Dunia dalam Asa, bukan Dunia dalam Berita

…….Selalu ada Asa, Rasa, dan Cita……..

Lebaran, Mudik dan Kue

with 5 comments

Tidak terasa liburan sudah akan berakhir. Sedih? jelas. Berarti mahasiswa semester gawat seperti saya ini harus kembali pada asistensi-asistensi yang rutin yang juga menyenangkan sekali. *teknik menghibur diri sendiri. Liburan ini saya tidak kemana-mana, tidak keluar kota surabaya ini. Hanya berkutat dalam kota. Ya, saya memang tidak punya kampung halaman. Tapi bukan berarti lalu saya tidak punya cerita. Kali ini saya mau cerita tentang lebaran versi asasino.

Idul Fitri, siapa umat muslim di dunia yang tak senang menyambutnya. Di Indonesia, terutama anak kecil dan pedagang pakaian sangat gembira menyambut lebaran. Bocah-bocah gembira puasa akan berakhir dan mereka mendapat angpau. Pedagang pakaian tak kalah sumringah karena trik penjualan bernama diskon akan sangat terbukti bermanfaat. Sedangkan orang dewasa yang bukan pedagang pakaian agaknya juga gembira tapi harus sedikit berpikir ekstra untuk mengatur pengeluarannya. Jangan sampai besar pasak daripada tiang. -Ahh,pandangan asasino terlalu dangkal-

Bicara tentang lebaran, masyarakat negara ini akan akrab dengan istilah arus mudik, arus balik dan lonjakan penumpang. Mudik adalah suatu tradisi untuk melengkapi esensi lebaran, kembali ke fitri. Semua kasta di negara ini turut serta menjaga tradisi luar biasa ini. Mulai dari pengangguran, tukang jamu gendong, pegawai rendahan, pegawai tinggian, pegawai BUMN, PNS, pegawai swasta sampai saudagar minyak saat menjelang lebaran akan berpikir untuk kembali ke kampung halaman. Bertemu orang tua, keluarga kerabat dan sanak famili menjadi suatu kerinduan yang menepikan capeknya berdesakan di stasiun, kemacetan di jalan dan kocek yang terkuras karena harga tiket pesawat semakin tak masuk akal. Lebaran seakan menjadi tujuan utama setelah kerja keras setahun.

Meski saya bukan (belum) termasuk partisipan gerakan arus mudik dan arus balik, tapi secara pribadi saya memandang takjub tradisi ini. Mengesampingkan sisi pola hidup masyarakat yang mendadak superkonsumtif menjelang lebaran, bagi saya mudik merupakan parameter lebaran yang tetap asyik diikuti melalui beragam headline di surat kabar. Saya justru kuatir jika suatu saat menjelang lebaran pola diskon pedagang pakaian malah sukses diterapkan oleh jasa penyedia transportasi pengangkut mudik. Yang artinya mudik sudah bergeser trennya, sama tidak pentingnya dengan lebaran dengan baju baru. Sangat tidak seru, menurut saya, jika mudik tergantikan dengan fitur video call saja.😦

Menonton iklan Telkom, saya sedikit lega. Operator telekomunikasi meski saling berlomba menciptakan tarif murah yang berslogan seperti “menghilangkan jarak, begitu dekat begitu nyata”, ternyata mereka tetap peduli juga dengan esensi lebaran. Lewat iklan telkom itu juga saya semakin yakin peran guru SD sangat nyata dalam menjaga tradisi lebaran. Tugas story telling seakan menjadi keharusan setelah lebaran. Salut buat guru SD!πŸ˜€

Keluarga saya juga berkumpul lebaran ini. Saling berkunjung ke rumah keluarga yang lain. Meski dalam kota, alhamdulillah tradisi saling berjabat tangan dari rumah saudara ke saudara yang lain tetap terjaga. Lalu, kakak kandung perempuan saya yang satu-satunya ini juga memperkuat suasana lebaran di keluarga dengan membuat sendiri beragam resep kue kering dan brownies kukus. Hahaha, sis, meski saya sering mencela kuemu bukan berarti saya tidak bangga denganmu. foto kue mu masuk blog sayah. hahaha😎

tradisi sungkeman di keluarga saya setelah selesai sholat ied

tradisi sungkeman di keluarga saya setelah selesai sholat ied

full team, sekeluarga.

full team, sekeluarga.

makan makan setelah sungkeman

makan makan setelah sungkeman

D

kue sistermade.πŸ˜€

D

brownies sistermade. wujud aneh, tapi rasa paten.πŸ˜€

Akhir posting saya kali ini ijinkan saya mengucapkan, Taqoballahu Minna Waminkum. Taqobbal ya Karim. Selamat hari raya Idul Fitri 1429 H. Jaga semangat Ramadhan dalam diri kita.πŸ˜€

Written by Johan Asa

4 Oktober 2008 pada 9:46 am

Ditulis dalam ceracau, piece of me

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Wihhh kita senasib niy di Surabaya doank. Makanya kita masih aktif ‘berkicau’ di milis wekekeke ;)Bedanya, aku masih ngerasain mudik (mudik yang tenang) ke Surabaya hehehe.

    Wina Dahlan

    4 Oktober 2008 at 12:32 pm

  2. met lebaran bos asa… lama kita tak bersua..lama tak bisa bersama…tapi klo lebaran ya tetep bersuara , “minal aidin yach”

    achoy

    6 Oktober 2008 at 8:25 pm

  3. itu ada yang mirip banget sama dikau, kak…

    apakah itu kakakmu?

    chiw

    7 Oktober 2008 at 11:06 pm

  4. brownis kukusnya kayaknya ajib deh..
    mauuu..
    mmap lahir batin ya..πŸ™‚

    denokdebloeng

    7 Oktober 2008 at 11:14 pm

  5. we bos kok Curhat….

    aq jadi curhat juga:
    saya sudah kenak imbas trend mudik jo yang aku rasa memang benar? Rasa mudik itu mengalahkan segalanya. contoh saya mau mendekati takbiran rasanya ………..gimana gitu.

    apalagi mau balik ke JKT rasanya …….

    jiwamalam

    9 Oktober 2008 at 5:03 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: