Dunia dalam Asa, bukan Dunia dalam Berita

…….Selalu ada Asa, Rasa, dan Cita……..

Sedikit Perspektif Tentang Menjamurnya Jamaah Fesbukiyah

with 2 comments

logo_facebook

“Eh aku ternyata sanguin? padahal kukira koleris?” ujar seorang cewek kepada temannya. Mereka berdua sedang menikmati sore di kantin kampusnya. Saya kebetulan juga disana, menunggu pesanan cemilan sore saya, semangkuk pangsit mie.

“Aku lho Plegmatis,” sahut teman cewek bongsor yang sebelumnya bicara. Suara kedua gadis belia, kira-kira mahasiswa tingkat dua itu terdengar cukup keras. Heboh, sampai saya senyum-senyum sendiri melihat ulah pembicaraan mereka berdua.

“Plegmatiss? gak banget dehh,” lanjut si bongsor lagi ekspresif.

Tanpa menyahut lagi, kawan si-bongsor itu lalu beranjak membayar semangkok bakso diikuti si bongsor dibelakangnya. Saya masih menunggu pangsit mie tombo nyemil saya. Masih sambil tersenyum dan tertawa dalam hati. Facebook! Ya, percakapan kedua cewek itu tentang quiz di facebook.

Situs pertemanan, social networking, memang lagi tren saat ini. Facebook sukses menggeser Friendster yang lebih dulu booming. Bahkan banyak komunitas lain seperti kampus juga berlomba membuat situs jejaring antar alumni. Sebut saja www.its-one.com. Situs bikinan alumni kampus saya ini punya konsep yang sama seperti Facebook.

Facebook telah menjadi gaya hidup. Kerja sambil mesbuk. Kerjakan tugas kuliah sambil mesbuk. Facebook jadi hiburan setiap saat. Contohnya kedua mahasiswi tingkat dua tadi, mereka antusias sekali membahas hasil test kepribadian yang disajikan dalam bentuk quiz di facebook. Menurut saya, Facebook benar-benar sudah meradang pada diri mereka. Facebook menawarkan new experience pada mereka. Tentang hidup dan cara mengekspresikannya. Bisa jadi mereka lebih jago browsing teman di facebook daripada mencari jurnal ilmiah di 4shared. Ahh, perspektif yang ini terlalu ekstrimic.

Di-Indonesia, pengguna Facebook sering diplesetkan dengan sebutan jamaah fesbukiyah. Menggelitik bukan? Terdengar Mirip dengan jamaah Ahmadiyah dan aliran-aliran kepercayaan lain yang sesat. Siapa creator dari sebutan jamaah fesbukiyah? entahlah. Yang jelas Mark Zuckerber, pendiri facebook harus bangga karena dia dianggap imam dari jamaah fesbukiyah di Indonesia.

Ada yang bilang Facebook itu racun. Banyak perkantoran bahkan yang melakukan bloking akses ke situs ini, sama seperti saat pertama kali chating yahoomesenger booming. Kebijakan itu diambil supaya karyawannya tidak lupa waktu dan grafik produktifitas tetap berjalan semestinya. Facebook dikombinasikan dengan chatting YahooMesenger malah dianggap sebagai super racun. Kombinasi untuk mematikan waktu.

Jamaah fesbukiyah di tanah air sudah mencapai ratusan ribu. Bahkan mungkin jutaan. Saya tak sempat melakukan riset menggandeng BPS dalah hal ini. Maaf. :p Pengguna facebook berasal dari berbagai kalangan dan berbagai usia. Bayi yang baru lahir pun punya facebook. Orang jompo juga update facebook. Dosen, mahasiswa, pegawai kantoran, pegawai biasa, pengusaha, caleg dan pejabat juga ikut khusyuk dalam barisan jamaah fesbukiyah.

Lalu, jamaah Fesbukiyah apakah sesat? yang jelas MUI belum angkat bicara. Mungkin mereka sebagian juga hanyut dalam arak-arakan jamaah fesbukiyah. Lalu, apa salah jika keranjingan facebook? menurut perspektif saya tidak. Menurut saya Facebook adalah personal multimedia. Kemampuannya melebihi blog yang lebih dulu eksis.Facebook, punya kelebihan dalam hal fitur content. Ditangan orang yang superkreatif facebook bisa berubah menjadi sarana marketing yang bagus. Marketting produk, marketing diri bahkan sampai marketing -isme (pemahaman) bisa dilakukan facebook. Menjadi sarana mencari uang tentu bukan mustahil bagi Facebook. Bukankah di negeri ini sekarang sedang gandrung Entrepreneur? Facebook telah memfasilitasinya.

Kecepatan update di Facebook menjadi kelebihan yang lain. Beragam informasi bisa didapat di situs jejaring yang menurut saya mempunyai konsep sharing eveything ini. Bagi saya, tidak perlu terlalu memprotect diri dari Facebook. Facebook merupakan fenomena. Facebook adalah terobosan teknologi media. Filter utama tetap pada diri sendiri. Yang perlu diperhatikan adalah jangan terlalu menjadi budak dunia maya melupakan kodrat sebagai manusia sosial di lingkungan nyata. Untuk anak-anak dan remaja ada baiknya dilakukan kontrol oleh orang tua. Mereka sangat butuh interaksi sosial nyata di lingkungan nyata. Experience nyata yang tak sebatas teks, gambar dan video.

Akhir dari perspektif yang singkat ini sore itu saya tersadar dan menyimpukan bahwa Facebook memang racun tapi tidak se-racun pangsit mie lengkap dengan saos merah yang baru saja diantarkan sang penjual pada saya. Jadi, tidak perlu menolak teknologi multimedia seperti Facebook. Bergabunglah dengan kami di jamaah fesbukiyah. hyahahahahahaha..😀

asasino is just another jamaah fesbukiyah (^.^)V

Written by Johan Asa

10 April 2009 pada 9:05 pm

Ditulis dalam Uncategorized

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. “pengguna facebook berasal dari berbagai kalangan dan berbagai usia. Bayi yang baru lahir pun punya facebook. Orang jompo juga update facebook. Dosen, mahasiswa, pegawai kantoran, pegawai biasa, pengusaha, caleg dan pejabat juga ikut khusyuk dalam barisan jamaah fesbukiyah.”

    salah mas kurang satu lagi.boneka juga ikut punya fesbuk hahaha..*salut ke mas hadziq wkwkwk…

    misstyzha

    12 April 2009 at 8:54 pm

  2. FACEBOOK & IM bisa bikin orang tambah Autis, idealis, romantis, skeptis, otomatis, ekonomis, bombastissss..

    lutfiana

    15 April 2009 at 2:17 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: