori dengan pemahaman sempit. Nasionalisme tidak hanya ditujukan pada pengabdian pada negara politis. Nasionalisme bukan paham yang membela mati-matian suatu negara, benar atau salah negara itu. Karena itu hanya akan menimbulkan kejahatan baru, rasialisme dan pengangkangan terhadap kemanusiaan, kebenaran dan keadilan.

Kebangkitan Nasional
Sebagai generasi penerus, diakui penulis, saat ini kata nasionalisme masih jauh diawang awang. Untuk sekadar pengertian nasionalisme sesuai dengan kamus besar bahasa Indonesia, tentu generasi muda sudah hapal betul. Nasionalisme merupakan paham atau ajaran untuk mencintai BANGSA dan NEGARA sendiri. Tapi pengertian yang sederhana tersebut agaknya sudah terkotori dan menempatkan nasionalisme sebagai suatu ideologi yang hanya dimiliki kaum elite nasionalis yang memiliki pengetahuan lebih banyak tentang terbentuknya negara ini. Dan akhirnya menjadi sebuah hal ekslusif mendukung kepentingan kelompok tertentu.

Untuk itu harus segera diluruskan, bahwa nasionalisme adalah wacana publik dan lepas dari institusi negara. Setiap orang bebas ber-ekspresi kreatif terhadap wacana nasionalisme. Sehingga demokrasi tercapai dan kemerdekaan seutuhnya milik bangsa dan negara.

Saya sangat yakin, nasionalisme tidak mati dalam jiwa bangsa ini. Hanya saja sebagian tertidur karena terlena dengan keadaan. Dibutuhkan kebangkitan semangat nasionalisme dalam tiap individu di NKRI.

Ada yang menarik dari perbincangan saya dengan pak Yono tukang sol sepatu di daerah Waru-Sidoarjo, beberapa pekan sebelum insiden tarian cakalele. Perbincangan untuk mengusir rasa bosan menunggu sepatu kets butut keluaran converse dipermak. Perbincangan yang membuka mata, wong cilik bisa menjadi sang guru bijak. Rakyat Indonesia tidak bodoh, dan sangat rindu cita-cita kemerdekaan.

Sangat sopan dan hati-hati. Sang guru itu selalu memaparkan uneg-uneg dengan ‘nuwun sewu’. Mulai dari memaparkan tentang kehidupan yang tidak dapat diterka, hingga kadaan bangsa saat ini. ”Nuwun sewu. Semua itu berasal dari pribadi masing-masing. Yen kabeh podo mboten mikirno awake dewe-dewe, saling sayang, saling dukung, Insya Allah Indonesia saget maju,” kata sang guru.

Menakjubkan! Itulah unsur yang hilang dalam NKRI, perasaan saling sayang, saling dukung dan tidak egois. Seakan kita sudah lupa bahwa tanah air kita satu Indonesia, bangsa kita satu Indonesia, dan kita berbahasa satu Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya slogan di pita yang dibawa Garuda. Tapi sebagai pengingat kita, ditengah iklim multikultural ini memang sangat rawan dengan perpecahan.

(ini opini saya yang muat di ITSOnline, 10 Mei 2007)

Written by Johan Asa

7 Agustus 2007 at 3:45 pm

Ditulis dalam nasionalism, opini

Mimpi Bolang akan Rimba Nusantara

leave a comment »

WAJAR jika manusia memimpikan suatu hal. Bisa saja harapan dalam mimpi itu terwujud kenyataan, atau bisa juga hanya sebatas mimpi yang tak kesampaian. Di sini penulis berusaha mengungkapkan kegalauan, pemikiran dengan semangat berlebih tentang mewujudkan mimpi. Kata orang semua berawal dari mimpi. Mari bermimpi sebuah petualangan di alam rimba Indonesia. Sedikit ruwet, tapi itulah mimpi.

Pernah melihat acara televisi berjudul Bocah Petualang (Bolang)? Ya, acara ini memang disuguhkan salah satu televisi swasta. Tayangan berdurasi singkat sekitar 30 menit itu menceritakan petualangan anak-anak bermain di alam bebas. Melihat aksi Bolang; berenang, memancing ataupun memainkan permainan tradisional sambil tertawa ceria, sangat memikat. Termasuk saya, berani memberi rating tinggi, secara personal, dan menempatkannya sebagai acara wajib tonton kala santap siang. Dan itu tak lain karena, Bolang membawa virus mimpi. Mimpi akan petualangan.

Memasuki hutan, menyusuri sungai dan menombak ikan memang aktivitas yang ada diangan-angan kita, yang kebanyakan hidup didunia serba modern, sibuk dengan hirukpikuk kota metropolitan. Orang seperti kita mungkin harus puas hanya dengan Bolang yang masih mengumbar mimpi dan harapan akan petualangannya.

Ya, karena manusia semakin jauh dari peradaban serba natural. Kita memang dikepung dengan modernisasi. Namun dirasa akan semakin jauh dan jauh mewujudkan mimpi itu …..

Hingga kabar yang menyedihan, buyarkan semua mimpi, dicoreng muka bangsa Indonesia. Seperti yang dilansir Jawa Pos 4 Mei 2007 lalu, berita di halaman depan yang berjudul RI Masuk Rekor Dunia Negara Perusak Hutan. Berita yang disajikan lengkap dengan grafis bar chart tingkat kerusakan hutan ini membuat miris dengan posisi pertama barchart di pegang Indonesia yang dikenal dengan negri elok nan permai.

Data yang dilansir FAO, Global Forest Resources Assestment itu menunjukkan betapa parahnya hutan di Indonesia, dengan laju penggundulan hutan 1.8 juta hektar per tahun dan tingkat kehancuran hutan 2 persen per tahun. Mengerikan!

Rencana Guiness World Record memasukkan Indonesia sebagai negara tingkat kehancuran hutan tinggi berdasarkan data temuan yang dipublikasikan FAO memang menuai protes, terutama dari instansi terkait Republik kita. Departemen Luar Negeri, seperti yang dilansir Kompas 5 Mei 2007, mempertanyakan keabsahan data FAO.

Senada dengan Deplu, Departemen Kehutanan RI yang seakan tidak rela areal kerjanya disinggung, dengan mengatakan FAO tidak adil dalam penilaian dan semata-mata ingin menjelekkan Indonesia dimata Internasional. Luar biasa protes pemerintahan RI, sampai juru bicara Deplu RI, Kristiarto Legowo berani mengkritik balik negara maju yang lebih dulu memberangus hutan melalui gempita revolusi industri.

Luar biasa berani pemerintah kita mempertahankan aib yang memang nyata ada agar tidak banyak orang tahu. Meski entah penonton (rakyat) harus berpihak pendapat yang mana. Ya, semua terkait pertentangan kepentingan, pertentangan data perhitungan tabulasi yang kebanyakan penonton awam. Meskipun sudah cukup banyak organisasi bertema Lingkungan Hidup berkoar ”Save our Forest, Save your Life”, namun tetap saja banyak penonton awam.

Tinggalkan masa lalu
Modernisasi seakan lupa asal-usulnya, membabi-buta babad moyangnya (primitif). Semua yang harus cepat, hemat dan menguntungkan tak hiraukan jerit pohon yang ditebas demi perluasan pabrik, yang katanya juga untuk kesejahteraan, kurangi pengangguran. Cukup puas juga saya terbawa mimpi oleh novel berjudul Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer, dimana menyebutkan keberadaan harimau kumbang berbulu mengkilat seperti baja, di daerah Tulangan Sidoarjo.

Sayang, macan kumbang itu tak akan pernah saya jumpai. Macan Jawa tinggal sejarah. Dikisahkan Toer, zaman itu galak-galaknya sistem tanam paksa. Tebu menjadi komoditi menjanjikan, pribumi pun ditindas. Sawah ladang disulap jadi perkebunan tebu, dengan sewa rendah. Begitu pula hutan-hutan di tanah Jawa tempat tinggal raja rimba, diberangus, demi manisnya gula.

Itulah kisah-kisah peninggalan kepulan mesin uap bertajuk revolusi industri. Ekspansi besar-besaran bangsa maju (yang sudah dapat mengarungi samudra) untuk mencari bahan baku industri jugalah yang mengantarkan negeri berjulukan Zamrud Khatulistiwa ini pada kepedihan zaman kolonial.

Trend baru berlomba-lomba menjadi penemu alat-alat modern untuk memudahkan pekerjaan, semakin mempercepat hilang ingatan manusia pada sahabat karibnya alam. Memang belum ada di zaman itu penelitian berbasis ramah lingkungan. Bahkan bisa dipastikan belum terpikir kesana. Semua yang mengeluarkan asap itu modern! Itu hebat!

Memang berani sikap pemerintahan RI mengkritik FAO berdasarkan data dan sejarah (revolusi industri). Tapi hal tersebut tidaklah pantas dan emosional. Bisa jadi hanya protes segelintir saja, karena merekalah yang punya data dan hapal betul akan sejarah. Lalu mana yang lain? Pro FAO kah, supaya RI bisa menjajal indahnya memegang rekor dunia?

Tinggalkan masa lalu, anggap sejarah. Maksudnya disini, jangan biarkan hutan menunggu kesakitan melihat tiap harinya, sementara sibuk bercuap pertahankan gengsi. Konsentrasi berusaha mencari penyembuhan dan pengobatan lebih baik daripada meratap keluh bukan. Kalaupun borok tak dapat sembuh total kembali sedia awal, kiranya sudah berhasil memperlambat infeksi ke organ yang lain. Kepunahan mungkin, kepunahan umat manusia jika terlambat.

Wujudkan mimpi
Menyelamatkan hutan Indonesia dari kehancuran memang bukanlah hal yang mudah. Hutan Indonesia yang jutaan hektar telah terlanjur di-cap internasional sebagai paru-paru dunia. Jika boleh berandai mengerikan, seperti menyelamatkan raksasa baik hati yang telah digerogoti penyakit kronis. Dokter dari spesies manusia tak tahu mulai dari mana menancapkan jarum suntiknya. Jarum pun tak mampu menembus kulit raksasa yang alot karena zaman.

Kata orang, semua berawal dari mimpi. Butuh manusia-manusia yang selalu rindu akan petualangan Bolang. Dibutuhkan gelombang generasi penyelamat! -sengaja tidak disebut generasi penerus. karena penulis khawatir justru meneruskan kerusakan yang ada-, ditengah maraknya ajakan gaya hidup konsumtif yang dipaparkan media dan minimnya ajakan penuh untuk sayangi lingkungan.

Selama ini sudah banyak sekali sekolah-sekolah dasar mengajarkan muridnya untuk menyayangi alam, dengan disertai kegiatan outbond menanam bibit pohon. Tapi nyatanya tak berhasil meresap, pelajaran menanam pohon seakan hanya diperuntukkan untuk bocah SD dan hobiis tanaman. Untuk saat seperti ini, sangat butuh aksi dari pemerintah, segenap lembaga terkait dan masyarakat menampilkan ajakan secara serentak menyelamatkan hutan ini.

Masih banyak orang awam akan bencana global yang lebih parah jika kerusakan terus berlanjut. Selama ini masyarakat hanya tahu hutan gundul mengakibatkan; longsor, banjir, dan kekeringan. Lalu apa pula global warming (Pemanasan Global)? Banyak yang tak tahu.

Penyebab gundulnya hutan di negeri ini ada tiga hal utama. Yakni illegal logging, legal loging dan kebakaran hutan. Kehancuran hutan yang tinggi ini juga memberikan dampak pada sumbangan emisi gas rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global. Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi (disadur dari Wikipedia). Salah satu efek pemanasan global, kenaikan permukaan laut, yang berarti tenggelamnya daratan.

Memang tak cukup hanya ajakan. Semua dituntut pro aktif. Terlebih pemerintah harus sangat fight. Diharapkan pemerintah tidak hanya membuat peraturan dan keputusan terkait masalah ini. Pemerintah memang saat ini telah berkomitmen memberantas ilegal logging dan melakukan gerakan rehabilitasi hutan.

Tapi hal itu belum lah nyata terbukti berhasil, masih banyak kasus ilegal logging yang terjadi dan kerusakan hutan makin bertambah. Sangat perlu saat ini pemerintah bertindak tegas terhadap perusahaan industri kayu yang sudah tidak layak operasi. Tegas dalam hal ini menutup industri yang tidak layak. Telah diketahui, laju produksi alam untuk memenuhi kebutuhan industri kayu sangatlah lambat. Tak sebanding dengan laju produksi industri kayu menghasilkan produk, sehingga masih terjadilah penebangan liar.

Ijin penebangan hutan yang diberikan pemerintah kepada Industri juga perlu dikaji ulang. Tak perlu, saat krisis hutan seperti ini, pemerintah mengeluarkan ijin baru lagi. Pemberlakuan moratorium logging (jeda penebangan hutan) yang saat ini ramai digembar-gemborkan aktifis lingkungan hidup, pemerintah harus segera melakukannya.

Peran pemerintah dalam proyek kebangkitan hutan Indonesia ini, tentunya juga harus didukung semua individu. Jika perlu buat agenda nasional dimana dimulainya langkah baru dan serius atasi masalah ini. Bisa jadi pula hari itu menjadi hari kebangkitan hutan nasional yang akan dikenang sepanjang sejarah Indonesia.

Ya, kepada semua individu mari mulailah bermimpi, lalu bangkit tanam bibit. Bayangkan penerusmu kelak riang bergelayot ala Bolang memakan buah di pohon hasil bibit itu. Sekarang, selamat merintis sebagai individu generasi penyelamat!

(ini opini saya yang muat di ITSOnline, 16 Mei 2007)

Written by Johan Asa

7 Agustus 2007 at 2:34 pm

Ditulis dalam opini, save_your_life

Oleh-oleh Jalan Bareng Jagoan ITS

with one comment

POSTING kali ini sebenarnya sudah agak lama kejadiannya. Tanggal 16 – 22 Juli lalu dapat tugas mengikuti kontingen ITS berangkat ke Pimnas XX di Universitas Lampung (Unila). Disini saya bertugas menggantikan Humas ITS Mr Sukemi yang sekarang menjabat staf ahli Menkominfo, untuk melakukan liputan selama disana. Meski kejadiannya lama, tidak apa-apa deh untuk di masukkan di duniadalamasa. Itung itung nguber postingan. 🙂

Tugas kali ini cukup mendadak. H-2 menjelang keberangkatan redaksi ITSOnline baru diberi kabar dari Kemahasiswaan ITS mengenai permintaan pak Rektor mengikutsertakan wartawan ITSOnline. Yup, tak lain untuk meliput tim ITS di Unila. Dan salah satu alasan (memangnya cuma satu) mengapa mereka (rektorat, red) menunjuk ITSOnline karena pada kepemimpinan yang baru ini cukup lambat dalam menyikapi dan mengisi posisi humas yang kosong sepeninggal pak Kemi ke Jakarta. Dan untuk menunjukkan kompetensiku kubuatlah satu berita awalan ini.

Saya sendiri tidak ada masalah dengan segala hal yang mendadak. Hanya saja agak kecewa dengan birokrat. Meski saya easygoing, tapi tetap ngerti yang namanya planning pak! (ngamuk mode: on) hehehe, habise si bapak-bapak itu di meeting pertama denganku memberi informasi kalau aku diberangkatkan hari Selasa pagi naik Pesawat bareng beberapa pejabat ITS. Dalam benakku saat itu memang sewajarnya aku dinaikkan pesawat, karena disana aku bakal kerja liputan kesana kemari. Supaya gak capek gitu.

Nah, di hari Senin siang saat aku melakukan liputan pemberangkatan kontingen, yang bisa dilihat disini, barulah si-Bapak yang berwenang itu memberi kabar kalau aku harus berangkat bareng mahasiswa kontingen ITS untuk Pimnas sore itu juga naik kereta api. Mampuuusss, mana cucian (yang baru dicuci malam sebelumnya) belum kering betul dan belum disetrika. : doooh :

Seperti biasanya saya selalu mencoba ngobrol ceplas-ceplos -meski belum sepenuhnya bisa-, “lho pak katanya kemarin saya berangkat besok, naik pesawat,” kataku sambil menatap matanya.

“enggak, pak johan berangkat sore ini, supaya bisa mengikuti tim mahasiswa dari awal hingga akhir,” kata si Bapak.

“waduh, sekarang saya belum siap pakaian da packing,” kataku coba ngeles, supaya berangkat naik pesawat reekkk. Numpak sepur lak yoo kesel.

“Ya sekarang kamu kan bisa pulang. Nanti kereta berangkat jam 5an kok. Gmn siapkan?,” katanya.

“Ya sudah pak. sippp lah,” kataku singkat sambil mengangkat dua jempol (tanda pasrah). ^__^?

Belum sampai disitu pengorbanan seorang jurnalis. Dengan waktu yang serba mepet (kudu setrika, paking, mandi, B-A-B, makan dsb), datang telepon dari Mas Bekti, Pemred ITSOnline. Dikatakannya, kamera canon G3 punya humas ITS yang akan kubawa liputan di Lampung tidak ada chargernya. Dan aku mesti ambil dulu di rumah pak Kemi (yang cukup jauh dari rumahku). Yaa, memang kamera itu baru diserahkan (dipinjemkan) ITS ke ITSOnline. Wew, dan jadilah lengkap penderitaan awal keberangkatan. Berpacu mengejar waktu, mencari alamat pak kemu yang mbulet di daerah Sidoarjo. Meski KTP-ku Sidoarjo, aku lebih mengenal jalan Surabaya dari Sidoarjo. Dan akhirnya ketemu, itupun gak bisa langsung.. orang rumahnya pak kemi lupa tempat chargernya. nunggu dulu deh sambil ketar-ketir (cemas).

Dan, jadi pula berangkat naik kereta api Gumarang dari stasiun pasar Turi menuju stasiun Gambir Jakarta. Kuakui, menyenangkan jalan-jalan bareng dengan jagoan-jagoan ITS (istilah Pak Nur). Ada beberapa kejadian berkesan mengamati tingkah polah mahasiswa ITS selama perjalanan, seperti berita yang menurut saya lucu tentang dua orang mahasiswa ini.

Ini foto beberapa jagoan kampus yang akan berjuang disana.

Liputan pun dimulai. Journalist on duty…. (hasil jeprat-jepret) -maaf saya masih amatiran motretnya-

Teks Foto: Gajah Ikut Buka Pimnas.


Teks Foto: Dirjen Dikti Prof Satrio Soemantri Brojonegoro buka Pimnas


Teks Foto: Ahh, segar! Dirjen Dikti meminum sirup Mangrove karya mahasiswa ITS.


Teks Foto: Pak Sigit dari PENS ITS unjuk pamer robot ke wartawan media Lampung


-jurnalis juga butuh popularitas… jepret aku reekkkk!-

-lagi-


Selain itu juga sempat jeprat-jepret foto selain kegiatan Pimnas, berikut beberapa foto itu;

– Interest Robot Sejak Dini


– mbak Sarkam (sadar kamera). Duh, cantiknya! Dijepret di Bandara Raden Intan 2 Lampung




– Adik kecil dandanan seksi (wooopsss!) sedang menunggu sepur di Gambir

– Programmer Pelit-, ^__^ saat perjalanan pulang ke Surabaya saya bergabung dan menghabiskan waktu perjalanan saya dengan empat jagoan ITS pada lomba Apllied Programming. Busett, ternyata programmer saking seneng mikir, beli makan siang pun nawarnya sampe bikin mampus ibu penjual (liat kanan foto, ibu penjual nelangsa dibuatnya). Akhirnya dapat Nasi Goreng Rp. 6000 (setelah dirasa cukup murah dari yang lain).

– Nah, yang dibawah ini saya jadi model lagi. Dijepret di stasiun Gambir pas mau pulang oleh Hadziq sang maskot mahasiswa ITS (eh, mawapres ding) -juga salah satu tim programmer-. Dari lensa kamera ponsel Nokia seri N70-nya. trims ya Dziq!

Untuk berita hasil liputan saya selama disana, dan prestasi jagoan ITS bisa dilihat di link berikut:

  1. Stand ITS di Pimnas Lebih Dulu Berbenah

  2. Tiba di Lampung, Kontingen ITS Siap Bertanding

  3. Pimnas XX Resmi Dibuka di Lampung

  4. Dirjen Dikti Coba Sirup Mangrove

  5. Stand ITS Tampilkan Sepuluh Karya
  6. Tim ITS Mulai Berlaga
  7. Dua Poster PKM ITS Lolos ke Tahap II
  8. ITS gelar Workshop Robo Soccer
  9. Tim Programming ITS Melaju ke Final
  10. ITS Peringkat Empat di Pimnas XX

Yaaaa, perjalanan selama sepekan ini sangat menyenangkan. Bertemu banyak orang baru.

Written by Johan Asa

6 Agustus 2007 at 5:26 pm

Ditulis dalam journalism, walking around