Dunia dalam Asa, bukan Dunia dalam Berita

…….Selalu ada Asa, Rasa, dan Cita……..

Berdamai dengan Kegagalan

with 11 comments

Thomas Alfa EdisonThomas Alfa Edison

“I have not failed. I’ve just found 10000 ways that won’t work”  (Thomas A. Edison)

Quote itu menjadi begitu lekat pada saya sejak malam kemarin. Salah satunya karena semalam saya baru saja menonton film berjudul National Treasure di salah satu televisi swasta. Nah di film  yang dibintangi bang Nicholas Cage ini ada kutipan om Thomas A. Edison diatas. Dan quote-nya sempat diulangi beberapa kali di film itu baik oleh penjahat maupun oleh temennya bang Cage.

Kemudian, paginya, salah satu teman yang sedang merintis ke-konsisten-nan dalam berstatus YM juga menuliskan quote om Edison itu. Ya kawan ini memang unik atau lebih tepat  OJT yang kurang kerjaan di kantornya, dia selalu menyempatkan diri untuk pasang status online dengan quote-quote bijak dari tokoh-tokoh dunia. Jadilah quote om Edison  makin terpatri dalam ingatan saya sampai detik ini.

Menurut saya qoute ini tak sepenuhnya baik diresapi. Terlebih jika dimaknai secara dangkal. Karena kalimat itu bisa menjadi sarana berkelit yang cukup  mutakhir. Bahkan saya melihat indikasi jika pemaknaan terhadap quote ini dilakukan secara sepotong akan menimbulkan efek kemalasan dan sikap menggampangkan sesuatu.

Misalnya, seseorang yang gagal meraih nilai minimum saat ujian karena memang tidak pernah mau belajar dan malah apdet blog dimalam ujian. *seperti yang kamu lakukan sendiri saudara asasino* Jika dia dalam hati saja terbesit quote tersebut dan disamakan dengan keadaannya maka saya yakin dia adalah manusia yang super tak tahu diri. Karena dia sejatinya belum bekerja keras dan berakhir kegagalan.

Berbeda dengan Thomas A. Edison yang gagal ribuan kali membuat bola lampu. Namun itu ditempuh dengan perjuangan dan penuh perhitungan pemikiran. Meski akhirnya gagal ribuan kali, tapi sejatinya setiap dia gagal berarti dia selangkah maju untuk berhasil menciptakan bola lampu.

Siang tadi saya jumpa dengan kawan yang lain. Sama-sama menimba ilmu di Lintas Jalur Teknik Sipil. Saya jumpa dia setelah dia asistensi Tugas Akhirnya. Jujur saya iri dengan dia karena kemungkinan dia akan maju sidang tugas akhir bulan ini. Dan saya belum bisa. Dia pria yang optimis dan percaya diri.

Saya memang bukan tipe orang yang pandai menyembunyikan perasaan. Terlihat betul saya kecewa dengan diri sendiri karena tidak bisa mengejar progress tugas akhir. Kawan itu mengerti dan menghibur. Saya gagal pasti karena saya punya kesibukan yang berbeda dengan yang lain katanya.

Ya, memang saya mempunyai dua tanggung jawab pekerjaan selama kuliah ini. Di laboratorium mengerjakan beberapa proyek lab dan ikut juga mengurus media online ITS. Lagi pula semester ini saya dihadapkan dengan dua tugas besar kuliah karena sempat tidak lulus salah satu mata kuliah di semester awal. Belum lagi masih lumayan banyak kuliah yang harus diikuti.  Kalau dipikir lagi memang berat semester ini jika ditambah dengan dua pekerjaan part time itu.

Ahh, siang tadi ingin rasanya ku amini quote om Edison “I haven’t failed”. Tapi rasanya dalam diri ini menyangkal, harusnya saya bisa lebih membagi waktu sebelumnya dan saya yakin bisa saja saya lakukan jika memang saya mau konsisten. Harus saya akui saya gagal!

Setelah bertemu kawan itu, selang satu jam kemudian saya berjumpa dengan kawan yang lain. Sama mahasiswa semester akhir seperti saya. Dia tampak kecewa saat bertemu saya. Dia dicekal sekretariat jurusan karena daftar hadirnya kurang dari persyaratan. Tidak bisa ikut ujian.

Kawan saya ini kebingungan. Dia minta pendapat saya apa yang harus diperbuat. Baru saja pengajuan keringanannya ke dosen bersangkutan ditolak. Ya, memang karena pencekalan itu yang mempunyai kewenangan jurusan bukan dosen.

Saya memberi saran untuk berikan surat keterangan sakit susulan di tanggal-tanggal dia tidak masuk. Saran saya memang licik, tapi itu kan yang kebanyakan dilakukan mahasiswa. Tidak sakit, tapi ingin tidak masuk kelas. Maka terbitlah surat keterangan dokter palsu. Surat tersebut ada yang didapat dari kerabat yang dokter ada juga yang memalsu sendiri dengan aplikasi edit grafis di komputer. Ditambah printer yang makin murah tapi canggih, stempel klinik atau rumah sakit pun bisa dipalsu. Itulah sekolah di Indonesia! Keren sekali.

Kawan saya itu masih bingung. Dia berpikir sejenak menimbang-nimbang dan menerawang atur strategi. Memang ribet juga posisinya. Karena ujiannya malam hari ini. Sementara dia masih kebingungan mengurus pencekalan menjelang sore ini. Entah apa yang membuatnya baru mengurus di hari ‘H’ seperti ini.  Terus terang saya mulai kesal melihat kegalauannya yang terlambat.

“Ya sudah, ngulang semester depan saja,” potong saya akhiri lamunannya. Dia menatap wajah saya beberapa detik. Takjub agaknya. Dan sejurus kemudian menyodorkan tangannya untuk salaman. “Sip yo Jo, semester ngarep (depan, red),” katanya sambil menjabat tangan saya. Dia lalu berkata menghibur dirinya sendiri. “Ahh, Aku pancen gak isok lek mbujuki (aku memang tidak bisa klo mesti berbohong),” katanya.  EmPrettt! kataku dalam hati.

Pembaca yang budiman. Lalu apa teman saya itu layak mengucapkan quote dari om Edison? I Haven’t Failed yet! Aku tidak gagal, aku cuma tidak bisa ikut ujian akhir karena kehadiranku kurang.  Ahh.. saya pikir alasan itu tidak beralasan sama sekali. Bukannya meremehkan. Tapi kawan saya itu membolos karena kemalasannya sendiri. Pada saya dia mengakuinya. Empat minggu berturut turut tidak masuk karena malas dan beberapa masuk tapi titip absen. Menurut saya dia gagal sama seperti saya. Gagal tanpa berusaha keras semaksimal mungkin. Ya bisa saja dia lulus kalau proporsi penilaian sang dosen kecil di UAS.  Tapi rasanya di kampus ini jarang ada yang bisa lulus mata kuliah tanpa ikut ujian akhir semester.

Kawan saya ini sama seperti saya,  gagal pada kesempatan pertama dan sudah seharusnya tak boleh diulangi di kesempatan kedua. Dia dan saya harus segera menyadari tidak ada waktu untuk mengulang kegagalan sampai puluhan kali dan mengagungkan quote Edison. I Haven’t failed, because i just bla bla bla… Saya dan dia gagal dan tak boleh terulang!

Kembali teringat. Semalam setelah nonton film bang Cage. Saya mengirim text (sms) ke mantan kekasih saya. Sekilas isinya terkesan sekedar menyapa basa basi meminta didoakan karena saya besok ujian. Padahal Intinya saya ingin meminta maaf karena tepat pada malam tahun baru lalu saya agak sengal membalas textnya yang menanyakan nomor telepon teman temannya yang hilang di phonebook ponselnya *i’m soo sorry, sis*.

Yeah, malam tahun baru kemarin agaknya saya sedang sensitif. Mungkin karena ada sedikit rasa iri. *kok jadi sering kena penyakit hati gini*  Dia sudah mempunyai kekasih sedangkan saya melewatkan malam tahun baru dengan layar monitor yang dingin. – meski gak sepenuhnya dingin karena waktu itu sedang senang ada yang nemanin chattingan sampe pagi. terimaksih bule sweden😛 –

Untuk yang kisah terakhir ini saya seharusnya berkata I haven’t failed in relationship with someone. but  I’ve just made bestfriend (dia) and a lot of  friends (temennya dia).🙂  hahahaha tapi kedepannya tentu  gak mau dong endingnya sama. Pinginnya happy ending ever after, klo bisa kayak fairy tales.

Akhir gumaman saya ini, perlu memang kita berdamai dengan kegagalan agar tidak terpuruk menyesali. Tapi harus ingat harus bangkit setelah kegagalan. Kegagalan adalah bagian dari proses pendewasaan dan bagian proses pencapaian tujuan akhir. Dan yang lebih penting selalu berusaha berbuat sebaik mungkin. Minimalisir kegagalan! Dan itulah mungkin yang lebih tepat dinamakan berdamai dengan kegagalan. Memberi tempat sejauh – jauhnya pada kegagalan untuk menari tanpa mengganggu kita meraih sukses.

Bagaimana dengan anda? sudah siap berdamai dengan kegagalan?

*foto dicomot dari: http://mrdaniels.wordpress.com/2008/05/

Written by Johan Asa

5 Januari 2009 pada 10:49 pm

11 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Damai dgn kegagalan ?
    No way !
    Justru kita tidak boleh berdamai dengan kegagalan agar tidak menjadi teman kegagalan.

    (huahaha…ketempelan malaikat opo aku koq ngomong ngene…;p)

    ningsariuayu

    6 Januari 2009 at 4:09 am

  2. dalem banget jo, artikelmu kali ini. mungkin kita memang gak boleh menelan mentah2 quote dari orang2 besar seperti Thomas A. Edison. bener dia baru bisa berhasil bikin lampu setelah 1000kali gagal. tapi aku lebih melihatnya sebagai kata2 motivasi(seperti bang mario teguh) agar kita bisa menjadi orang yang lebih baik, tidak gampang mengeluh, dan lebih semangat dalam menjalani hidup. intinya jangan takut gagal, tapi bersiaplah untuk sukses. ciehhhhhh….
    gudluck TA-ne bro. tetap semangat…

    mads

    8 Januari 2009 at 9:12 am

  3. @ningsariuayu
    hehehe baca di paragrap akhir dongs.. “Minimalisir kegagalan! Dan itulah mungkin yang lebih tepat dinamakan berdamai dengan kegagalan. Memberi tempat sejauh – jauhnya pada kegagalan untuk menari tanpa mengganggu kita meraih sukses.” :p

    @mads
    iya dong mads. skg mau belajar lagi nulis. tunggu tulisan tulisan saya selanjutnya. hahahah

    Johan Asa

    9 Januari 2009 at 12:01 am

  4. huaaah jo berat…wes ntar tak link blog mu ke q yah?tenkyu

    irma

    12 Januari 2009 at 9:39 am

  5. ihh kok pada bilang berat sih? saya kan cuma 50 kg! itu pun kadang gak jangkep. bisa 49, bisa 48. kan udah pada tau saya itu kuyus keyen, tapi kok dibilang berat! yang berat itu saya atau postingan saya yang cenderung panjang dan mengomel gak jelas? hahahaha

    @irma
    kapan saya bisa gendong ponakan dari kamu?

    Johan Asa

    12 Januari 2009 at 4:57 pm

  6. I haven’t failed in relationship with someone. but I’ve just made bestfriend (dia) and a lot of friends (temennya dia).

    semoga ketika hal ini diucapkan, tidak diiringi hujan badai airmata ya Kak…
    :mrgreen:

    *bukankah aku penghibur yang baik?*
    😎

    chiw

    16 Januari 2009 at 11:35 pm

  7. @chiw
    ahh kau terlalu banyak tau rahasiaku nak.. *tumpas siwiii*

    Johan Asa

    17 Januari 2009 at 12:41 am

  8. ya poko’e jangan pernah menyerah lah bro, dan selalu belajar dr kesalahan2. karena dr kesalahan2 itulah, kita justru belajar untuk tidak melalui jalan itu lagi. koyo jere prof ku, semakin kamu merasa thesismu sulit, maka justru semakin kamu tahu apa yang kamu kerjakan. gagal bolak balik, yo kuwi jenege sinau, belajar.

    keep moving forward lah, lek jere walt disney.

    pitri

    7 Februari 2009 at 11:58 pm

  9. bro pitriii.. how are you?

    Johan Asa

    22 Februari 2009 at 1:13 am

  10. bagaimana jika kegagalan itu terjadi karena kita melanggar norma2 sosial sehingga bisa dibilang kita jahat. kegagalan yang dialami thomas alfa edison merupakan kegagalan percobaan dan kegagalan kerena salah prilaku. bagaimana ya??

    saya merasa hidup saya telah hancur berkeping-keping…

    misteriusman

    5 Oktober 2009 at 5:45 pm

  11. Dunia ini,kehidupan malamnya disinari oleh hasil ketabahan Thomas Edison yang telah berjaya bertahan melalui kegagalan lebih seribu kali.

    Saya sukakan ayat kamu yang ini;

    “Memberi tempat sejauh – jauhnya pada kegagalan untuk menari tanpa mengganggu kita meraih sukses”.

    UstazCahaya

    23 Oktober 2009 at 7:55 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: