Dunia dalam Asa, bukan Dunia dalam Berita

…….Selalu ada Asa, Rasa, dan Cita……..

Archive for the ‘ceracau’ Category

Berdamai dengan Kegagalan

with 11 comments

Thomas Alfa EdisonThomas Alfa Edison

“I have not failed. I’ve just found 10000 ways that won’t work”  (Thomas A. Edison)

Quote itu menjadi begitu lekat pada saya sejak malam kemarin. Salah satunya karena semalam saya baru saja menonton film berjudul National Treasure di salah satu televisi swasta. Nah di film  yang dibintangi bang Nicholas Cage ini ada kutipan om Thomas A. Edison diatas. Dan quote-nya sempat diulangi beberapa kali di film itu baik oleh penjahat maupun oleh temennya bang Cage.

Kemudian, paginya, salah satu teman yang sedang merintis ke-konsisten-nan dalam berstatus YM juga menuliskan quote om Edison itu. Ya kawan ini memang unik atau lebih tepat  OJT yang kurang kerjaan di kantornya, dia selalu menyempatkan diri untuk pasang status online dengan quote-quote bijak dari tokoh-tokoh dunia. Jadilah quote om Edison  makin terpatri dalam ingatan saya sampai detik ini.

Menurut saya qoute ini tak sepenuhnya baik diresapi. Terlebih jika dimaknai secara dangkal. Karena kalimat itu bisa menjadi sarana berkelit yang cukup  mutakhir. Bahkan saya melihat indikasi jika pemaknaan terhadap quote ini dilakukan secara sepotong akan menimbulkan efek kemalasan dan sikap menggampangkan sesuatu.

Misalnya, seseorang yang gagal meraih nilai minimum saat ujian karena memang tidak pernah mau belajar dan malah apdet blog dimalam ujian. *seperti yang kamu lakukan sendiri saudara asasino* Jika dia dalam hati saja terbesit quote tersebut dan disamakan dengan keadaannya maka saya yakin dia adalah manusia yang super tak tahu diri. Karena dia sejatinya belum bekerja keras dan berakhir kegagalan.

Berbeda dengan Thomas A. Edison yang gagal ribuan kali membuat bola lampu. Namun itu ditempuh dengan perjuangan dan penuh perhitungan pemikiran. Meski akhirnya gagal ribuan kali, tapi sejatinya setiap dia gagal berarti dia selangkah maju untuk berhasil menciptakan bola lampu.

Siang tadi saya jumpa dengan kawan yang lain. Sama-sama menimba ilmu di Lintas Jalur Teknik Sipil. Saya jumpa dia setelah dia asistensi Tugas Akhirnya. Jujur saya iri dengan dia karena kemungkinan dia akan maju sidang tugas akhir bulan ini. Dan saya belum bisa. Dia pria yang optimis dan percaya diri.

Saya memang bukan tipe orang yang pandai menyembunyikan perasaan. Terlihat betul saya kecewa dengan diri sendiri karena tidak bisa mengejar progress tugas akhir. Kawan itu mengerti dan menghibur. Saya gagal pasti karena saya punya kesibukan yang berbeda dengan yang lain katanya.

Ya, memang saya mempunyai dua tanggung jawab pekerjaan selama kuliah ini. Di laboratorium mengerjakan beberapa proyek lab dan ikut juga mengurus media online ITS. Lagi pula semester ini saya dihadapkan dengan dua tugas besar kuliah karena sempat tidak lulus salah satu mata kuliah di semester awal. Belum lagi masih lumayan banyak kuliah yang harus diikuti.  Kalau dipikir lagi memang berat semester ini jika ditambah dengan dua pekerjaan part time itu.

Ahh, siang tadi ingin rasanya ku amini quote om Edison “I haven’t failed”. Tapi rasanya dalam diri ini menyangkal, harusnya saya bisa lebih membagi waktu sebelumnya dan saya yakin bisa saja saya lakukan jika memang saya mau konsisten. Harus saya akui saya gagal!

Setelah bertemu kawan itu, selang satu jam kemudian saya berjumpa dengan kawan yang lain. Sama mahasiswa semester akhir seperti saya. Dia tampak kecewa saat bertemu saya. Dia dicekal sekretariat jurusan karena daftar hadirnya kurang dari persyaratan. Tidak bisa ikut ujian.

Kawan saya ini kebingungan. Dia minta pendapat saya apa yang harus diperbuat. Baru saja pengajuan keringanannya ke dosen bersangkutan ditolak. Ya, memang karena pencekalan itu yang mempunyai kewenangan jurusan bukan dosen.

Saya memberi saran untuk berikan surat keterangan sakit susulan di tanggal-tanggal dia tidak masuk. Saran saya memang licik, tapi itu kan yang kebanyakan dilakukan mahasiswa. Tidak sakit, tapi ingin tidak masuk kelas. Maka terbitlah surat keterangan dokter palsu. Surat tersebut ada yang didapat dari kerabat yang dokter ada juga yang memalsu sendiri dengan aplikasi edit grafis di komputer. Ditambah printer yang makin murah tapi canggih, stempel klinik atau rumah sakit pun bisa dipalsu. Itulah sekolah di Indonesia! Keren sekali.

Kawan saya itu masih bingung. Dia berpikir sejenak menimbang-nimbang dan menerawang atur strategi. Memang ribet juga posisinya. Karena ujiannya malam hari ini. Sementara dia masih kebingungan mengurus pencekalan menjelang sore ini. Entah apa yang membuatnya baru mengurus di hari ‘H’ seperti ini.  Terus terang saya mulai kesal melihat kegalauannya yang terlambat.

“Ya sudah, ngulang semester depan saja,” potong saya akhiri lamunannya. Dia menatap wajah saya beberapa detik. Takjub agaknya. Dan sejurus kemudian menyodorkan tangannya untuk salaman. “Sip yo Jo, semester ngarep (depan, red),” katanya sambil menjabat tangan saya. Dia lalu berkata menghibur dirinya sendiri. “Ahh, Aku pancen gak isok lek mbujuki (aku memang tidak bisa klo mesti berbohong),” katanya.  EmPrettt! kataku dalam hati.

Pembaca yang budiman. Lalu apa teman saya itu layak mengucapkan quote dari om Edison? I Haven’t Failed yet! Aku tidak gagal, aku cuma tidak bisa ikut ujian akhir karena kehadiranku kurang.  Ahh.. saya pikir alasan itu tidak beralasan sama sekali. Bukannya meremehkan. Tapi kawan saya itu membolos karena kemalasannya sendiri. Pada saya dia mengakuinya. Empat minggu berturut turut tidak masuk karena malas dan beberapa masuk tapi titip absen. Menurut saya dia gagal sama seperti saya. Gagal tanpa berusaha keras semaksimal mungkin. Ya bisa saja dia lulus kalau proporsi penilaian sang dosen kecil di UAS.  Tapi rasanya di kampus ini jarang ada yang bisa lulus mata kuliah tanpa ikut ujian akhir semester.

Kawan saya ini sama seperti saya,  gagal pada kesempatan pertama dan sudah seharusnya tak boleh diulangi di kesempatan kedua. Dia dan saya harus segera menyadari tidak ada waktu untuk mengulang kegagalan sampai puluhan kali dan mengagungkan quote Edison. I Haven’t failed, because i just bla bla bla… Saya dan dia gagal dan tak boleh terulang!

Kembali teringat. Semalam setelah nonton film bang Cage. Saya mengirim text (sms) ke mantan kekasih saya. Sekilas isinya terkesan sekedar menyapa basa basi meminta didoakan karena saya besok ujian. Padahal Intinya saya ingin meminta maaf karena tepat pada malam tahun baru lalu saya agak sengal membalas textnya yang menanyakan nomor telepon teman temannya yang hilang di phonebook ponselnya *i’m soo sorry, sis*.

Yeah, malam tahun baru kemarin agaknya saya sedang sensitif. Mungkin karena ada sedikit rasa iri. *kok jadi sering kena penyakit hati gini*  Dia sudah mempunyai kekasih sedangkan saya melewatkan malam tahun baru dengan layar monitor yang dingin. – meski gak sepenuhnya dingin karena waktu itu sedang senang ada yang nemanin chattingan sampe pagi. terimaksih bule sweden 😛 –

Untuk yang kisah terakhir ini saya seharusnya berkata I haven’t failed in relationship with someone. but  I’ve just made bestfriend (dia) and a lot of  friends (temennya dia). 🙂  hahahaha tapi kedepannya tentu  gak mau dong endingnya sama. Pinginnya happy ending ever after, klo bisa kayak fairy tales.

