Dunia dalam Asa, bukan Dunia dalam Berita

…….Selalu ada Asa, Rasa, dan Cita……..

Archive for Agustus 2008

Selamat untuk Saya yang Berulang Tahun

with 8 comments

9 Agustus 1984 Tanggal lahirku. bukan 6 Agustus 1984 *nyindir orang2 yang kasih ucapan salah tanggal.

6 dan 9 memang mirip. TApi tolong jangan disatukan menjadi satu makna 69. Atau yang lebih parah yang kebalik 96, geger-gegeran lakan (punggung”an) eheheheh *gak mutu, menunjukkan saya telah semakin dewasa dan bijaksana. -yang ngerti maksudnya ngacung!?-

Saya ulang tahun ke 24 tahun. Sudah tua, semakin dekat dengan mati. 🙂

Terimakasih pada semua rekan yang telah mendoakan saya. Memberi ucapan dan doa dengan tulus serta tak lupa membubuhi dengan embel” traktiran yang membuat saya semakin yakin kalian benar2 tulus moroti saya. Baik yang lewat email, sms, telpon, dan komen di FS. saya ucapkan terimakasih sebesar-besarnya. semoga persahabatan kita ini tetap ada sampai kapanpun. *rek aku terharu

Iklan

Written by Johan Asa

9 Agustus 2008 at 11:35 pm

Ditulis dalam ceracau, piece of me

Dibanding Bule Berlin dan Bule Ausie Saya Lebih Keren

with 6 comments

“orang indonesia iku kemendel,” kata Prof Rubi dalam konperensi Pers menjelang pengukuhan guru besarnya di bidang ilmu optika terpadu.

Hehehehe.. sebenarnya ini draft postingan lama, yang hampir kelupaan di upload. Konferesi persnya pun terjadi pada tanggal 22/7 lalu. daripada kelupaan trus jadi bisul mending saya cepet keluarin. ya kan?

Uhm.. saya mengawali postingan ini dengan qoute dari seorang atase pendidikan Indonesia di Berlin. Ruby atau prof Agus Rubiyanto salah satu dosen ITS yang keren, diam diam saya kagum dengan anda pak semoga saya bisa lebih keren dari anda *mau pinter_makanya belajar!. Sampeyan iku cak, arek suroboyo sing sangar, hebat tenan wes. udah udah cukup, setop cari mukanya. cak Ruby gak ngara moco (gak bakal baca, red) .

Back to the quote. Kenapa saya bisa meng-quote perkataan cak rubi? apakah saya salah seorang wartawan yang mewawancarai dia pas konferens pers? tidak, sebenarnya sih tidak. saya cuma kebetulan ada diruangan humas ITS saat konferensi pers berlangsung. Dan saat itu, saya mulai jatuh cinta pada gayanya cak rubi. waktu itu saya yang sebagai cecunguk ITS sedang main ke kantor humas untuk sekedar say hello -cari makanan gratis- sekaligus mantau jurnalis saya yang saya tugaskan untuk liputan disana.

Kutipan cak rubi itu bermaksud menyindir kita kita orang indonesia semua. Awalnya dia membicarakan mengenai teknologi optik sesuai dengan bidang ilmunya yang mengantarkannya ke gelar guru besar. Lalu, kemudian cak Ruby mengambil beberapa contoh kasus mengenai teknologi gadget. Apakah kita semua udah ngerti cara kerja gadget yang ada di sekitar kita atau bahkan yang sering kita genggam? cak Ruby saat itu nantangin wartawan yang datang untukmemberikan penjelasan bagaimana DVD player bekerja sampai bagaimana proses pengambilan gambar di kamera. Alhasil, semuanya gak tau.

Menurutnya, masyarakat Indonesia ini terlalu konsumtif, memiliki teknologi tanpa bisa menggunakannya optimal. Dan itu bisa dibilang mubadzir. “orang indonesia iku kemendel,” katanya. Dicontohkannya pada penggunaan ponsel. Orang Indonesia sangat mudah menghambur-hamburkan uang untuk ponsel serian terbaru yang bahkan diri mereka sendiri tidak bisa mengoperasikannya optimal. Atau bahkan teknologinya belum support di negara kita.

Kita semua tahu, teknologi ponsel di Indonesia selalu berkaitan dengan style dan fashion. HandPhone (HP) canggih bisa dibilang simbol kemapanan, gaul dan keliatan intelek. Mengutip dari salah seorang teman saya, tidak juga ber-blog sampai usianya yang sekian. Dia bersikukuh ingin beli PDA PHone sekon O2 Atom black yang saat itu harganya masih kisaran 2 juta. Supaya keliatan smart kalau pake HP yang ada tutul (stylus pen, red) nya,” katanya. Dan setelah teman saya kesampaian punya itu gadget, teman saya datang ke saya lagi untuk minta tolong setting wifi di atomnya. Dia sudah nyerah.

Cak Rubi saat konpers juga menceritakan kondisi masyarakat di Berlin tempat dia menjadi duta atase pendidikan. Dikatakannya, hanya pejabat pemerintahan dan pengusaha saja disana yang menggunakan ponsel canggih sekelas komunikator. Selebihnya, masyarakat lainnya banyak menggunakan HP dengan teknologi seperlunya yang mereka butuhkan. Bahkan Hp segede bata aja masih banyak yang menggunakan. Coba tengok di Indonesia, kuli bangunan aja udah pake HP 3G. Komunikator di Indonesia sudah jadi mainan anak SMP. Hebat kan. Apa kita masih negara miskin?

Hal itu, bukan berarti Jerman lebih gaptek dari Indonesia, tapi justru karena mereka melek teknologi mereka bertindak membelanjakan uang untuk gadget seperlunya. Beda dengan Indonesia, yang bahkan demi punya HP 3G seorang pelajar rela melacurkan dirinya. Gila mampyus deh. Padahal meskipun punya belum tentu dia bisa aktifkan video calling dan setting akses data internet dengan kecepatan 3.5 G HSDPA. Belum lagi tarif telepon yang masih mahal di Indonesia, bisa-bisa untuk mengisi pulsanya dia mesti moroti ortunya lagi. DAn berakhir dikutuk jadi batu. *ahh mas asa berlebihan.

Satu lagi contoh yang sata temui, seorang peneliti PBB yang kebetulan melakukan penelitian di kampus ITS bersama dosen-dosen ITS. Mr. John namanya dari australia (atau austria ya). Pernah suatu ketika saya kebetulan terlibat konfersesen dengannya. lalu disela percakapan itu ada ringtone politeknik eh monoponik yang nyaring sekali berbunyi. Si-John menggerayangi sakunya dan keluarlah nokia 3310 yang legendaris. *anjrit batinku. bule, tinggi, keren, speak english, jadi gigolo di quickie express pun pasti laku keras ehh HPnya jadul banget.

Waktu pun berlalu, saya berjumpa dengan rekan saya yang kebetulan juga membantu si-john dalam penelitian. Razzif nama rekan saya itu. Dia keliatan murung, karena diminta cari tukang servis untuk laptop bangkotan si -john. Ceritanya laptopnya john rusak. Dia juga cerita klo Hpnya john si 3310 juga mengalami hal senasib dengan laptop. rusak. Tapi yang bikin RAzzif bete, tuh bule gak mau ganti atau beli baru gadget2nya. Mintanya diservis sampe bisa. Buset. Padahal klo dipikir, dia bisa aja beli HP baru yang lebih canggih. atau beli laptop baru. Secara dia researcher yang kerja ikut PBB.

Apa yang terjadi di negeri ini, pola kehidupan konsumtif yang mubazir akan gadget membuat saya berpikir, lalu googling kemudian. Dari hasil googling, liat ICT WATCH fenomena ini bisa dibilang bagian dari rentetan kesenjangan digital (Digital Divide). Kita korban market.

Apakah anda mau tetap jadi korban dan menjadi pemakan sampah buangan teknologi dari negara maju? Mari kita lebih melek teknologi dan semakin bijak. Untuk itu saya bangga menyatakan diri lebih keren dari bule Berlin dan bule Aussie. Karena saya punya 3 HP yang telah saya gunakan optimal. Nokia 3105 CDMA untuk telpon,sms dan akses data internet CDMA. nokia 6100 untuk telpn dan sms dan akses gprs. lalu nokia 8250 yang kadang juga berfungsi untuk pengganjal buku. Saya punya 3 HP di kantong, belum tentu si bule punya 3 bukan? at end of all saya tetap keren. Yang setuju saya keren ayoo angkat kaki!

Written by Johan Asa

9 Agustus 2008 at 11:21 pm