Dunia dalam Asa, bukan Dunia dalam Berita

…….Selalu ada Asa, Rasa, dan Cita……..

Archive for the ‘journalism’ Category

Keluarga Kedua, [hopefully] Para Calon Engineer Multi Talent

with 14 comments

Oke, marilah kali ini saya memperkenalkan keluarga kedua saya. Setelah sesi lebaran lalu saya kenalkan kericuhan di keluarga pertama saya yang tak lain keluarga kandung saya. Keluarga kedua saya ada di kampus. Keluarga kedua saya adalah redaksi ITS Online yang bermarkas di lantai 6 Perpustakaan ITS.

Oke-oke mari langsung saya kenalin satu satu kode jurnalis kami,

ki-ka (atas:) st (junior reporter), nrf (junior reporter), tyz (junior reporter), az (junior reporter), asa (akuuu iki rek), han (kooordinator liputan)------ki-ka (bawah) : ap (redaktur), fn (junior reporter), mtb (senior reporter), yud (junior reporter), bah (junior reporter), fay (redaktur)"

Mungkin bagi yang membaca posting saya ini ada yang beranggapan, “Wuiik mas iki postingnya selalu lebay poll, narsis bin narji dkk.” Hehehe, ya memang. Biarin ahh memang kebelet nampilin foto. 😛 Oke lanjut saja. Begini, redaksi ITS Online udah seperti keluarga saya. Maklum, sudah terhitung empat tahun saya bergabung dengan ITS Online, semenjak kuliah di D3 sampai melanjutkan di S1. Mulai dari Junior Reporter sampai dengan wakil Pimpinan redaksi. Kru ITS Online udah kayak sodara. Tapi gak menutup kemungkinan ada yang incest ya rek. wekekekekekek. MARI DILANJOOTTTKEEN

Iklan

Written by Johan Asa

25 Oktober 2008 at 10:43 pm

Ditulis dalam journalism, prensip

Ilmu dari Seorang Arbain Rambey

leave a comment »

“Intinya, untuk sukses dalam suatu pekerjaan hati kita harus merasa enjoy tiap kali menjalankannya,” kata seorang Arbain Rambey, salah satu fotografer jurnalistik kawakan di negeri ini, saat Klinik Foto Jurnalistik, Senin (27/8) di gedung rektorat Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Itulah salah satu kutipan yang cukup menyentil saya yang saat itu duduk sebagai peserta.

Untuk diketahui kegiatan yang saya ikuti ini terselenggara atas kerjasama harian Kompas, Toyota dan Badan Eksekutif Mahasiswa ITS (BEM ITS). Harga Tiket Masuknya sangat terjangkau alias murah banget. Cuma 10 ribu dapat goody bag, copy materi, blocknote, pulpen cantik, sertifikat, roti enak dua biji. Terus yang tak kalah menarik peserta dapat brosur spesifikasi mobil Toyota Yaris. Mungkin saja ada yang mau beli atau mungkin bikin sendiri tandingannya Yaris (Haris, Baris atau Garis?! arggghhhh).

Banyak juga kejutan berupa DOORprize (hadiah kaget) oke-oke yang ditawarkan dalam kegiatan ini. Misalnya; flashdisk 1G desain cover mobil Yaris, back pack kompas, buku Geri (hahaha) Potter terbaru, dan yang paling wah adalah buku Mata Hati yang konon limited dan seharga 400rebu lebih (ada softcopy PDFnya kagak?).

Berhubung acaranya murah banget dan terselenggara di Kampus ITS yang oke banget, otomastis peminatnya banyak, alias akeh. Tapi ya ada saja oknum yang masuk nyelonong tanpa bayar dan berhak menerima semua seminar kit dan ikutan sesi materi.

Salah satu oknum itu adalah saya. Memanfaatkan status sebagai wartawan kelas teri kampus dengan bendera media resmi dibawah rektorat, sudah sangat cukup membuat saya melenggang kangkung di setiap acara yang ada kaitannya dengan ITS. Urusan jadi berita apa gak itu belakangan, yang penting duduk manis dapat ilmu. Syukur dapat nilai plus lain (dapet gebetan, dapet doorprize, dapet gebetan lagi, nambah kenalan, dll). dasar bedebah!

Awalnya sempat khawatir ditolak panitia dan harus rela merogoh 10rebu di dompet yang penuh kertas-kertas aneh. Pasalnya saya datang agak terlambat dan posisi ruangan hampur penuh. Lagipula, salah satu reporter ITS Online (media saya bernaung) sudah ada disana. Apa kata dunia kalau satu tempat dua buaya? Hmmm, jadilah saya lihat situasi dulu di luar ruangan. Dan cling! Ada Hanif, kawan saya yang juga dari di ITS Online, kebetulan dia termasuk panitia utama acara ini. Hehehe, jurus lobyng-flirting pun dilancarkan. Masuk deh dengan gratis. Hanya saja, saya tidak dapat kesempatan ikut undian doorprize, karena memang tak bertiket. dasar kriminil, otak gratisan!

Lewat kegiatan itu saya dapat beberapa ilmu yang InsyaAllah manfaat. Sebut saja, materi safety driving dari om Toyota. Meski saya belum bisa nyetir mobil tapi kan saya tiap kali juga berperan sebagai penumpang mobil, jadi harus tahu faktor-faktor yang membahayakan dari kendaraan roda empat ini. Selain itu dari om Toyota kita dapat inputan, klo bisa belilah Yaris. Hahaha memang kegiatan ini sebagian dari trik marketing dan promosi mereka. Saya paham sekali itu. Untuk sedikit berita liputan isi materinya dapat dilihat disini.

Lalu, pemateri yang saya tunggu-tunggu adalah bang Arbain sendiri. Selain mengajar how to jepret foto jurnalistik yang ciamik, dia juga membahas sekitar seratus foto yang juga tampil di buku kumpulan foto terbaik kompas (1965-2007), berjudul Mata Hati. Ahh, lagi-lagi bagian dari promosi Kompas di ranah kekuasaan JawaPos Group. Pertarungan duo media cetak raksasa.

Akan tetapi, yang paling menyentuh bagi saya, adalah saat Arbain mengatakan bahwa sebenarnya dia lulusan sarjana Teknik Sipil ITB yang dulu sebelum kepincut jurnalistik sempat mengerjakan proyek konstruksi di Papua. (sialan!) Secara saya juga calon sarjana teknik sipil ITS gitu looh (beda calon dan S saja kan?), dan juga sekarang selain kuliah toh saya juga sudah sedikit demi sedikit meminum racun jurnalistik yang memabukkan. Lalun yang akan selalu saya ingat dari klinik itu perkataan Arbain tentang bagaimana kita menghargai pekerjaan, seperti yang saya kutip di paragraph awal. Selama ini saya memang sering bimbang menentukan dimana saya berkarir (migas, engineer swasta, BUMN, bank, PNS, guru SD, juru potret, jurnalis, reporter atau mungkin juragan ikan lele?) -wekekekeke-

Selain Arbain, fotografer senior Kompas Johny TG juga hadir memberi pencerahan motret obyek otomotif. Ya, karena sesuai pesan sponsor, si-om Toyota dengan Kompas, juga membuat sayembara terbuka untuk jepreterz untuk motret mobil Yaris dengan tema Muda Yaris Photo Competition. Wuih, hadiahnya aduhai, membuat semua adem panas, ngiler ndrewes. Bayangkan, juara satu dapat kamera D80, duit 3 juta dan berlangganan Kompas setahun. Ciamik kan? mau ikutan gak? ayooo too.. melu yaa.

Berikut beberapa photo hasil jepretan saya (obyek Yaris) sesaat setelah klinik foto usai. Saya pake kamdig Canon G3 pinjeman dari mbak Indah Humas ITS yang baik. Yup, berikut hasil jepretan orang gapret (gagap jepret)!

Written by Johan Asa

31 Agustus 2007 at 11:01 am

Ditulis dalam journalism

Oleh-oleh Jalan Bareng Jagoan ITS

with one comment

POSTING kali ini sebenarnya sudah agak lama kejadiannya. Tanggal 16 – 22 Juli lalu dapat tugas mengikuti kontingen ITS berangkat ke Pimnas XX di Universitas Lampung (Unila). Disini saya bertugas menggantikan Humas ITS Mr Sukemi yang sekarang menjabat staf ahli Menkominfo, untuk melakukan liputan selama disana. Meski kejadiannya lama, tidak apa-apa deh untuk di masukkan di duniadalamasa. Itung itung nguber postingan. 🙂

Tugas kali ini cukup mendadak. H-2 menjelang keberangkatan redaksi ITSOnline baru diberi kabar dari Kemahasiswaan ITS mengenai permintaan pak Rektor mengikutsertakan wartawan ITSOnline. Yup, tak lain untuk meliput tim ITS di Unila. Dan salah satu alasan (memangnya cuma satu) mengapa mereka (rektorat, red) menunjuk ITSOnline karena pada kepemimpinan yang baru ini cukup lambat dalam menyikapi dan mengisi posisi humas yang kosong sepeninggal pak Kemi ke Jakarta. Dan untuk menunjukkan kompetensiku kubuatlah satu berita awalan ini.

Saya sendiri tidak ada masalah dengan segala hal yang mendadak. Hanya saja agak kecewa dengan birokrat. Meski saya easygoing, tapi tetap ngerti yang namanya planning pak! (ngamuk mode: on) hehehe, habise si bapak-bapak itu di meeting pertama denganku memberi informasi kalau aku diberangkatkan hari Selasa pagi naik Pesawat bareng beberapa pejabat ITS. Dalam benakku saat itu memang sewajarnya aku dinaikkan pesawat, karena disana aku bakal kerja liputan kesana kemari. Supaya gak capek gitu.

Nah, di hari Senin siang saat aku melakukan liputan pemberangkatan kontingen, yang bisa dilihat disini, barulah si-Bapak yang berwenang itu memberi kabar kalau aku harus berangkat bareng mahasiswa kontingen ITS untuk Pimnas sore itu juga naik kereta api. Mampuuusss, mana cucian (yang baru dicuci malam sebelumnya) belum kering betul dan belum disetrika. : doooh :

Seperti biasanya saya selalu mencoba ngobrol ceplas-ceplos -meski belum sepenuhnya bisa-, “lho pak katanya kemarin saya berangkat besok, naik pesawat,” kataku sambil menatap matanya.

“enggak, pak johan berangkat sore ini, supaya bisa mengikuti tim mahasiswa dari awal hingga akhir,” kata si Bapak.

“waduh, sekarang saya belum siap pakaian da packing,” kataku coba ngeles, supaya berangkat naik pesawat reekkk. Numpak sepur lak yoo kesel.

“Ya sekarang kamu kan bisa pulang. Nanti kereta berangkat jam 5an kok. Gmn siapkan?,” katanya.

“Ya sudah pak. sippp lah,” kataku singkat sambil mengangkat dua jempol (tanda pasrah). ^__^?

Belum sampai disitu pengorbanan seorang jurnalis. Dengan waktu yang serba mepet (kudu setrika, paking, mandi, B-A-B, makan dsb), datang telepon dari Mas Bekti, Pemred ITSOnline. Dikatakannya, kamera canon G3 punya humas ITS yang akan kubawa liputan di Lampung tidak ada chargernya. Dan aku mesti ambil dulu di rumah pak Kemi (yang cukup jauh dari rumahku). Yaa, memang kamera itu baru diserahkan (dipinjemkan) ITS ke ITSOnline. Wew, dan jadilah lengkap penderitaan awal keberangkatan. Berpacu mengejar waktu, mencari alamat pak kemu yang mbulet di daerah Sidoarjo. Meski KTP-ku Sidoarjo, aku lebih mengenal jalan Surabaya dari Sidoarjo. Dan akhirnya ketemu, itupun gak bisa langsung.. orang rumahnya pak kemi lupa tempat chargernya. nunggu dulu deh sambil ketar-ketir (cemas).

Dan, jadi pula berangkat naik kereta api Gumarang dari stasiun pasar Turi menuju stasiun Gambir Jakarta. Kuakui, menyenangkan jalan-jalan bareng dengan jagoan-jagoan ITS (istilah Pak Nur). Ada beberapa kejadian berkesan mengamati tingkah polah mahasiswa ITS selama perjalanan, seperti berita yang menurut saya lucu tentang dua orang mahasiswa ini.

Ini foto beberapa jagoan kampus yang akan berjuang disana.

Liputan pun dimulai. Journalist on duty…. (hasil jeprat-jepret) -maaf saya masih amatiran motretnya-

Teks Foto: Gajah Ikut Buka Pimnas.


Teks Foto: Dirjen Dikti Prof Satrio Soemantri Brojonegoro buka Pimnas


Teks Foto: Ahh, segar! Dirjen Dikti meminum sirup Mangrove karya mahasiswa ITS.


Teks Foto: Pak Sigit dari PENS ITS unjuk pamer robot ke wartawan media Lampung


-jurnalis juga butuh popularitas… jepret aku reekkkk!-

-lagi-


Selain itu juga sempat jeprat-jepret foto selain kegiatan Pimnas, berikut beberapa foto itu;

– Interest Robot Sejak Dini


– mbak Sarkam (sadar kamera). Duh, cantiknya! Dijepret di Bandara Raden Intan 2 Lampung




– Adik kecil dandanan seksi (wooopsss!) sedang menunggu sepur di Gambir

– Programmer Pelit-, ^__^ saat perjalanan pulang ke Surabaya saya bergabung dan menghabiskan waktu perjalanan saya dengan empat jagoan ITS pada lomba Apllied Programming. Busett, ternyata programmer saking seneng mikir, beli makan siang pun nawarnya sampe bikin mampus ibu penjual (liat kanan foto, ibu penjual nelangsa dibuatnya). Akhirnya dapat Nasi Goreng Rp. 6000 (setelah dirasa cukup murah dari yang lain).

– Nah, yang dibawah ini saya jadi model lagi. Dijepret di stasiun Gambir pas mau pulang oleh Hadziq sang maskot mahasiswa ITS (eh, mawapres ding) -juga salah satu tim programmer-. Dari lensa kamera ponsel Nokia seri N70-nya. trims ya Dziq!

Untuk berita hasil liputan saya selama disana, dan prestasi jagoan ITS bisa dilihat di link berikut:

  1. Stand ITS di Pimnas Lebih Dulu Berbenah

  2. Tiba di Lampung, Kontingen ITS Siap Bertanding

  3. Pimnas XX Resmi Dibuka di Lampung

  4. Dirjen Dikti Coba Sirup Mangrove

  5. Stand ITS Tampilkan Sepuluh Karya
  6. Tim ITS Mulai Berlaga
  7. Dua Poster PKM ITS Lolos ke Tahap II
  8. ITS gelar Workshop Robo Soccer
  9. Tim Programming ITS Melaju ke Final
  10. ITS Peringkat Empat di Pimnas XX

Yaaaa, perjalanan selama sepekan ini sangat menyenangkan. Bertemu banyak orang baru.

Written by Johan Asa

6 Agustus 2007 at 5:26 pm

Ditulis dalam journalism, walking around