Akhir gumaman saya ini, perlu memang kita berdamai dengan kegagalan agar tidak terpuruk menyesali. Tapi harus ingat harus bangkit setelah kegagalan. Kegagalan adalah bagian dari proses pendewasaan dan bagian proses pencapaian tujuan akhir. Dan yang lebih penting selalu berusaha berbuat sebaik mungkin. Minimalisir kegagalan! Dan itulah mungkin yang lebih tepat dinamakan berdamai dengan kegagalan. Memberi tempat sejauh – jauhnya pada kegagalan untuk menari tanpa mengganggu kita meraih sukses.

Bagaimana dengan anda? sudah siap berdamai dengan kegagalan?

*foto dicomot dari: http://mrdaniels.wordpress.com/2008/05/

Iklan

Written by Johan Asa

5 Januari 2009 at 10:49 pm

Persiapan Akhir Tahun, Tutup Kalender 2008

with 7 comments

end of 2008

end of 2008

Kalender 2008 telah menunjukkan lembar bulan ke 12. Bulan terakhir dimana dia bisa menempel dengan congkak di dinding setara dengan bingkai foto keluarga di rumah saya. Sebentar lagi dia akan ditumpuk bersama dengan koran dan kertas bekas. Awal 2009 mungkin dia sudah dibawa lari tukang rombengan langganan ibu. Selamat tingal kalender 2008, selamat datang kalender 2009.

Kalender memang hanya kalender. Penunjuk hari, bulan dan tahun di peradaban ini. Secara umum yang digunakan manusia di penjuru dunia sebagai kalender universal adalah kalender masehi. Penganut Islam mempunyai kalender tersendiri yang dikenal dengan kalender Hijriyah. Perbedaannya ada pada acuan yang dipakai pada penetapannya. Jika kalender Masehi mengacu pada peredaran matahari, kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya.

Perbedaan acuan itu salah satunya mengakibatkan perbedaan jumlah hari antara kalender masehi dan hijriah. Untuk jumlah bulan tidak ada perbedaan hanya penamaan saja yang jelas berbeda. Tapi yang jelas keduanya tetap mempunyai fungsi yang sama, sebagai penunjuk waktu.

Pada kalender Masehi yang tergantung di dinding rumah saya menunjukkan setahun terdapat 12 bulan, 365 hari. Meski selama itu pula dia menggantung di dinding rumah saya tetap saja tidak hapal gambar tiap lembar bulannya. Atau bahkan saya jarang memperhatikan gambar apa yang ditampilkan oleh percetakan untuk mempermanis tampilan. Saya suka detail, tapi entah mengapa hal detail dan nyata semacam itu saya tidak memperhatikan. Kesimpulan saya sementara saya kurang suka dengan gambarnya.

2008 tertera pada kalender saya. Dia dulu hadir menjelang akhir tahun 2007. Dia hadir tanpa saya harus merogoh kocek membelinya. Dia hadir cuma-cuma, pemberian dari perusahaan tempat kakak bekerja, kampus atau pemberian cuma-cuma dari kenalan bapak. Yang jelas si-kalender ini selalu hadir secara gratis di rumah saya.

Waktu kecil saya sampai beranggapan hanya orang bodoh yang menjual kalender di jalan dimana orang-orang akan selalu mendapatkannya gratis sepulang kerja menjelang akhir tahun. Pikir saya tidak akan laku itu kalender dijajakan di jalanan! Orang bodoh baik yang menjual dan membelinya.

Saya beranjak dewasa kemudian menyadari sedikit konspirasi terkait lembaran-lembaran kalender. Kelender sebagai sarana promosi. Kelender sebagai sarana antisipasi demo pekerja. Kalender sebagai ikatan relasi.

Sebagai contoh makna kalender dalam perusahaan. Perusahaan memberi kalender kepada pegawainya maka ada banyak benefit yang mereka dapatkan selain kerugian kas divisi pengadaan akan berkurang. Keuntungannya antara lain mengurangi gap antara pimpinan dan karyawan karena terkadang foto yang dipakai mempercantik kalender adalah foto aktifitas perusahaan dan tak lupa foto dewan direksi. Jadi otomatis muncul nuansa kekeluargaan, foto buruh bersanding dengan foto direksi meski berbeda lembaran.

Lalu, dengan memberi kalender otomatis perusahaan membuat karyawan senang karena tidak perlu membeli kalender di jalanan tadi. Hemat lima ribu dalam setahun dan karyawan akan lebih semangat bekerja karenanya! Di sisi lain sebagai sarana promosi, kalender tertempel di dinding rumah berarti satu papan iklan menempel di ratusan mungkin ribuan rumah karyawan. Dimana sangat besar possibility kalender itu dilihat orang lain yang berkunjung dirumah. Dan akhirnya mengetahui, “Ohh perusahaan ini bergerak di bidang ini.”

Kelender pemberian perusahaan juga mempertegas disiplin perusahaan. Memberi kalender berarti perusahaan menuntut pekerjanya disiplin dan tepat waktu mengenal hari dimana deadline pekerjaan. Begitu juga karyawan yang dengan kalender pemberian perusahan mereka bisa memantau kapan mereka menuntut hak kepada perusahaan. Ini Tanggal muda kah? Ini tanggal tua kah?

Akhir tahun semacam ini semua orang akan mendadak terlihat sibuk. Mahasiswa sibuk dengan tugas tugas karena tepat menjelang akhir semester. Karyawan sibuk dengan laporan pertangung jawaban, tutup buku tahunan. Pedagang juga menengok balik neraca keuangan dan perolehan selama setahun untuk mengatur strategi baru. Dan pengangguran bersiap menghadapi tahun baru dengan harapan dapat merasakan kesibukan seperti pekerja lainnya di akhir tahun.

Memasuki tahun baru tentunya setiap orang mempunyai pengharapan untuk lebih baik. Entah lebih baik finansial, lebih baik prestasi akademis, atau lancar jodoh. Semua punya resolusi yang ingin dicapai di tahun yang baru. Saya jadi ingat salah satu (kayaknya ya cuma satu) resolusi saya di penghujung 2007 adalah jodoh. Sepertinya akhir kalender 2008 ini saya harus bersiap dengan resolusi terbaru. Tentunya perihal jodoh masih termasuk didalamnya tapi juga beserta target-target penting lainnya seperti lulus dan mendapat pekerjaan dambaan saya.

Kalender saya sudah tua dan akan segera pensiun. Meski sampai postingan ini saya masih tidak tahu gambar apa yang ada di tiap halaman tapi saya berjanji sebelum menumpuknya dengan koran bekas saya akan luangkan waktu sebentar untuk melihat lembar per lembar gambar kalender 2008. Dan mungkin saat itu saya akan semakin sadar mengapa saya tidak memperhatikan detail gambar di kalender itu semasa dia menggantung di dinding. Saya angkuh, padahal saya juga tidak tahu kapan masa habis saya berdiri di dunia.  Sungguh beruntung kalender punya masa tayang yang jelas.

YA Allah Maafkan hamba-Mu yang telah menyia-nyiakan kalender, menyiakan waktu, menyiakan peluang dan kurang menghargai hidup. Dan teruntuk Kalender 2009, tak sabar saya melihat gambarmu lembar perlembar.

Written by Johan Asa

13 Desember 2008 at 12:00 pm

Ditulis dalam ceracau, opini, save_your_life

Lebaran, Mudik dan Kue

with 5 comments

Tidak terasa liburan sudah akan berakhir. Sedih? jelas. Berarti mahasiswa semester gawat seperti saya ini harus kembali pada asistensi-asistensi yang rutin yang juga menyenangkan sekali. *teknik menghibur diri sendiri. Liburan ini saya tidak kemana-mana, tidak keluar kota surabaya ini. Hanya berkutat dalam kota. Ya, saya memang tidak punya kampung halaman. Tapi bukan berarti lalu saya tidak punya cerita. Kali ini saya mau cerita tentang lebaran versi asasino.

Idul Fitri, siapa umat muslim di dunia yang tak senang menyambutnya. Di Indonesia, terutama anak kecil dan pedagang pakaian sangat gembira menyambut lebaran. Bocah-bocah gembira puasa akan berakhir dan mereka mendapat angpau. Pedagang pakaian tak kalah sumringah karena trik penjualan bernama diskon akan sangat terbukti bermanfaat. Sedangkan orang dewasa yang bukan pedagang pakaian agaknya juga gembira tapi harus sedikit berpikir ekstra untuk mengatur pengeluarannya. Jangan sampai besar pasak daripada tiang. -Ahh,pandangan asasino terlalu dangkal-

Bicara tentang lebaran, masyarakat negara ini akan akrab dengan istilah arus mudik, arus balik dan lonjakan penumpang. Mudik adalah suatu tradisi untuk melengkapi esensi lebaran, kembali ke fitri. Semua kasta di negara ini turut serta menjaga tradisi luar biasa ini. Mulai dari pengangguran, tukang jamu gendong, pegawai rendahan, pegawai tinggian, pegawai BUMN, PNS, pegawai swasta sampai saudagar minyak saat menjelang lebaran akan berpikir untuk kembali ke kampung halaman. Bertemu orang tua, keluarga kerabat dan sanak famili menjadi suatu kerinduan yang menepikan capeknya berdesakan di stasiun, kemacetan di jalan dan kocek yang terkuras karena harga tiket pesawat semakin tak masuk akal. Lebaran seakan menjadi tujuan utama setelah kerja keras setahun.

Meski saya bukan (belum) termasuk partisipan gerakan arus mudik dan arus balik, tapi secara pribadi saya memandang takjub tradisi ini. Mengesampingkan sisi pola hidup masyarakat yang mendadak superkonsumtif menjelang lebaran, bagi saya mudik merupakan parameter lebaran yang tetap asyik diikuti melalui beragam headline di surat kabar. Saya justru kuatir jika suatu saat menjelang lebaran pola diskon pedagang pakaian malah sukses diterapkan oleh jasa penyedia transportasi pengangkut mudik. Yang artinya mudik sudah bergeser trennya, sama tidak pentingnya dengan lebaran dengan baju baru. Sangat tidak seru, menurut saya, jika mudik tergantikan dengan fitur video call saja. 😦

Menonton iklan Telkom, saya sedikit lega. Operator telekomunikasi meski saling berlomba menciptakan tarif murah yang berslogan seperti “menghilangkan jarak, begitu dekat begitu nyata”, ternyata mereka tetap peduli juga dengan esensi lebaran. Lewat iklan telkom itu juga saya semakin yakin peran guru SD sangat nyata dalam menjaga tradisi lebaran. Tugas story telling seakan menjadi keharusan setelah lebaran. Salut buat guru SD! 😀

Keluarga saya juga berkumpul lebaran ini. Saling berkunjung ke rumah keluarga yang lain. Meski dalam kota, alhamdulillah tradisi saling berjabat tangan dari rumah saudara ke saudara yang lain tetap terjaga. Lalu, kakak kandung perempuan saya yang satu-satunya ini juga memperkuat suasana lebaran di keluarga dengan membuat sendiri beragam resep kue kering dan brownies kukus. Hahaha, sis, meski saya sering mencela kuemu bukan berarti saya tidak bangga denganmu. foto kue mu masuk blog sayah. hahaha 😎

tradisi sungkeman di keluarga saya setelah selesai sholat ied

tradisi sungkeman di keluarga saya setelah selesai sholat ied

full team, sekeluarga.

full team, sekeluarga.

makan makan setelah sungkeman

makan makan setelah sungkeman

D

kue sistermade. 😀

D

brownies sistermade. wujud aneh, tapi rasa paten. 😀

Akhir posting saya kali ini ijinkan saya mengucapkan, Taqoballahu Minna Waminkum. Taqobbal ya Karim. Selamat hari raya Idul Fitri 1429 H. Jaga semangat Ramadhan dalam diri kita. 😀

Written by Johan Asa

4 Oktober 2008 at 9:46 am

Ditulis dalam ceracau, piece of me

Rakyat Masih Miskin

with 2 comments

Ini tentang insiden zakat Pasuruan yang terjadi Senin (15/9) lalu.

Haji Saikon, pengusaha yang dermawan mungkin tidak pernah terpikirkan sekalipun akan ada duka dalam kegiatan sosial yang diadakannya. Mungkin malam harinya ia membayangkan wajah senang dan gembira dari warga sekitar yang menerima paket zakat darinya.

Tak lebih dari 40 ribu rupiah memang isi paket itu, tapi saya yakin warga memang sangat berharap paket itu.

Dan malam harinya, mungkin 21 orang ibu-ibu yang naas itu juga membayangkan esoknya mereka akan bergembira dengan anaknya karena mendapat paket zakat. Lumayan untuk menyambung hidup.

Rakyat masih miskin. Saling gencet mungkin lumrah, karena perut lapar. Saling injak mungkin biasa, demi paket yang tak lebih dari 40ribu rupiah yang bagi mereka permata.

tergencet

tergencet

aku mau membaca lanjutannya!

Written by Johan Asa

17 September 2008 at 12:20 am

Ditulis dalam ceracau

Menikmati Hidup

with 4 comments

Manusia mempunyai nafsu berikut akal. Nafsu ingin terpuaskan dan akal yang selalu bergeliat untuk mengantar seseorang mencapai titik puas. Kepuasan memang tidak ada habisnya. Satu kepuasan tercapai menyusul kemudian akal pikiran seakan berlomba meng-create target lain untuk dipenuhi. Nafsu memang gak ada habisnya.

Menikmati hidup saya pikir identik dengan pemuasan terhadap kebutuhan manusia. Saya pikir juga cara menikmati hidup tiap orang berbeda-beda. Apa yang seseorang lakukan dan itu dia anggap membawa pleasure padanya belum berarti membawa kesenangan juga bagi orang lain. Intinya pikir saya menikmati hidup adalah kombinasi antara nafsu seseorang dengan akal seseorang. Pribadi satu dengan lainnya berbeda cara menikmati hidup. Manusia sering kali merasakan kenikmatan hidup saat diwaktu senggangnya. Menjalankan hobinya atau menyalurkan nafsunya hingga terpuaskan.

Ada seorang kawan yang merasa sangat menikmati hidup saat melihat kesebelasan favoritnya berlaga secara langsung di stadion. Lalu, ada seorang kawan lagi yang merasa hidupnya menjadi enjoy saat dia berada dibalik layar monitor komputer yang memainkan game multiplayer. Adapula seorang juru parkir yang merasa hidup dan berbinar saat berurusan dengan pancing memancing. Saya sendiri, merasa hidup saat bisa menikmati indahnya dunia yang jauh dari segala kesibukan saya seperti duduk manis bersama sahabat  sambil menyantap kambing oven dan minum jus buah. hahahaha

Menginjak hari ke 15 berpuasa ini, saya jadi tersadar kembali. *respon saya lambat ya. hahaha* Kenikmatan hidup bukan hanya saat kita ada di waktu luang. Nikmatnya hidup bisa kita rasakan disetiap detik. Bernapas, mendengar, merasa, berpikir, semua dan semua karunia-Nya adalah nikmat hidup. Saya berpikir, nampaknya akal kita  telah dibutakan oleh nafsu. Selalu manafsirkan kenikmatan dalam tataran kepuasan pribadi.  Padahal nikmat yang sesungguhnya kita dapatkan setiap detiknya. Sudahkah kita bersyukur?

Maka dari itu, jika ada ajakan lagi dari kawan untuk menikmati hidup *saya sering terlihat gak bisa  menikmati hidup ya rek?*,  saya akan menolak dengan halus.  Akan saya bilang begini, “maaf setiap detik saya berusaha menikmati hidup tapi kalau ada makanan enak saya ikut dong.” 🙂

Written by Johan Asa

15 September 2008 at 1:44 am

Ditulis dalam ceracau, opini, piece of me

Selamat untuk Saya yang Berulang Tahun

with 8 comments

9 Agustus 1984 Tanggal lahirku. bukan 6 Agustus 1984 *nyindir orang2 yang kasih ucapan salah tanggal.

6 dan 9 memang mirip. TApi tolong jangan disatukan menjadi satu makna 69. Atau yang lebih parah yang kebalik 96, geger-gegeran lakan (punggung”an) eheheheh *gak mutu, menunjukkan saya telah semakin dewasa dan bijaksana. -yang ngerti maksudnya ngacung!?-

Saya ulang tahun ke 24 tahun. Sudah tua, semakin dekat dengan mati. 🙂

Terimakasih pada semua rekan yang telah mendoakan saya. Memberi ucapan dan doa dengan tulus serta tak lupa membubuhi dengan embel” traktiran yang membuat saya semakin yakin kalian benar2 tulus moroti saya. Baik yang lewat email, sms, telpon, dan komen di FS. saya ucapkan terimakasih sebesar-besarnya. semoga persahabatan kita ini tetap ada sampai kapanpun. *rek aku terharu

Written by Johan Asa

9 Agustus 2008 at 11:35 pm

Ditulis dalam ceracau, piece of me

Dibanding Bule Berlin dan Bule Ausie Saya Lebih Keren

with 6 comments

“orang indonesia iku kemendel,” kata Prof Rubi dalam konperensi Pers menjelang pengukuhan guru besarnya di bidang ilmu optika terpadu.

Hehehehe.. sebenarnya ini draft postingan lama, yang hampir kelupaan di upload. Konferesi persnya pun terjadi pada tanggal 22/7 lalu. daripada kelupaan trus jadi bisul mending saya cepet keluarin. ya kan?

Uhm.. saya mengawali postingan ini dengan qoute dari seorang atase pendidikan Indonesia di Berlin. Ruby atau prof Agus Rubiyanto salah satu dosen ITS yang keren, diam diam saya kagum dengan anda pak semoga saya bisa lebih keren dari anda *mau pinter_makanya belajar!. Sampeyan iku cak, arek suroboyo sing sangar, hebat tenan wes. udah udah cukup, setop cari mukanya. cak Ruby gak ngara moco (gak bakal baca, red) .

Back to the quote. Kenapa saya bisa meng-quote perkataan cak rubi? apakah saya salah seorang wartawan yang mewawancarai dia pas konferens pers? tidak, sebenarnya sih tidak. saya cuma kebetulan ada diruangan humas ITS saat konferensi pers berlangsung. Dan saat itu, saya mulai jatuh cinta pada gayanya cak rubi. waktu itu saya yang sebagai cecunguk ITS sedang main ke kantor humas untuk sekedar say hello -cari makanan gratis- sekaligus mantau jurnalis saya yang saya tugaskan untuk liputan disana.

Kutipan cak rubi itu bermaksud menyindir kita kita orang indonesia semua. Awalnya dia membicarakan mengenai teknologi optik sesuai dengan bidang ilmunya yang mengantarkannya ke gelar guru besar. Lalu, kemudian cak Ruby mengambil beberapa contoh kasus mengenai teknologi gadget. Apakah kita semua udah ngerti cara kerja gadget yang ada di sekitar kita atau bahkan yang sering kita genggam? cak Ruby saat itu nantangin wartawan yang datang untukmemberikan penjelasan bagaimana DVD player bekerja sampai bagaimana proses pengambilan gambar di kamera. Alhasil, semuanya gak tau.

Menurutnya, masyarakat Indonesia ini terlalu konsumtif, memiliki teknologi tanpa bisa menggunakannya optimal. Dan itu bisa dibilang mubadzir. “orang indonesia iku kemendel,” katanya. Dicontohkannya pada penggunaan ponsel. Orang Indonesia sangat mudah menghambur-hamburkan uang untuk ponsel serian terbaru yang bahkan diri mereka sendiri tidak bisa mengoperasikannya optimal. Atau bahkan teknologinya belum support di negara kita.

Kita semua tahu, teknologi ponsel di Indonesia selalu berkaitan dengan style dan fashion. HandPhone (HP) canggih bisa dibilang simbol kemapanan, gaul dan keliatan intelek. Mengutip dari salah seorang teman saya, tidak juga ber-blog sampai usianya yang sekian. Dia bersikukuh ingin beli PDA PHone sekon O2 Atom black yang saat itu harganya masih kisaran 2 juta. Supaya keliatan smart kalau pake HP yang ada tutul (stylus pen, red) nya,” katanya. Dan setelah teman saya kesampaian punya itu gadget, teman saya datang ke saya lagi untuk minta tolong setting wifi di atomnya. Dia sudah nyerah.

Cak Rubi saat konpers juga menceritakan kondisi masyarakat di Berlin tempat dia menjadi duta atase pendidikan. Dikatakannya, hanya pejabat pemerintahan dan pengusaha saja disana yang menggunakan ponsel canggih sekelas komunikator. Selebihnya, masyarakat lainnya banyak menggunakan HP dengan teknologi seperlunya yang mereka butuhkan. Bahkan Hp segede bata aja masih banyak yang menggunakan. Coba tengok di Indonesia, kuli bangunan aja udah pake HP 3G. Komunikator di Indonesia sudah jadi mainan anak SMP. Hebat kan. Apa kita masih negara miskin?

Hal itu, bukan berarti Jerman lebih gaptek dari Indonesia, tapi justru karena mereka melek teknologi mereka bertindak membelanjakan uang untuk gadget seperlunya. Beda dengan Indonesia, yang bahkan demi punya HP 3G seorang pelajar rela melacurkan dirinya. Gila mampyus deh. Padahal meskipun punya belum tentu dia bisa aktifkan video calling dan setting akses data internet dengan kecepatan 3.5 G HSDPA. Belum lagi tarif telepon yang masih mahal di Indonesia, bisa-bisa untuk mengisi pulsanya dia mesti moroti ortunya lagi. DAn berakhir dikutuk jadi batu. *ahh mas asa berlebihan.

Satu lagi contoh yang sata temui, seorang peneliti PBB yang kebetulan melakukan penelitian di kampus ITS bersama dosen-dosen ITS. Mr. John namanya dari australia (atau austria ya). Pernah suatu ketika saya kebetulan terlibat konfersesen dengannya. lalu disela percakapan itu ada ringtone politeknik eh monoponik yang nyaring sekali berbunyi. Si-John menggerayangi sakunya dan keluarlah nokia 3310 yang legendaris. *anjrit batinku. bule, tinggi, keren, speak english, jadi gigolo di quickie express pun pasti laku keras ehh HPnya jadul banget.

Waktu pun berlalu, saya berjumpa dengan rekan saya yang kebetulan juga membantu si-john dalam penelitian. Razzif nama rekan saya itu. Dia keliatan murung, karena diminta cari tukang servis untuk laptop bangkotan si -john. Ceritanya laptopnya john rusak. Dia juga cerita klo Hpnya john si 3310 juga mengalami hal senasib dengan laptop. rusak. Tapi yang bikin RAzzif bete, tuh bule gak mau ganti atau beli baru gadget2nya. Mintanya diservis sampe bisa. Buset. Padahal klo dipikir, dia bisa aja beli HP baru yang lebih canggih. atau beli laptop baru. Secara dia researcher yang kerja ikut PBB.

Apa yang terjadi di negeri ini, pola kehidupan konsumtif yang mubazir akan gadget membuat saya berpikir, lalu googling kemudian. Dari hasil googling, liat ICT WATCH fenomena ini bisa dibilang bagian dari rentetan kesenjangan digital (Digital Divide). Kita korban market.

Apakah anda mau tetap jadi korban dan menjadi pemakan sampah buangan teknologi dari negara maju? Mari kita lebih melek teknologi dan semakin bijak. Untuk itu saya bangga menyatakan diri lebih keren dari bule Berlin dan bule Aussie. Karena saya punya 3 HP yang telah saya gunakan optimal. Nokia 3105 CDMA untuk telpon,sms dan akses data internet CDMA. nokia 6100 untuk telpn dan sms dan akses gprs. lalu nokia 8250 yang kadang juga berfungsi untuk pengganjal buku. Saya punya 3 HP di kantong, belum tentu si bule punya 3 bukan? at end of all saya tetap keren. Yang setuju saya keren ayoo angkat kaki!

Written by Johan Asa

9 Agustus 2008 at 11:21 pm