Dunia dalam Asa, bukan Dunia dalam Berita

…….Selalu ada Asa, Rasa, dan Cita……..

Antara Caleg dan DDT

leave a comment »

Menurut hasil riset singkat saya bersama partner terbaik abad ini, om google, dengan keyword “DDT adalah” menghasilkan temuan DDT merupakan insektisida populer temuan masa lampau yang kini keberadaannya banyak ditentang karena ternyata tidak ramah lingkungan. DDT merusak ekosistem alami. DDT dapat masuk sampai rantai makanan manusia. Penggunaan DDT berlebihan justru dapat menimbulkan resistensi kekebalan tubuh serangga hama. Akronim, DDT adalah Dichloro Diphenyl Trichlorethane.

Mengapa saya tertarik dengan DDT? Toh saya bukan biologist atau chemist. Sederhana, saya terbawa suasana demokrasi. Ya, pesta demokrasi yang akan segera diawali dengan pemilihan legislatif 9 April yang akan datang. Lho, kok bisa DDT nyambung ke Pemilu? Bukannya Pemilu itu lebih relevan dengan politik, langsung umum bebas dan rahasia? Yayaya, masih sederhana saja, saya terbawa kesal dengan secarik kertas edaran pengumuman dari RT/RW setempat.

Pengumuman itu biasa saja, seperti halnya edaran rapat koordinasi antar warga atau ada undangan syukuran di balai desa. Tatanan struktur surat undangan sesuai dengan kaidah protokoler pemerintahan setingkat rukun warga. Dibawahnya tak lupa tertanda ketua RW dan disertai stempel resmi kenegaraannya. Hanya saja isinya menurut saya mengesalkan. Pengumuman tentang akan datangnya juru selamat yang membunuhi nyamuk-nyamuk aides pembawa penyakit deman berdarah.

Juru selamat itu tak datang cuma-cuma. Dia telah dibayar tunai oleh yang lebih berkuasa memberi amplop. Entah berapa nilainya, yang pasti minimal ada 2 – 3 juru selamat yang akan datang mengepulkan asap. Penguasa itu dermawan kalau dipikir. Selain punya uang lebih, dia pasti punya dendam tersendiri terhadap nyamuk aides. Sayangnya, hanya dermawan musiman. Penguasa itu sedang nyaleg (baca saja: nyalonkan legislatif).

Saya kesal bukan karena dermawan itu caleg (baca saja: calon legislatif). Bukan, bukan sungguh bukan. Apalagi kesal karena dermawan itu berasal dari partai tertentu. Saya juga bukan kesal dengan pesta demokrasi yang akan berlangsung ini. Kalau saya kesal dengan Pemilu pasti saya sudah malas keluar rumah. Di luar sana jalanan sudah rimbun dengan tatapan aneh pria berkumis, pria gemuk, pria bijak berkacamata dan mbak dan ibu-ibu dengan senyum manis. Kalau sudah kesal dengan pemilu saya pasti berjalan denga menutup mata. Karena dimanapun, mata ini pasti tak sengaja membaca janji janji manis partai beraneka warna itu. Sungguh saya masih peduli dengan demokrasi!

Sekali lagi, saya kesal dengan sederhana. Sudah ada dua kali surat edaran pengumuman datang kerumah saya. Yang pertama sudah terealisasi dengan sukses. Si-dermawan tentu orang yang berbeda dengan dermawan di surat edaran kedua. Partainya pun beda. Yang pertama sukses membuat penghuni komplek sibuk dengan kecoa, lipan dan bekas-bekas yang ditinggalkan sang juru selamat, fogman! Masih ada senyum bahagia kala itu, karena memang perumahan kelas menengah kebawah ini sudah sangat perlu diasap. Ada yang bersyukur, karena kalau menunggu fogging gratis dari pemkot akan lama. Mengungsikan balita saat proses pun masih dilakukan dengan senang hati. Bekerja pembersihan after effect fogging juga dengan suka cita.

Tapi, yang kedua ini agaknya datang tidak tepat waktu. Belum sebulan kalau saya tidak salah hitung, dari yang pertama datang. Saya tidak tahu pasti kandugan Fogging itu apa saja. Apakah ada unsur DDT atau tidak saya kurang paham juga. Tapi menurut hasil riset kecil saya dengan partner terbaik saya, om google, menunjukkan fogging hanya membunuh nyamuk dewasa saja. Kurang dari sebulan mungkin memang waktu yang sangat cukup untuk larva berubah menjadi nyamuk dewasa. Tapi bukan waktu yang cukup menghapus rasa capek warga membersihkan sisa pasca penyemprotan.

Selain itu kalau dipikir ilmiah, saya kira terlalu sering fogging juga tidak baik. Pertama kekhawatiran serangga pembawa penyakit akan menjadi lebih resisten. Kedua bisa mengganggu kesehatan warga, terutama balita yang belum sempurna benar ketahanan tubuhnya.

Apa fogging telah menjadi tren alat kampanye simpatik termutakhir para DCT (baca saja: Daftar Calon Tetap) legislatif saat ini? apakah DDT bisa mempengaruhi DPT (baca saja : Daftar Pemilih Tetap) untuk mencontreng nama si-dermawan sesuai yang tertera di surat edaran? Ahh, saya tidak tau. Mungkin karena sudah terlalu banyak DDT yang saya hirup selama hidup saya ini membuat saya resisten terhadap janji-janji DCT. Tapi yang jelas saya masih tercatat sebagai DPT yang baik, hadir disetiap Pemilu.

asasino is not aides aegepty, he is just another victims

Written by Johan Asa

2 April 2009 pada 7:07 pm

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: