Dunia dalam Asa, bukan Dunia dalam Berita

…….Selalu ada Asa, Rasa, dan Cita……..

Ilmu dari Seorang Arbain Rambey

leave a comment »

“Intinya, untuk sukses dalam suatu pekerjaan hati kita harus merasa enjoy tiap kali menjalankannya,” kata seorang Arbain Rambey, salah satu fotografer jurnalistik kawakan di negeri ini, saat Klinik Foto Jurnalistik, Senin (27/8) di gedung rektorat Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Itulah salah satu kutipan yang cukup menyentil saya yang saat itu duduk sebagai peserta.

Untuk diketahui kegiatan yang saya ikuti ini terselenggara atas kerjasama harian Kompas, Toyota dan Badan Eksekutif Mahasiswa ITS (BEM ITS). Harga Tiket Masuknya sangat terjangkau alias murah banget. Cuma 10 ribu dapat goody bag, copy materi, blocknote, pulpen cantik, sertifikat, roti enak dua biji. Terus yang tak kalah menarik peserta dapat brosur spesifikasi mobil Toyota Yaris. Mungkin saja ada yang mau beli atau mungkin bikin sendiri tandingannya Yaris (Haris, Baris atau Garis?! arggghhhh).

Banyak juga kejutan berupa DOORprize (hadiah kaget) oke-oke yang ditawarkan dalam kegiatan ini. Misalnya; flashdisk 1G desain cover mobil Yaris, back pack kompas, buku Geri (hahaha) Potter terbaru, dan yang paling wah adalah buku Mata Hati yang konon limited dan seharga 400rebu lebih (ada softcopy PDFnya kagak?).

Berhubung acaranya murah banget dan terselenggara di Kampus ITS yang oke banget, otomastis peminatnya banyak, alias akeh. Tapi ya ada saja oknum yang masuk nyelonong tanpa bayar dan berhak menerima semua seminar kit dan ikutan sesi materi.

Salah satu oknum itu adalah saya. Memanfaatkan status sebagai wartawan kelas teri kampus dengan bendera media resmi dibawah rektorat, sudah sangat cukup membuat saya melenggang kangkung di setiap acara yang ada kaitannya dengan ITS. Urusan jadi berita apa gak itu belakangan, yang penting duduk manis dapat ilmu. Syukur dapat nilai plus lain (dapet gebetan, dapet doorprize, dapet gebetan lagi, nambah kenalan, dll). dasar bedebah!

Awalnya sempat khawatir ditolak panitia dan harus rela merogoh 10rebu di dompet yang penuh kertas-kertas aneh. Pasalnya saya datang agak terlambat dan posisi ruangan hampur penuh. Lagipula, salah satu reporter ITS Online (media saya bernaung) sudah ada disana. Apa kata dunia kalau satu tempat dua buaya? Hmmm, jadilah saya lihat situasi dulu di luar ruangan. Dan cling! Ada Hanif, kawan saya yang juga dari di ITS Online, kebetulan dia termasuk panitia utama acara ini. Hehehe, jurus lobyng-flirting pun dilancarkan. Masuk deh dengan gratis. Hanya saja, saya tidak dapat kesempatan ikut undian doorprize, karena memang tak bertiket. dasar kriminil, otak gratisan!

Lewat kegiatan itu saya dapat beberapa ilmu yang InsyaAllah manfaat. Sebut saja, materi safety driving dari om Toyota. Meski saya belum bisa nyetir mobil tapi kan saya tiap kali juga berperan sebagai penumpang mobil, jadi harus tahu faktor-faktor yang membahayakan dari kendaraan roda empat ini. Selain itu dari om Toyota kita dapat inputan, klo bisa belilah Yaris. Hahaha memang kegiatan ini sebagian dari trik marketing dan promosi mereka. Saya paham sekali itu. Untuk sedikit berita liputan isi materinya dapat dilihat disini.

Lalu, pemateri yang saya tunggu-tunggu adalah bang Arbain sendiri. Selain mengajar how to jepret foto jurnalistik yang ciamik, dia juga membahas sekitar seratus foto yang juga tampil di buku kumpulan foto terbaik kompas (1965-2007), berjudul Mata Hati. Ahh, lagi-lagi bagian dari promosi Kompas di ranah kekuasaan JawaPos Group. Pertarungan duo media cetak raksasa.

Akan tetapi, yang paling menyentuh bagi saya, adalah saat Arbain mengatakan bahwa sebenarnya dia lulusan sarjana Teknik Sipil ITB yang dulu sebelum kepincut jurnalistik sempat mengerjakan proyek konstruksi di Papua. (sialan!) Secara saya juga calon sarjana teknik sipil ITS gitu looh (beda calon dan S saja kan?), dan juga sekarang selain kuliah toh saya juga sudah sedikit demi sedikit meminum racun jurnalistik yang memabukkan. Lalun yang akan selalu saya ingat dari klinik itu perkataan Arbain tentang bagaimana kita menghargai pekerjaan, seperti yang saya kutip di paragraph awal. Selama ini saya memang sering bimbang menentukan dimana saya berkarir (migas, engineer swasta, BUMN, bank, PNS, guru SD, juru potret, jurnalis, reporter atau mungkin juragan ikan lele?) -wekekekeke-

Selain Arbain, fotografer senior Kompas Johny TG juga hadir memberi pencerahan motret obyek otomotif. Ya, karena sesuai pesan sponsor, si-om Toyota dengan Kompas, juga membuat sayembara terbuka untuk jepreterz untuk motret mobil Yaris dengan tema Muda Yaris Photo Competition. Wuih, hadiahnya aduhai, membuat semua adem panas, ngiler ndrewes. Bayangkan, juara satu dapat kamera D80, duit 3 juta dan berlangganan Kompas setahun. Ciamik kan? mau ikutan gak? ayooo too.. melu yaa.

Berikut beberapa photo hasil jepretan saya (obyek Yaris) sesaat setelah klinik foto usai. Saya pake kamdig Canon G3 pinjeman dari mbak Indah Humas ITS yang baik. Yup, berikut hasil jepretan orang gapret (gagap jepret)!

Written by Johan Asa

31 Agustus 2007 pada 11:01 am

Ditulis dalam journalism

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: