Dunia dalam Asa, bukan Dunia dalam Berita

…….Selalu ada Asa, Rasa, dan Cita……..

Archive for the ‘nasionalism’ Category

Dibanding Bule Berlin dan Bule Ausie Saya Lebih Keren

with 6 comments

“orang indonesia iku kemendel,” kata Prof Rubi dalam konperensi Pers menjelang pengukuhan guru besarnya di bidang ilmu optika terpadu.

Hehehehe.. sebenarnya ini draft postingan lama, yang hampir kelupaan di upload. Konferesi persnya pun terjadi pada tanggal 22/7 lalu. daripada kelupaan trus jadi bisul mending saya cepet keluarin. ya kan?

Uhm.. saya mengawali postingan ini dengan qoute dari seorang atase pendidikan Indonesia di Berlin. Ruby atau prof Agus Rubiyanto salah satu dosen ITS yang keren, diam diam saya kagum dengan anda pak semoga saya bisa lebih keren dari anda *mau pinter_makanya belajar!. Sampeyan iku cak, arek suroboyo sing sangar, hebat tenan wes. udah udah cukup, setop cari mukanya. cak Ruby gak ngara moco (gak bakal baca, red) .

Back to the quote. Kenapa saya bisa meng-quote perkataan cak rubi? apakah saya salah seorang wartawan yang mewawancarai dia pas konferens pers? tidak, sebenarnya sih tidak. saya cuma kebetulan ada diruangan humas ITS saat konferensi pers berlangsung. Dan saat itu, saya mulai jatuh cinta pada gayanya cak rubi. waktu itu saya yang sebagai cecunguk ITS sedang main ke kantor humas untuk sekedar say hello -cari makanan gratis- sekaligus mantau jurnalis saya yang saya tugaskan untuk liputan disana.

Kutipan cak rubi itu bermaksud menyindir kita kita orang indonesia semua. Awalnya dia membicarakan mengenai teknologi optik sesuai dengan bidang ilmunya yang mengantarkannya ke gelar guru besar. Lalu, kemudian cak Ruby mengambil beberapa contoh kasus mengenai teknologi gadget. Apakah kita semua udah ngerti cara kerja gadget yang ada di sekitar kita atau bahkan yang sering kita genggam? cak Ruby saat itu nantangin wartawan yang datang untukmemberikan penjelasan bagaimana DVD player bekerja sampai bagaimana proses pengambilan gambar di kamera. Alhasil, semuanya gak tau.

Menurutnya, masyarakat Indonesia ini terlalu konsumtif, memiliki teknologi tanpa bisa menggunakannya optimal. Dan itu bisa dibilang mubadzir. “orang indonesia iku kemendel,” katanya. Dicontohkannya pada penggunaan ponsel. Orang Indonesia sangat mudah menghambur-hamburkan uang untuk ponsel serian terbaru yang bahkan diri mereka sendiri tidak bisa mengoperasikannya optimal. Atau bahkan teknologinya belum support di negara kita.

Kita semua tahu, teknologi ponsel di Indonesia selalu berkaitan dengan style dan fashion. HandPhone (HP) canggih bisa dibilang simbol kemapanan, gaul dan keliatan intelek. Mengutip dari salah seorang teman saya, tidak juga ber-blog sampai usianya yang sekian. Dia bersikukuh ingin beli PDA PHone sekon O2 Atom black yang saat itu harganya masih kisaran 2 juta. Supaya keliatan smart kalau pake HP yang ada tutul (stylus pen, red) nya,” katanya. Dan setelah teman saya kesampaian punya itu gadget, teman saya datang ke saya lagi untuk minta tolong setting wifi di atomnya. Dia sudah nyerah.

Cak Rubi saat konpers juga menceritakan kondisi masyarakat di Berlin tempat dia menjadi duta atase pendidikan. Dikatakannya, hanya pejabat pemerintahan dan pengusaha saja disana yang menggunakan ponsel canggih sekelas komunikator. Selebihnya, masyarakat lainnya banyak menggunakan HP dengan teknologi seperlunya yang mereka butuhkan. Bahkan Hp segede bata aja masih banyak yang menggunakan. Coba tengok di Indonesia, kuli bangunan aja udah pake HP 3G. Komunikator di Indonesia sudah jadi mainan anak SMP. Hebat kan. Apa kita masih negara miskin?

Hal itu, bukan berarti Jerman lebih gaptek dari Indonesia, tapi justru karena mereka melek teknologi mereka bertindak membelanjakan uang untuk gadget seperlunya. Beda dengan Indonesia, yang bahkan demi punya HP 3G seorang pelajar rela melacurkan dirinya. Gila mampyus deh. Padahal meskipun punya belum tentu dia bisa aktifkan video calling dan setting akses data internet dengan kecepatan 3.5 G HSDPA. Belum lagi tarif telepon yang masih mahal di Indonesia, bisa-bisa untuk mengisi pulsanya dia mesti moroti ortunya lagi. DAn berakhir dikutuk jadi batu. *ahh mas asa berlebihan.

Satu lagi contoh yang sata temui, seorang peneliti PBB yang kebetulan melakukan penelitian di kampus ITS bersama dosen-dosen ITS. Mr. John namanya dari australia (atau austria ya). Pernah suatu ketika saya kebetulan terlibat konfersesen dengannya. lalu disela percakapan itu ada ringtone politeknik eh monoponik yang nyaring sekali berbunyi. Si-John menggerayangi sakunya dan keluarlah nokia 3310 yang legendaris. *anjrit batinku. bule, tinggi, keren, speak english, jadi gigolo di quickie express pun pasti laku keras ehh HPnya jadul banget.

Waktu pun berlalu, saya berjumpa dengan rekan saya yang kebetulan juga membantu si-john dalam penelitian. Razzif nama rekan saya itu. Dia keliatan murung, karena diminta cari tukang servis untuk laptop bangkotan si -john. Ceritanya laptopnya john rusak. Dia juga cerita klo Hpnya john si 3310 juga mengalami hal senasib dengan laptop. rusak. Tapi yang bikin RAzzif bete, tuh bule gak mau ganti atau beli baru gadget2nya. Mintanya diservis sampe bisa. Buset. Padahal klo dipikir, dia bisa aja beli HP baru yang lebih canggih. atau beli laptop baru. Secara dia researcher yang kerja ikut PBB.

Apa yang terjadi di negeri ini, pola kehidupan konsumtif yang mubazir akan gadget membuat saya berpikir, lalu googling kemudian. Dari hasil googling, liat ICT WATCH fenomena ini bisa dibilang bagian dari rentetan kesenjangan digital (Digital Divide). Kita korban market.

Apakah anda mau tetap jadi korban dan menjadi pemakan sampah buangan teknologi dari negara maju? Mari kita lebih melek teknologi dan semakin bijak. Untuk itu saya bangga menyatakan diri lebih keren dari bule Berlin dan bule Aussie. Karena saya punya 3 HP yang telah saya gunakan optimal. Nokia 3105 CDMA untuk telpon,sms dan akses data internet CDMA. nokia 6100 untuk telpn dan sms dan akses gprs. lalu nokia 8250 yang kadang juga berfungsi untuk pengganjal buku. Saya punya 3 HP di kantong, belum tentu si bule punya 3 bukan? at end of all saya tetap keren. Yang setuju saya keren ayoo angkat kaki!

Written by Johan Asa

9 Agustus 2008 at 11:21 pm

Demo Kok Bakar Ban

with one comment

Temans-temans mahasiswa sekalian taukah kamu sekalian kalau ban bekas yang dibakar polusinya jauh lebih besar daripada pembakaran kayu. Dan asap hasil pembakaran ban bekas jauh lebih menyesakkan jika dihirup manusia. Apakah yang kalian maksud dengan membakar ban bekas saat berdemo?

Apa? hayooo? apaa? saya belum menemukan esensi apa yang teman teman lakukan. Terkadang temans unjuk rasa cinta lingkungan dengan bersepeda. Say no to pembakaran hutan. say no to CFC, say no to pulusi. Eh kok giliran demo kenaikan BBM yang saya tonton tadi pagi temans-temans dengan gegap gempita membakar ban bekas. Gas itu bisa kemana-mana mas. Polusi bukan seperti gula yang mudah larut di air dan enak diminum. Polusi ban bekas itu nyesakkan dada. Siapa tahu beberapa blok dari lokasi ada seorang bayi yang sedang menyyusu ke IBunya. Si ibu menghirup juga bayinya. duh!

Tadi pagi, sampai sekarang saya masih pilek. Untung saya pilek jadi saya gak bisa cium bau asap ban bekas lewat TV tadi pagi. Huuuuuuhhhhh…. Saya juga mahasiswa. Tapi gak suka bakar ban bekas.

Written by Johan Asa

22 Mei 2008 at 10:52 pm

Ditulis dalam nasionalism, save_your_life

Separatisme, Nasionalisme NKRI Diragukan

leave a comment »

TARIAN Cakalele itu membuat gempar bangsa ini. Rakyat marah. Demonstrasi terjadi, menghujat bahkan tak segan melukai siapa-siapa yang terlibat. Maluku resah. Sementara seorang mantan intelejen memaparkan kekhawatiran akan meluasnya separatisme. Lalu kemana nasionalisme? Apa membakar bendera RMS adalah kobaran dari semangat nasionalisme?

