Dunia dalam Asa, bukan Dunia dalam Berita

…….Selalu ada Asa, Rasa, dan Cita……..

Jam Berapa, Nak?

with 8 comments

makes_eat_timeSaya hanya mahasiswa lawas yang sok sibuk. Sering kali saya mengumpat 24 jam itu tak cukup dalam sehari. Mengumpat karena waktu 24 jam tak cukup untuk saya makan, tidur, pup, kencing, ngerjaka tugas, belajar, ngerjakan proyek dan lain sebagainya. Saya mengumpat entah untuk siapa saya juga tidak tahu. Ah, semoga Tuhan tidak marah padaku.

“Jam pinten nak?” kata wanita tua berjilbab lusuh kepada saya saat saya melintas di working area-nya. Dia bertanya dengan ekspresif. Tangan kirinya diangkat ke dada dan tangan kanannya menunjuk-nunjuk pergelangan tangan kirinya. Saya yakin betul ia tidak ingin melewatkan kesempatan mendapat informasi jam yang menurutnya sangat penting saat itu.

Saya berhenti begitu dia menyapa dengan pertanyaan. Memandangnya. Wajah yang kukenal. Suara yang kukenal. Wanita tua ini memang tidak sekali pernah menanyaiku bacaan jam yang melingkar di tanganku. Sudah beberapa kali setiap aku melintas di tempat dia bekerja. Sempat ge-er juga apa karena saya gantengan dikit yak. Ah, tapi sayangnya aku tak pernah menanyainya nama dia. Lain kali mungkin.

Mungkin bukan hanya saya orang yang ditanyainya. Mungkin setiap hari setiap waktu siang menjelang sore dia menunggu sivitas akademika kampus saya ini yang melintas didepannya. Hanya untuk ditanyai jam berapa saat ini. Mungkin dan mungkin. Saya suka memprediksi.

Setelah berhenti, saya melempar senyum padanya. lalu dengan ekspresif juga ku jawab pertanyaannya. “Jam dua kurang lima, bu,” kataku sambil memperlihatkan jam tangan titanium hasil hibah dari bapakku. Dia manggut-manggut lalu tersenyum kelihatan satu gigi palsunya yang dari logam, kurasa sewarna dengan jam tanganku. “Matur nuwun, nak,” katanya.

Saya tak berlalu begitu saja. Hari itu saya tidak terlalu terburu. Saya umbar dua, tiga pertanyaan pada wanita yang tergabung dalam korps petugas kebersihan kampus saya itu. “Badhe wangsul toh bu?” kata saya coba berbahasa jawa halus. (artinya: mau pulang bu?)

“mboten nak, mangke jam 2.30,” katanya. (artinya: tidak nak, nanti jam setengah tiga sore)

“ohh.. lha ibu kerja mulai jam berapa?” tanya saya lagi, kali ini tidak konsisten berbahasa jawa halus, karena memang tidak bisa. :p

“ya mulainya jam enam, nak. jam setengah sewelas (10.30, red) bisa istirahat terus jam satu kerja lagi,” katanya sambil dilanjutkan mencabuti rumput di sela pavingstone yang jadi tugasnya siang itu.

“ohh, lha dalemipun pundi bu?” kataku mencoba berbahasa jawa halus lagi. (artinya : rumah ibu daerah mana?)

“Keputih mriki kok nak, celak,” katanya lagi. (artinya : daerah Keputih sini kok nak, dekat)

Tak kulanjutkan interview dengan ibu itu, karena kulihat dia mulai sibuk kembali dengan rumput yang tumbuh di sela pavingstone itu. Saya segera pamit dan berlalu. Dia tersenyum lagi, terlihat satu gigi logamnya. Saya berlalu sambil tetap bertanya-tanya dalam hati. Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab.
Kenapa dia selalu menanyakan waktu saat ada orang melintas?
Apa dia rindu akan rumah?
Apakah dia rindu akan anaknya?
Apa dia tidak betah bekerja kasar?
Apa honor yang diberikan kampus ini kecil sehingga dia merasa rugi kalau overtime?
Apa karena rumput-rumput disela paving stone itu membuatnya jengkel hingga tangannya mengelupas?

ahhhhh yang jelas saya tahu dia bertanya kepada saya karena dia tidak memiliki jam tangan begitu juga teman disampingnya, partner korps kebersihannya.

***

Hari berselang. Saya kali itu duduk di suatu seminar tentang industri kreatif. Saya duduk sebagai peserta waktu itu. Salah satu pembicara sempat menyinggung masalah manajemen waktu dalam bekerja. Sang pembicara, mengutip dari rekannya, dia mengingatkan, “Bekerja itu hanyalah mengisi waktu menunggu waktu Sholat”. Pikiran saya tiba-tiba kembali ke ibu kebersihan yang haus akan informasi jam. Kembali merenung sejenak. Mungkin ibu itu hanya tak ingin dia melewatkan ibadahnya tepat waktu. Ahh malu diri ini yang selalu mengumpat 24 jam tidak cukup dalam sehari. Ahh, semoga Tuhan tidak marah padaku.

asasino just another ordinary people ^_^

Written by Johan Asa

16 April 2009 pada 6:14 am

Ditulis dalam Uncategorized

8 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. ternyata yg ditanyain ga cuman aku.haha.

    anya

    21 April 2009 at 4:11 pm

  2. mayan

    Wina Dahlan

    11 Mei 2009 at 11:44 am

  3. Bekerja itu hanyalah mengisi waktu menunggu waktu Sholat”..saya suka kata2 ini..
    hemm…iya
    based on my experiences ya, kita selalu merasa waktu 24 jam itu kurang krn kita banyak mendzolimi waktu2 kita yang lain diluar waktu kerja , misal mendzolimi waktu ibadah dan waktu untuk istirahat…
    waktu seharian lebih banyak digunakan untuk bekerja..(klo kita student , ya untuk mngerjakan kerjaan2 kampus..: Riset misalnya)
    dari pagi tiba2 udah sore, tiba2 udah malam, e tiba2 dah pagi lagi,..padahal kerjaan masih seabreg….
    nha klo udah begitu musti kita intropeksi, krn pasti kita telah mengabaikan hak dari badan dan waktu kita di sisi yang lain
    hehheh..
    just want to share
    halo Johan, gw Afny, salam kenal ya

    Nur Afny Catur Andryani

    11 Mei 2009 at 5:59 pm

  4. aku dadi ngguyu moco cerita iki, kadang aku dewe kurang bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik- baiknya. Padahal betapa berharganya waktu yang kita miliki saat ini, karena atah nanti atau besok atau lusa, waktu kita akan berakhir. Padahal kita sudah diingatkan “Demi Masa”, namun tetap saja kita kurang bisa menghargai waktu, semoga mas johan tidak demikian, dan saya kira mas johan adalah orang yang menghargai waktu, klo nggak gitu entar di marahin pak rake? kok proyeknya ndak kelar2

    ciput mardianto

    14 Mei 2009 at 8:12 pm

  5. time is money, eh bukan ding!
    time is time, halah tauk!

    lutfiana

    23 Mei 2009 at 9:34 pm

  6. bro ojo lali sholat, jamaah nang mesjid, aku nitip gado2 ya😀

    pitri

    23 Juni 2009 at 3:12 pm

  7. Hm,.. critone kok koyo wes tau ya jo? maksudnya aku dah pernah denger juga… hehe

    Choiri Setyawan

    9 Agustus 2009 at 6:10 am

  8. ˙ǝɯıʇ ǝɥʇ ןןɐ ssǝɔɔns uıɐƃ noʎ ǝdoɥ ı
    ؛spɹɐƃǝɹ ʇsǝq

    ˙ǝʇısqǝʍ ɹno oʇ oƃ uɐɔ noʎ ‘ʇuoɟ ǝnbıun puıɟ oʇ pǝǝu noʎ ɟı
    ‘ʎɐʍ ǝɥʇ ʎq

    ¡ƃoןq ǝɔıu ɐ ǝʌɐɥ noʎ
    ¡ƃuıʇǝǝɹƃ ɯɹɐʍ ¿noʎ ǝɹɐ ʍoɥ ¡oןןǝɥ

    freedownloadfont

    30 Juni 2010 at 11:27 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: