Dunia dalam Asa, bukan Dunia dalam Berita

…….Selalu ada Asa, Rasa, dan Cita……..

Archive for the ‘opini’ Category

Berdamai dengan Kegagalan

with 11 comments

Thomas Alfa EdisonThomas Alfa Edison

“I have not failed. I’ve just found 10000 ways that won’t work”  (Thomas A. Edison)

Quote itu menjadi begitu lekat pada saya sejak malam kemarin. Salah satunya karena semalam saya baru saja menonton film berjudul National Treasure di salah satu televisi swasta. Nah di film  yang dibintangi bang Nicholas Cage ini ada kutipan om Thomas A. Edison diatas. Dan quote-nya sempat diulangi beberapa kali di film itu baik oleh penjahat maupun oleh temennya bang Cage.

Kemudian, paginya, salah satu teman yang sedang merintis ke-konsisten-nan dalam berstatus YM juga menuliskan quote om Edison itu. Ya kawan ini memang unik atau lebih tepat  OJT yang kurang kerjaan di kantornya, dia selalu menyempatkan diri untuk pasang status online dengan quote-quote bijak dari tokoh-tokoh dunia. Jadilah quote om Edison  makin terpatri dalam ingatan saya sampai detik ini.

Menurut saya qoute ini tak sepenuhnya baik diresapi. Terlebih jika dimaknai secara dangkal. Karena kalimat itu bisa menjadi sarana berkelit yang cukup  mutakhir. Bahkan saya melihat indikasi jika pemaknaan terhadap quote ini dilakukan secara sepotong akan menimbulkan efek kemalasan dan sikap menggampangkan sesuatu.

Misalnya, seseorang yang gagal meraih nilai minimum saat ujian karena memang tidak pernah mau belajar dan malah apdet blog dimalam ujian. *seperti yang kamu lakukan sendiri saudara asasino* Jika dia dalam hati saja terbesit quote tersebut dan disamakan dengan keadaannya maka saya yakin dia adalah manusia yang super tak tahu diri. Karena dia sejatinya belum bekerja keras dan berakhir kegagalan.

Berbeda dengan Thomas A. Edison yang gagal ribuan kali membuat bola lampu. Namun itu ditempuh dengan perjuangan dan penuh perhitungan pemikiran. Meski akhirnya gagal ribuan kali, tapi sejatinya setiap dia gagal berarti dia selangkah maju untuk berhasil menciptakan bola lampu.

Siang tadi saya jumpa dengan kawan yang lain. Sama-sama menimba ilmu di Lintas Jalur Teknik Sipil. Saya jumpa dia setelah dia asistensi Tugas Akhirnya. Jujur saya iri dengan dia karena kemungkinan dia akan maju sidang tugas akhir bulan ini. Dan saya belum bisa. Dia pria yang optimis dan percaya diri.

Saya memang bukan tipe orang yang pandai menyembunyikan perasaan. Terlihat betul saya kecewa dengan diri sendiri karena tidak bisa mengejar progress tugas akhir. Kawan itu mengerti dan menghibur. Saya gagal pasti karena saya punya kesibukan yang berbeda dengan yang lain katanya.

Ya, memang saya mempunyai dua tanggung jawab pekerjaan selama kuliah ini. Di laboratorium mengerjakan beberapa proyek lab dan ikut juga mengurus media online ITS. Lagi pula semester ini saya dihadapkan dengan dua tugas besar kuliah karena sempat tidak lulus salah satu mata kuliah di semester awal. Belum lagi masih lumayan banyak kuliah yang harus diikuti.  Kalau dipikir lagi memang berat semester ini jika ditambah dengan dua pekerjaan part time itu.

Ahh, siang tadi ingin rasanya ku amini quote om Edison “I haven’t failed”. Tapi rasanya dalam diri ini menyangkal, harusnya saya bisa lebih membagi waktu sebelumnya dan saya yakin bisa saja saya lakukan jika memang saya mau konsisten. Harus saya akui saya gagal!

Setelah bertemu kawan itu, selang satu jam kemudian saya berjumpa dengan kawan yang lain. Sama mahasiswa semester akhir seperti saya. Dia tampak kecewa saat bertemu saya. Dia dicekal sekretariat jurusan karena daftar hadirnya kurang dari persyaratan. Tidak bisa ikut ujian.

Kawan saya ini kebingungan. Dia minta pendapat saya apa yang harus diperbuat. Baru saja pengajuan keringanannya ke dosen bersangkutan ditolak. Ya, memang karena pencekalan itu yang mempunyai kewenangan jurusan bukan dosen.

Saya memberi saran untuk berikan surat keterangan sakit susulan di tanggal-tanggal dia tidak masuk. Saran saya memang licik, tapi itu kan yang kebanyakan dilakukan mahasiswa. Tidak sakit, tapi ingin tidak masuk kelas. Maka terbitlah surat keterangan dokter palsu. Surat tersebut ada yang didapat dari kerabat yang dokter ada juga yang memalsu sendiri dengan aplikasi edit grafis di komputer. Ditambah printer yang makin murah tapi canggih, stempel klinik atau rumah sakit pun bisa dipalsu. Itulah sekolah di Indonesia! Keren sekali.

Kawan saya itu masih bingung. Dia berpikir sejenak menimbang-nimbang dan menerawang atur strategi. Memang ribet juga posisinya. Karena ujiannya malam hari ini. Sementara dia masih kebingungan mengurus pencekalan menjelang sore ini. Entah apa yang membuatnya baru mengurus di hari ‘H’ seperti ini.  Terus terang saya mulai kesal melihat kegalauannya yang terlambat.

“Ya sudah, ngulang semester depan saja,” potong saya akhiri lamunannya. Dia menatap wajah saya beberapa detik. Takjub agaknya. Dan sejurus kemudian menyodorkan tangannya untuk salaman. “Sip yo Jo, semester ngarep (depan, red),” katanya sambil menjabat tangan saya. Dia lalu berkata menghibur dirinya sendiri. “Ahh, Aku pancen gak isok lek mbujuki (aku memang tidak bisa klo mesti berbohong),” katanya.  EmPrettt! kataku dalam hati.

Pembaca yang budiman. Lalu apa teman saya itu layak mengucapkan quote dari om Edison? I Haven’t Failed yet! Aku tidak gagal, aku cuma tidak bisa ikut ujian akhir karena kehadiranku kurang.  Ahh.. saya pikir alasan itu tidak beralasan sama sekali. Bukannya meremehkan. Tapi kawan saya itu membolos karena kemalasannya sendiri. Pada saya dia mengakuinya. Empat minggu berturut turut tidak masuk karena malas dan beberapa masuk tapi titip absen. Menurut saya dia gagal sama seperti saya. Gagal tanpa berusaha keras semaksimal mungkin. Ya bisa saja dia lulus kalau proporsi penilaian sang dosen kecil di UAS.  Tapi rasanya di kampus ini jarang ada yang bisa lulus mata kuliah tanpa ikut ujian akhir semester.

Kawan saya ini sama seperti saya,  gagal pada kesempatan pertama dan sudah seharusnya tak boleh diulangi di kesempatan kedua. Dia dan saya harus segera menyadari tidak ada waktu untuk mengulang kegagalan sampai puluhan kali dan mengagungkan quote Edison. I Haven’t failed, because i just bla bla bla… Saya dan dia gagal dan tak boleh terulang!

Kembali teringat. Semalam setelah nonton film bang Cage. Saya mengirim text (sms) ke mantan kekasih saya. Sekilas isinya terkesan sekedar menyapa basa basi meminta didoakan karena saya besok ujian. Padahal Intinya saya ingin meminta maaf karena tepat pada malam tahun baru lalu saya agak sengal membalas textnya yang menanyakan nomor telepon teman temannya yang hilang di phonebook ponselnya *i’m soo sorry, sis*.

Yeah, malam tahun baru kemarin agaknya saya sedang sensitif. Mungkin karena ada sedikit rasa iri. *kok jadi sering kena penyakit hati gini*  Dia sudah mempunyai kekasih sedangkan saya melewatkan malam tahun baru dengan layar monitor yang dingin. – meski gak sepenuhnya dingin karena waktu itu sedang senang ada yang nemanin chattingan sampe pagi. terimaksih bule sweden 😛 –

Untuk yang kisah terakhir ini saya seharusnya berkata I haven’t failed in relationship with someone. but  I’ve just made bestfriend (dia) and a lot of  friends (temennya dia). 🙂  hahahaha tapi kedepannya tentu  gak mau dong endingnya sama. Pinginnya happy ending ever after, klo bisa kayak fairy tales.

Akhir gumaman saya ini, perlu memang kita berdamai dengan kegagalan agar tidak terpuruk menyesali. Tapi harus ingat harus bangkit setelah kegagalan. Kegagalan adalah bagian dari proses pendewasaan dan bagian proses pencapaian tujuan akhir. Dan yang lebih penting selalu berusaha berbuat sebaik mungkin. Minimalisir kegagalan! Dan itulah mungkin yang lebih tepat dinamakan berdamai dengan kegagalan. Memberi tempat sejauh – jauhnya pada kegagalan untuk menari tanpa mengganggu kita meraih sukses.

Bagaimana dengan anda? sudah siap berdamai dengan kegagalan?

*foto dicomot dari: http://mrdaniels.wordpress.com/2008/05/

Written by Johan Asa

5 Januari 2009 at 10:49 pm

Persiapan Akhir Tahun, Tutup Kalender 2008

with 7 comments

end of 2008

end of 2008

Kalender 2008 telah menunjukkan lembar bulan ke 12. Bulan terakhir dimana dia bisa menempel dengan congkak di dinding setara dengan bingkai foto keluarga di rumah saya. Sebentar lagi dia akan ditumpuk bersama dengan koran dan kertas bekas. Awal 2009 mungkin dia sudah dibawa lari tukang rombengan langganan ibu. Selamat tingal kalender 2008, selamat datang kalender 2009.

Kalender memang hanya kalender. Penunjuk hari, bulan dan tahun di peradaban ini. Secara umum yang digunakan manusia di penjuru dunia sebagai kalender universal adalah kalender masehi. Penganut Islam mempunyai kalender tersendiri yang dikenal dengan kalender Hijriyah. Perbedaannya ada pada acuan yang dipakai pada penetapannya. Jika kalender Masehi mengacu pada peredaran matahari, kalender Islam menggunakan peredaran bulan sebagai acuannya.

Perbedaan acuan itu salah satunya mengakibatkan perbedaan jumlah hari antara kalender masehi dan hijriah. Untuk jumlah bulan tidak ada perbedaan hanya penamaan saja yang jelas berbeda. Tapi yang jelas keduanya tetap mempunyai fungsi yang sama, sebagai penunjuk waktu.

Pada kalender Masehi yang tergantung di dinding rumah saya menunjukkan setahun terdapat 12 bulan, 365 hari. Meski selama itu pula dia menggantung di dinding rumah saya tetap saja tidak hapal gambar tiap lembar bulannya. Atau bahkan saya jarang memperhatikan gambar apa yang ditampilkan oleh percetakan untuk mempermanis tampilan. Saya suka detail, tapi entah mengapa hal detail dan nyata semacam itu saya tidak memperhatikan. Kesimpulan saya sementara saya kurang suka dengan gambarnya.

2008 tertera pada kalender saya. Dia dulu hadir menjelang akhir tahun 2007. Dia hadir tanpa saya harus merogoh kocek membelinya. Dia hadir cuma-cuma, pemberian dari perusahaan tempat kakak bekerja, kampus atau pemberian cuma-cuma dari kenalan bapak. Yang jelas si-kalender ini selalu hadir secara gratis di rumah saya.

Waktu kecil saya sampai beranggapan hanya orang bodoh yang menjual kalender di jalan dimana orang-orang akan selalu mendapatkannya gratis sepulang kerja menjelang akhir tahun. Pikir saya tidak akan laku itu kalender dijajakan di jalanan! Orang bodoh baik yang menjual dan membelinya.

Saya beranjak dewasa kemudian menyadari sedikit konspirasi terkait lembaran-lembaran kalender. Kelender sebagai sarana promosi. Kelender sebagai sarana antisipasi demo pekerja. Kalender sebagai ikatan relasi.

Sebagai contoh makna kalender dalam perusahaan. Perusahaan memberi kalender kepada pegawainya maka ada banyak benefit yang mereka dapatkan selain kerugian kas divisi pengadaan akan berkurang. Keuntungannya antara lain mengurangi gap antara pimpinan dan karyawan karena terkadang foto yang dipakai mempercantik kalender adalah foto aktifitas perusahaan dan tak lupa foto dewan direksi. Jadi otomatis muncul nuansa kekeluargaan, foto buruh bersanding dengan foto direksi meski berbeda lembaran.

Lalu, dengan memberi kalender otomatis perusahaan membuat karyawan senang karena tidak perlu membeli kalender di jalanan tadi. Hemat lima ribu dalam setahun dan karyawan akan lebih semangat bekerja karenanya! Di sisi lain sebagai sarana promosi, kalender tertempel di dinding rumah berarti satu papan iklan menempel di ratusan mungkin ribuan rumah karyawan. Dimana sangat besar possibility kalender itu dilihat orang lain yang berkunjung dirumah. Dan akhirnya mengetahui, “Ohh perusahaan ini bergerak di bidang ini.”

Kelender pemberian perusahaan juga mempertegas disiplin perusahaan. Memberi kalender berarti perusahaan menuntut pekerjanya disiplin dan tepat waktu mengenal hari dimana deadline pekerjaan. Begitu juga karyawan yang dengan kalender pemberian perusahan mereka bisa memantau kapan mereka menuntut hak kepada perusahaan. Ini Tanggal muda kah? Ini tanggal tua kah?

Akhir tahun semacam ini semua orang akan mendadak terlihat sibuk. Mahasiswa sibuk dengan tugas tugas karena tepat menjelang akhir semester. Karyawan sibuk dengan laporan pertangung jawaban, tutup buku tahunan. Pedagang juga menengok balik neraca keuangan dan perolehan selama setahun untuk mengatur strategi baru. Dan pengangguran bersiap menghadapi tahun baru dengan harapan dapat merasakan kesibukan seperti pekerja lainnya di akhir tahun.

Memasuki tahun baru tentunya setiap orang mempunyai pengharapan untuk lebih baik. Entah lebih baik finansial, lebih baik prestasi akademis, atau lancar jodoh. Semua punya resolusi yang ingin dicapai di tahun yang baru. Saya jadi ingat salah satu (kayaknya ya cuma satu) resolusi saya di penghujung 2007 adalah jodoh. Sepertinya akhir kalender 2008 ini saya harus bersiap dengan resolusi terbaru. Tentunya perihal jodoh masih termasuk didalamnya tapi juga beserta target-target penting lainnya seperti lulus dan mendapat pekerjaan dambaan saya.

Kalender saya sudah tua dan akan segera pensiun. Meski sampai postingan ini saya masih tidak tahu gambar apa yang ada di tiap halaman tapi saya berjanji sebelum menumpuknya dengan koran bekas saya akan luangkan waktu sebentar untuk melihat lembar per lembar gambar kalender 2008. Dan mungkin saat itu saya akan semakin sadar mengapa saya tidak memperhatikan detail gambar di kalender itu semasa dia menggantung di dinding. Saya angkuh, padahal saya juga tidak tahu kapan masa habis saya berdiri di dunia.  Sungguh beruntung kalender punya masa tayang yang jelas.

YA Allah Maafkan hamba-Mu yang telah menyia-nyiakan kalender, menyiakan waktu, menyiakan peluang dan kurang menghargai hidup. Dan teruntuk Kalender 2009, tak sabar saya melihat gambarmu lembar perlembar.

Written by Johan Asa

13 Desember 2008 at 12:00 pm

Ditulis dalam ceracau, opini, save_your_life

Menikmati Hidup

with 4 comments

Manusia mempunyai nafsu berikut akal. Nafsu ingin terpuaskan dan akal yang selalu bergeliat untuk mengantar seseorang mencapai titik puas. Kepuasan memang tidak ada habisnya. Satu kepuasan tercapai menyusul kemudian akal pikiran seakan berlomba meng-create target lain untuk dipenuhi. Nafsu memang gak ada habisnya.

Menikmati hidup saya pikir identik dengan pemuasan terhadap kebutuhan manusia. Saya pikir juga cara menikmati hidup tiap orang berbeda-beda. Apa yang seseorang lakukan dan itu dia anggap membawa pleasure padanya belum berarti membawa kesenangan juga bagi orang lain. Intinya pikir saya menikmati hidup adalah kombinasi antara nafsu seseorang dengan akal seseorang. Pribadi satu dengan lainnya berbeda cara menikmati hidup. Manusia sering kali merasakan kenikmatan hidup saat diwaktu senggangnya. Menjalankan hobinya atau menyalurkan nafsunya hingga terpuaskan.

Ada seorang kawan yang merasa sangat menikmati hidup saat melihat kesebelasan favoritnya berlaga secara langsung di stadion. Lalu, ada seorang kawan lagi yang merasa hidupnya menjadi enjoy saat dia berada dibalik layar monitor komputer yang memainkan game multiplayer. Adapula seorang juru parkir yang merasa hidup dan berbinar saat berurusan dengan pancing memancing. Saya sendiri, merasa hidup saat bisa menikmati indahnya dunia yang jauh dari segala kesibukan saya seperti duduk manis bersama sahabat  sambil menyantap kambing oven dan minum jus buah. hahahaha

Menginjak hari ke 15 berpuasa ini, saya jadi tersadar kembali. *respon saya lambat ya. hahaha* Kenikmatan hidup bukan hanya saat kita ada di waktu luang. Nikmatnya hidup bisa kita rasakan disetiap detik. Bernapas, mendengar, merasa, berpikir, semua dan semua karunia-Nya adalah nikmat hidup. Saya berpikir, nampaknya akal kita  telah dibutakan oleh nafsu. Selalu manafsirkan kenikmatan dalam tataran kepuasan pribadi.  Padahal nikmat yang sesungguhnya kita dapatkan setiap detiknya. Sudahkah kita bersyukur?

Maka dari itu, jika ada ajakan lagi dari kawan untuk menikmati hidup *saya sering terlihat gak bisa  menikmati hidup ya rek?*,  saya akan menolak dengan halus.  Akan saya bilang begini, “maaf setiap detik saya berusaha menikmati hidup tapi kalau ada makanan enak saya ikut dong.” 🙂

Written by Johan Asa

15 September 2008 at 1:44 am

Ditulis dalam ceracau, opini, piece of me

Internet Semua Ada

with one comment

Dunia Nyata, Dunia Gaib, Dunia Maya (Cyber). Mungkin saat ini begitulah pembagian ranah dunia. Dunia nyata untuk makhluk2 kasar seperti manusia, dunia gaib dihuni oleh makhluk halus, sedangkan dunia maya diisi oleh imigran kedua dunia sebelumnya. Dunia maya menjadi tempat pertengahan pertemuan antara kasar dan lembut. Dunia Maya kerap kali membuat makhluk kasar terlena.

Dunia Maya, internet, sangat luas. Kiranya tak terbatas. Berupa-rupa. Kebaikan dan keburukan tumplek blek nyaris tanpa saringan. Makhluk dunia Nyata yang kerap keblinger dengan yang ditawarkan dunia Maya. Mungkin juga karena terhasut makhluk dunia halus. Ahh siapa yang tahu.

Situs porno, ajakan ikut aliran sesat, kekerasan, sampai sarana menjual keperjakaan ada. Apalagi menjual keperawanan, Baca entri selengkapnya »

Written by Johan Asa

20 Mei 2008 at 6:28 pm

Ditulis dalam go-blog, opini, save_your_life

Separatisme, Nasionalisme NKRI Diragukan

leave a comment »

TARIAN Cakalele itu membuat gempar bangsa ini. Rakyat marah. Demonstrasi terjadi, menghujat bahkan tak segan melukai siapa-siapa yang terlibat. Maluku resah. Sementara seorang mantan intelejen memaparkan kekhawatiran akan meluasnya separatisme. Lalu kemana nasionalisme? Apa membakar bendera RMS adalah kobaran dari semangat nasionalisme?

Siapa yang tidak tergelitik dengan tarian cakalele dalam acara pembukaan Hari Keluarga Nasional ke XIV di Ambon, Maluku, Jumat pagi (29/6). Sebanyak 20 orang penari sukses membuat presiden SBY yang hadir dalam acara itu geram. “Saya meminta para pelaku diusut sesuai dengan hukum yang berlaku,” kata Presiden kepada tamu yang hadir, seperti dikutip dalam tempointeraktif.com.

Setelah tarian berdurasi lima menit itu, bergulirlah berbagai wacana yang hebat. Lagi-lagi Indonesia menjadi sorotan mancanegara. Isu separatisme mencuat ke permukaan. Diskusi demi diskusi pun digelar, membahas ’hantu’ separatisme itu.

Seperti yang dilaporkan detik.com (7/7), dalam diskusi Mengungkap Eksistensi Separatisme di Menara Kebon Sirih, Hendropriyono mantan kepala BIN mengungkapkan kekhawatirannya. Hendro mengutarakan saat ini separatisme diyakini sudah semakin meluas. Papua diperkirakan bakal menjadi yang kedua terlepas dari NKRI jika pemerintah tidak segera mengatasi konflik disana. Dan lima tahun lagi tidak menutup kemungkinan Borneo lepas.

Dalam diskusi lain bertema Dibawah Bayang-Bayang Separatisme yang dihelat di Mario Place Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, (7/7) detik.com melaporkan bahwa intelejen asing dianggap mempunyai andil dalam munculnya separatisme. Rakyat Maluku dan Papua kemungkinan malah tidak mudheng dengan separatisme dan tidak menginginkannya. ”Orang Maluku sudah puas dengan Indonesia. Di Papua orang juga tidak paham dengan separatisme. Yang terjadi orang-orang tertentu di kedua daerah itu dipakai orang asing untuk kepentingan mereka,” kata mantan Kasdam Trikora Brigjen Purn Rustam Kastor, seperti dilaporkan detik.com.

Yang menjadi persoalan sekarang, mengapa bisa sampai seperti itu? Separatisme meluas. Menjadi kekhawatiran pula, benarkah hanya mereka yang di wilayah timur yang tidak tahu apa itu separatisme? Atau bahkan hampir seluruh bangsa ini sudah lupa dengan kata nasionalisme? Lebih nakal lagi, muncul pertanyaan dalam diri penulis, apa yang dimaksud dalam kutipan Rustam bahwa orang Maluku sudah puas dengan Indonesia? Lalu siapa Indonesia yang dimaksud?

Teringat pula saya dengan cuplikan sajak WS Rendra berjudul Demi Orang Orang Rangkas Bitung sebagai berikut;
Bukankah kemerdekaan yang sempurna itu
adalah kemerdekaan negara dan bangsa?
Negara anda sudah merdeka.
Tetapi apakah bangsa anda juga sudah merdeka?

Separatisme Vs Nasionalisme
Separatisme politis menurut wikipedia adalah suatu gerakan untuk mendapatkan kedaulatan dan memisahkan suatu wilayah atau kelompok manusia (biasanya kelompok dengan kesadaran nasional yang tajam) dari satu sama lain (atau suatu negara lain). Masih menurut ensiklopedia online ini, istilah ini biasanya tidak diterima para kelompok separatis sendiri karena mereka menganggapnya kasar, dan memilih istilah yang lebih netral seperti determinasi diri.

Alasan ketidakpuasan terhadap pemerintahan agaknya yang membuat beberapa daerah, dengan beberapa tokoh didalamnya membangkitkan gerakan pemisahan diri dari NKRI. Mempunyai kedaulatan sendiri, mengolah sumber daya sendiri diyakini gerakan ini dapat lebih mendatangkan kemakmuran bagi rakyatnya. Memang motivasi separatisme sebagian besar karena kepentingan politik dan ekonomi. Tapi beberapa juga ada yang muncul dengan basis religius.

Bisa jadi, gerakan-gerakan separatis yang timbul di negeri ini seperti kekhawatiran Rustam karena ditunggangi oleh kepentingan asing. Tapi pemerintah juga harus intropeksi diri. Apakah nahkoda arah perjuangan pasca kemerdekaan ini sudah sesuai dengan cita-cita nasionalisme? Tercapainya keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Jangan sampai timbul polemik keraguan identitas kebangsaan. Benar kata Rendra dalam sajaknya, ”Apakah Bangsa anda juga sudah merdeka?”

Indonesia bukan hanya milik segelintir penduduk di Pulau Jawa yang notabene adalah tempat para penguasa NKRI berada. Tapi Indonesia adalah dari sabang sampai merauke, meski sudah ada gompal di Timor Timur.

Jika sudah ada perasaan Maluku itu Indonesia, Papua itu Indonesia dan lain sebagainya di NKRI adalah Indonesia, kemudian, pemerintah menjalankan pemerintahan seadil-adilnya, niscaya, hantu yang akhir-akhir ini ditakuti tak akan muncul.

Gol dari gerakan separatisme terbukti tidak selalu membawa kebaikan bagi rakyat. Tidak usah jauh menengok, negara muda Timor Leste dalam Indeks Kegagalan Negara yang disusun Fund for Peace, sebuah organisasi penelitian independen di Washington, Timor leste berada di urutan ke-20 dalam kategori berbahaya.

Negara-negara muda yang terbentuk dari perpecahan terbukti punya kesulitan untuk tetap eksis. Dan, itu bisa menjadi pelajaran bagi bangsa ini untuk lebih menghargai suatu kesatuan dan mengerti betul nasionalisme. Salah satu cara pendekatan yang biasa digunakan untuk membangkitkan semangat nasionalis adalah dengan melacak kembali atau flashback sejarah bangsa ini sebelum mencapai kemerdekaan hingga sekarang. Mulai dari perjuangan kedaerahan, lahirnya Budi Utomo, Sumpah Pemuda, lalu Proklamasi yang menggetarkan dan sampai pada masa ini.

Akan tetapi perlu digarisbawahi, paham nasionalisme yang mendasari kesatuan bangsa hendaknya tidak dikotori dengan pemahaman sempit. Nasionalisme tidak hanya ditujukan pada pengabdian pada negara politis. Nasionalisme bukan paham yang membela mati-matian suatu negara, benar atau salah negara itu. Karena itu hanya akan menimbulkan kejahatan baru, rasialisme dan pengangkangan terhadap kemanusiaan, kebenaran dan keadilan.

Kebangkitan Nasional
Sebagai generasi penerus, diakui penulis, saat ini kata nasionalisme masih jauh diawang awang. Untuk sekadar pengertian nasionalisme sesuai dengan kamus besar bahasa Indonesia, tentu generasi muda sudah hapal betul. Nasionalisme merupakan paham atau ajaran untuk mencintai BANGSA dan NEGARA sendiri. Tapi pengertian yang sederhana tersebut agaknya sudah terkotori dan menempatkan nasionalisme sebagai suatu ideologi yang hanya dimiliki kaum elite nasionalis yang memiliki pengetahuan lebih banyak tentang terbentuknya negara ini. Dan akhirnya menjadi sebuah hal ekslusif mendukung kepentingan kelompok tertentu.

Untuk itu harus segera diluruskan, bahwa nasionalisme adalah wacana publik dan lepas dari institusi negara. Setiap orang bebas ber-ekspresi kreatif terhadap wacana nasionalisme. Sehingga demokrasi tercapai dan kemerdekaan seutuhnya milik bangsa dan negara.

Saya sangat yakin, nasionalisme tidak mati dalam jiwa bangsa ini. Hanya saja sebagian tertidur karena terlena dengan keadaan. Dibutuhkan kebangkitan semangat nasionalisme dalam tiap individu di NKRI.

Ada yang menarik dari perbincangan saya dengan pak Yono tukang sol sepatu di daerah Waru-Sidoarjo, beberapa pekan sebelum insiden tarian cakalele. Perbincangan untuk mengusir rasa bosan menunggu sepatu kets butut keluaran converse dipermak. Perbincangan yang membuka mata, wong cilik bisa menjadi sang guru bijak. Rakyat Indonesia tidak bodoh, dan sangat rindu cita-cita kemerdekaan.

Sangat sopan dan hati-hati. Sang guru itu selalu memaparkan uneg-uneg dengan ‘nuwun sewu’. Mulai dari memaparkan tentang kehidupan yang tidak dapat diterka, hingga kadaan bangsa saat ini. ”Nuwun sewu. Semua itu berasal dari pribadi masing-masing. Yen kabeh podo mboten mikirno awake dewe-dewe, saling sayang, saling dukung, Insya Allah Indonesia saget maju,” kata sang guru.

Menakjubkan! Itulah unsur yang hilang dalam NKRI, perasaan saling sayang, saling dukung dan tidak egois. Seakan kita sudah lupa bahwa tanah air kita satu Indonesia, bangsa kita satu Indonesia, dan kita berbahasa satu Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya slogan di pita yang dibawa Garuda. Tapi sebagai pengingat kita, ditengah iklim multikultural ini memang sangat rawan dengan perpecahan.

(ini opini saya yang muat di ITSOnline, 10 Mei 2007)

Written by Johan Asa

7 Agustus 2007 at 3:45 pm

Ditulis dalam nasionalism, opini

Mimpi Bolang akan Rimba Nusantara

leave a comment »

WAJAR jika manusia memimpikan suatu hal. Bisa saja harapan dalam mimpi itu terwujud kenyataan, atau bisa juga hanya sebatas mimpi yang tak kesampaian. Di sini penulis berusaha mengungkapkan kegalauan, pemikiran dengan semangat berlebih tentang mewujudkan mimpi. Kata orang semua berawal dari mimpi. Mari bermimpi sebuah petualangan di alam rimba Indonesia. Sedikit ruwet, tapi itulah mimpi.

Pernah melihat acara televisi berjudul Bocah Petualang (Bolang)? Ya, acara ini memang disuguhkan salah satu televisi swasta. Tayangan berdurasi singkat sekitar 30 menit itu menceritakan petualangan anak-anak bermain di alam bebas. Melihat aksi Bolang; berenang, memancing ataupun memainkan permainan tradisional sambil tertawa ceria, sangat memikat. Termasuk saya, berani memberi rating tinggi, secara personal, dan menempatkannya sebagai acara wajib tonton kala santap siang. Dan itu tak lain karena, Bolang membawa virus mimpi. Mimpi akan petualangan.

Memasuki hutan, menyusuri sungai dan menombak ikan memang aktivitas yang ada diangan-angan kita, yang kebanyakan hidup didunia serba modern, sibuk dengan hirukpikuk kota metropolitan. Orang seperti kita mungkin harus puas hanya dengan Bolang yang masih mengumbar mimpi dan harapan akan petualangannya.

Ya, karena manusia semakin jauh dari peradaban serba natural. Kita memang dikepung dengan modernisasi. Namun dirasa akan semakin jauh dan jauh mewujudkan mimpi itu …..

Hingga kabar yang menyedihan, buyarkan semua mimpi, dicoreng muka bangsa Indonesia. Seperti yang dilansir Jawa Pos 4 Mei 2007 lalu, berita di halaman depan yang berjudul RI Masuk Rekor Dunia Negara Perusak Hutan. Berita yang disajikan lengkap dengan grafis bar chart tingkat kerusakan hutan ini membuat miris dengan posisi pertama barchart di pegang Indonesia yang dikenal dengan negri elok nan permai.

Data yang dilansir FAO, Global Forest Resources Assestment itu menunjukkan betapa parahnya hutan di Indonesia, dengan laju penggundulan hutan 1.8 juta hektar per tahun dan tingkat kehancuran hutan 2 persen per tahun. Mengerikan!

Rencana Guiness World Record memasukkan Indonesia sebagai negara tingkat kehancuran hutan tinggi berdasarkan data temuan yang dipublikasikan FAO memang menuai protes, terutama dari instansi terkait Republik kita. Departemen Luar Negeri, seperti yang dilansir Kompas 5 Mei 2007, mempertanyakan keabsahan data FAO.

Senada dengan Deplu, Departemen Kehutanan RI yang seakan tidak rela areal kerjanya disinggung, dengan mengatakan FAO tidak adil dalam penilaian dan semata-mata ingin menjelekkan Indonesia dimata Internasional. Luar biasa protes pemerintahan RI, sampai juru bicara Deplu RI, Kristiarto Legowo berani mengkritik balik negara maju yang lebih dulu memberangus hutan melalui gempita revolusi industri.

Luar biasa berani pemerintah kita mempertahankan aib yang memang nyata ada agar tidak banyak orang tahu. Meski entah penonton (rakyat) harus berpihak pendapat yang mana. Ya, semua terkait pertentangan kepentingan, pertentangan data perhitungan tabulasi yang kebanyakan penonton awam. Meskipun sudah cukup banyak organisasi bertema Lingkungan Hidup berkoar ”Save our Forest, Save your Life”, namun tetap saja banyak penonton awam.

Tinggalkan masa lalu
Modernisasi seakan lupa asal-usulnya, membabi-buta babad moyangnya (primitif). Semua yang harus cepat, hemat dan menguntungkan tak hiraukan jerit pohon yang ditebas demi perluasan pabrik, yang katanya juga untuk kesejahteraan, kurangi pengangguran. Cukup puas juga saya terbawa mimpi oleh novel berjudul Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer, dimana menyebutkan keberadaan harimau kumbang berbulu mengkilat seperti baja, di daerah Tulangan Sidoarjo.

Sayang, macan kumbang itu tak akan pernah saya jumpai. Macan Jawa tinggal sejarah. Dikisahkan Toer, zaman itu galak-galaknya sistem tanam paksa. Tebu menjadi komoditi menjanjikan, pribumi pun ditindas. Sawah ladang disulap jadi perkebunan tebu, dengan sewa rendah. Begitu pula hutan-hutan di tanah Jawa tempat tinggal raja rimba, diberangus, demi manisnya gula.

Itulah kisah-kisah peninggalan kepulan mesin uap bertajuk revolusi industri. Ekspansi besar-besaran bangsa maju (yang sudah dapat mengarungi samudra) untuk mencari bahan baku industri jugalah yang mengantarkan negeri berjulukan Zamrud Khatulistiwa ini pada kepedihan zaman kolonial.

Trend baru berlomba-lomba menjadi penemu alat-alat modern untuk memudahkan pekerjaan, semakin mempercepat hilang ingatan manusia pada sahabat karibnya alam. Memang belum ada di zaman itu penelitian berbasis ramah lingkungan. Bahkan bisa dipastikan belum terpikir kesana. Semua yang mengeluarkan asap itu modern! Itu hebat!

Memang berani sikap pemerintahan RI mengkritik FAO berdasarkan data dan sejarah (revolusi industri). Tapi hal tersebut tidaklah pantas dan emosional. Bisa jadi hanya protes segelintir saja, karena merekalah yang punya data dan hapal betul akan sejarah. Lalu mana yang lain? Pro FAO kah, supaya RI bisa menjajal indahnya memegang rekor dunia?

Tinggalkan masa lalu, anggap sejarah. Maksudnya disini, jangan biarkan hutan menunggu kesakitan melihat tiap harinya, sementara sibuk bercuap pertahankan gengsi. Konsentrasi berusaha mencari penyembuhan dan pengobatan lebih baik daripada meratap keluh bukan. Kalaupun borok tak dapat sembuh total kembali sedia awal, kiranya sudah berhasil memperlambat infeksi ke organ yang lain. Kepunahan mungkin, kepunahan umat manusia jika terlambat.

Wujudkan mimpi
Menyelamatkan hutan Indonesia dari kehancuran memang bukanlah hal yang mudah. Hutan Indonesia yang jutaan hektar telah terlanjur di-cap internasional sebagai paru-paru dunia. Jika boleh berandai mengerikan, seperti menyelamatkan raksasa baik hati yang telah digerogoti penyakit kronis. Dokter dari spesies manusia tak tahu mulai dari mana menancapkan jarum suntiknya. Jarum pun tak mampu menembus kulit raksasa yang alot karena zaman.

Kata orang, semua berawal dari mimpi. Butuh manusia-manusia yang selalu rindu akan petualangan Bolang. Dibutuhkan gelombang generasi penyelamat! -sengaja tidak disebut generasi penerus. karena penulis khawatir justru meneruskan kerusakan yang ada-, ditengah maraknya ajakan gaya hidup konsumtif yang dipaparkan media dan minimnya ajakan penuh untuk sayangi lingkungan.

Selama ini sudah banyak sekali sekolah-sekolah dasar mengajarkan muridnya untuk menyayangi alam, dengan disertai kegiatan outbond menanam bibit pohon. Tapi nyatanya tak berhasil meresap, pelajaran menanam pohon seakan hanya diperuntukkan untuk bocah SD dan hobiis tanaman. Untuk saat seperti ini, sangat butuh aksi dari pemerintah, segenap lembaga terkait dan masyarakat menampilkan ajakan secara serentak menyelamatkan hutan ini.

Masih banyak orang awam akan bencana global yang lebih parah jika kerusakan terus berlanjut. Selama ini masyarakat hanya tahu hutan gundul mengakibatkan; longsor, banjir, dan kekeringan. Lalu apa pula global warming (Pemanasan Global)? Banyak yang tak tahu.

Penyebab gundulnya hutan di negeri ini ada tiga hal utama. Yakni illegal logging, legal loging dan kebakaran hutan. Kehancuran hutan yang tinggi ini juga memberikan dampak pada sumbangan emisi gas rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global. Pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi (disadur dari Wikipedia). Salah satu efek pemanasan global, kenaikan permukaan laut, yang berarti tenggelamnya daratan.

Memang tak cukup hanya ajakan. Semua dituntut pro aktif. Terlebih pemerintah harus sangat fight. Diharapkan pemerintah tidak hanya membuat peraturan dan keputusan terkait masalah ini. Pemerintah memang saat ini telah berkomitmen memberantas ilegal logging dan melakukan gerakan rehabilitasi hutan.

Tapi hal itu belum lah nyata terbukti berhasil, masih banyak kasus ilegal logging yang terjadi dan kerusakan hutan makin bertambah. Sangat perlu saat ini pemerintah bertindak tegas terhadap perusahaan industri kayu yang sudah tidak layak operasi. Tegas dalam hal ini menutup industri yang tidak layak. Telah diketahui, laju produksi alam untuk memenuhi kebutuhan industri kayu sangatlah lambat. Tak sebanding dengan laju produksi industri kayu menghasilkan produk, sehingga masih terjadilah penebangan liar.

Ijin penebangan hutan yang diberikan pemerintah kepada Industri juga perlu dikaji ulang. Tak perlu, saat krisis hutan seperti ini, pemerintah mengeluarkan ijin baru lagi. Pemberlakuan moratorium logging (jeda penebangan hutan) yang saat ini ramai digembar-gemborkan aktifis lingkungan hidup, pemerintah harus segera melakukannya.

Peran pemerintah dalam proyek kebangkitan hutan Indonesia ini, tentunya juga harus didukung semua individu. Jika perlu buat agenda nasional dimana dimulainya langkah baru dan serius atasi masalah ini. Bisa jadi pula hari itu menjadi hari kebangkitan hutan nasional yang akan dikenang sepanjang sejarah Indonesia.

Ya, kepada semua individu mari mulailah bermimpi, lalu bangkit tanam bibit. Bayangkan penerusmu kelak riang bergelayot ala Bolang memakan buah di pohon hasil bibit itu. Sekarang, selamat merintis sebagai individu generasi penyelamat!

(ini opini saya yang muat di ITSOnline, 16 Mei 2007)

Written by Johan Asa

7 Agustus 2007 at 2:34 pm

Ditulis dalam opini, save_your_life