Siapa yang tidak tergelitik dengan tarian cakalele dalam acara pembukaan Hari Keluarga Nasional ke XIV di Ambon, Maluku, Jumat pagi (29/6). Sebanyak 20 orang penari sukses membuat presiden SBY yang hadir dalam acara itu geram. “Saya meminta para pelaku diusut sesuai dengan hukum yang berlaku,” kata Presiden kepada tamu yang hadir, seperti dikutip dalam tempointeraktif.com.

Setelah tarian berdurasi lima menit itu, bergulirlah berbagai wacana yang hebat. Lagi-lagi Indonesia menjadi sorotan mancanegara. Isu separatisme mencuat ke permukaan. Diskusi demi diskusi pun digelar, membahas ’hantu’ separatisme itu.

Seperti yang dilaporkan detik.com (7/7), dalam diskusi Mengungkap Eksistensi Separatisme di Menara Kebon Sirih, Hendropriyono mantan kepala BIN mengungkapkan kekhawatirannya. Hendro mengutarakan saat ini separatisme diyakini sudah semakin meluas. Papua diperkirakan bakal menjadi yang kedua terlepas dari NKRI jika pemerintah tidak segera mengatasi konflik disana. Dan lima tahun lagi tidak menutup kemungkinan Borneo lepas.

Dalam diskusi lain bertema Dibawah Bayang-Bayang Separatisme yang dihelat di Mario Place Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, (7/7) detik.com melaporkan bahwa intelejen asing dianggap mempunyai andil dalam munculnya separatisme. Rakyat Maluku dan Papua kemungkinan malah tidak mudheng dengan separatisme dan tidak menginginkannya. ”Orang Maluku sudah puas dengan Indonesia. Di Papua orang juga tidak paham dengan separatisme. Yang terjadi orang-orang tertentu di kedua daerah itu dipakai orang asing untuk kepentingan mereka,” kata mantan Kasdam Trikora Brigjen Purn Rustam Kastor, seperti dilaporkan detik.com.

Yang menjadi persoalan sekarang, mengapa bisa sampai seperti itu? Separatisme meluas. Menjadi kekhawatiran pula, benarkah hanya mereka yang di wilayah timur yang tidak tahu apa itu separatisme? Atau bahkan hampir seluruh bangsa ini sudah lupa dengan kata nasionalisme? Lebih nakal lagi, muncul pertanyaan dalam diri penulis, apa yang dimaksud dalam kutipan Rustam bahwa orang Maluku sudah puas dengan Indonesia? Lalu siapa Indonesia yang dimaksud?

Teringat pula saya dengan cuplikan sajak WS Rendra berjudul Demi Orang Orang Rangkas Bitung sebagai berikut;
Bukankah kemerdekaan yang sempurna itu
adalah kemerdekaan negara dan bangsa?
Negara anda sudah merdeka.
Tetapi apakah bangsa anda juga sudah merdeka?

Separatisme Vs Nasionalisme
Separatisme politis menurut wikipedia adalah suatu gerakan untuk mendapatkan kedaulatan dan memisahkan suatu wilayah atau kelompok manusia (biasanya kelompok dengan kesadaran nasional yang tajam) dari satu sama lain (atau suatu negara lain). Masih menurut ensiklopedia online ini, istilah ini biasanya tidak diterima para kelompok separatis sendiri karena mereka menganggapnya kasar, dan memilih istilah yang lebih netral seperti determinasi diri.

Alasan ketidakpuasan terhadap pemerintahan agaknya yang membuat beberapa daerah, dengan beberapa tokoh didalamnya membangkitkan gerakan pemisahan diri dari NKRI. Mempunyai kedaulatan sendiri, mengolah sumber daya sendiri diyakini gerakan ini dapat lebih mendatangkan kemakmuran bagi rakyatnya. Memang motivasi separatisme sebagian besar karena kepentingan politik dan ekonomi. Tapi beberapa juga ada yang muncul dengan basis religius.

Bisa jadi, gerakan-gerakan separatis yang timbul di negeri ini seperti kekhawatiran Rustam karena ditunggangi oleh kepentingan asing. Tapi pemerintah juga harus intropeksi diri. Apakah nahkoda arah perjuangan pasca kemerdekaan ini sudah sesuai dengan cita-cita nasionalisme? Tercapainya keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Jangan sampai timbul polemik keraguan identitas kebangsaan. Benar kata Rendra dalam sajaknya, ”Apakah Bangsa anda juga sudah merdeka?”

Indonesia bukan hanya milik segelintir penduduk di Pulau Jawa yang notabene adalah tempat para penguasa NKRI berada. Tapi Indonesia adalah dari sabang sampai merauke, meski sudah ada gompal di Timor Timur.

Jika sudah ada perasaan Maluku itu Indonesia, Papua itu Indonesia dan lain sebagainya di NKRI adalah Indonesia, kemudian, pemerintah menjalankan pemerintahan seadil-adilnya, niscaya, hantu yang akhir-akhir ini ditakuti tak akan muncul.

Gol dari gerakan separatisme terbukti tidak selalu membawa kebaikan bagi rakyat. Tidak usah jauh menengok, negara muda Timor Leste dalam Indeks Kegagalan Negara yang disusun Fund for Peace, sebuah organisasi penelitian independen di Washington, Timor leste berada di urutan ke-20 dalam kategori berbahaya.

Negara-negara muda yang terbentuk dari perpecahan terbukti punya kesulitan untuk tetap eksis. Dan, itu bisa menjadi pelajaran bagi bangsa ini untuk lebih menghargai suatu kesatuan dan mengerti betul nasionalisme. Salah satu cara pendekatan yang biasa digunakan untuk membangkitkan semangat nasionalis adalah dengan melacak kembali atau flashback sejarah bangsa ini sebelum mencapai kemerdekaan hingga sekarang. Mulai dari perjuangan kedaerahan, lahirnya Budi Utomo, Sumpah Pemuda, lalu Proklamasi yang menggetarkan dan sampai pada masa ini.

Akan tetapi perlu digarisbawahi, paham nasionalisme yang mendasari kesatuan bangsa hendaknya tidak dikotori dengan pemahaman sempit. Nasionalisme tidak hanya ditujukan pada pengabdian pada negara politis. Nasionalisme bukan paham yang membela mati-matian suatu negara, benar atau salah negara itu. Karena itu hanya akan menimbulkan kejahatan baru, rasialisme dan pengangkangan terhadap kemanusiaan, kebenaran dan keadilan.

Kebangkitan Nasional
Sebagai generasi penerus, diakui penulis, saat ini kata nasionalisme masih jauh diawang awang. Untuk sekadar pengertian nasionalisme sesuai dengan kamus besar bahasa Indonesia, tentu generasi muda sudah hapal betul. Nasionalisme merupakan paham atau ajaran untuk mencintai BANGSA dan NEGARA sendiri. Tapi pengertian yang sederhana tersebut agaknya sudah terkotori dan menempatkan nasionalisme sebagai suatu ideologi yang hanya dimiliki kaum elite nasionalis yang memiliki pengetahuan lebih banyak tentang terbentuknya negara ini. Dan akhirnya menjadi sebuah hal ekslusif mendukung kepentingan kelompok tertentu.

Untuk itu harus segera diluruskan, bahwa nasionalisme adalah wacana publik dan lepas dari institusi negara. Setiap orang bebas ber-ekspresi kreatif terhadap wacana nasionalisme. Sehingga demokrasi tercapai dan kemerdekaan seutuhnya milik bangsa dan negara.

Saya sangat yakin, nasionalisme tidak mati dalam jiwa bangsa ini. Hanya saja sebagian tertidur karena terlena dengan keadaan. Dibutuhkan kebangkitan semangat nasionalisme dalam tiap individu di NKRI.

Ada yang menarik dari perbincangan saya dengan pak Yono tukang sol sepatu di daerah Waru-Sidoarjo, beberapa pekan sebelum insiden tarian cakalele. Perbincangan untuk mengusir rasa bosan menunggu sepatu kets butut keluaran converse dipermak. Perbincangan yang membuka mata, wong cilik bisa menjadi sang guru bijak. Rakyat Indonesia tidak bodoh, dan sangat rindu cita-cita kemerdekaan.

Sangat sopan dan hati-hati. Sang guru itu selalu memaparkan uneg-uneg dengan ‘nuwun sewu’. Mulai dari memaparkan tentang kehidupan yang tidak dapat diterka, hingga kadaan bangsa saat ini. ”Nuwun sewu. Semua itu berasal dari pribadi masing-masing. Yen kabeh podo mboten mikirno awake dewe-dewe, saling sayang, saling dukung, Insya Allah Indonesia saget maju,” kata sang guru.

Menakjubkan! Itulah unsur yang hilang dalam NKRI, perasaan saling sayang, saling dukung dan tidak egois. Seakan kita sudah lupa bahwa tanah air kita satu Indonesia, bangsa kita satu Indonesia, dan kita berbahasa satu Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya slogan di pita yang dibawa Garuda. Tapi sebagai pengingat kita, ditengah iklim multikultural ini memang sangat rawan dengan perpecahan.

(ini opini saya yang muat di ITSOnline, 10 Mei 2007)

Written by Johan Asa

7 Agustus 2007 at 3:45 pm

Ditulis dalam nasionalism, opini