Dunia dalam Asa, bukan Dunia dalam Berita

…….Selalu ada Asa, Rasa, dan Cita……..

Archive for the ‘piece of me’ Category

Berdamai dengan Kegagalan

with 11 comments

Thomas Alfa EdisonThomas Alfa Edison

“I have not failed. I’ve just found 10000 ways that won’t work”  (Thomas A. Edison)

Quote itu menjadi begitu lekat pada saya sejak malam kemarin. Salah satunya karena semalam saya baru saja menonton film berjudul National Treasure di salah satu televisi swasta. Nah di film  yang dibintangi bang Nicholas Cage ini ada kutipan om Thomas A. Edison diatas. Dan quote-nya sempat diulangi beberapa kali di film itu baik oleh penjahat maupun oleh temennya bang Cage.

Kemudian, paginya, salah satu teman yang sedang merintis ke-konsisten-nan dalam berstatus YM juga menuliskan quote om Edison itu. Ya kawan ini memang unik atau lebih tepat  OJT yang kurang kerjaan di kantornya, dia selalu menyempatkan diri untuk pasang status online dengan quote-quote bijak dari tokoh-tokoh dunia. Jadilah quote om Edison  makin terpatri dalam ingatan saya sampai detik ini.

Menurut saya qoute ini tak sepenuhnya baik diresapi. Terlebih jika dimaknai secara dangkal. Karena kalimat itu bisa menjadi sarana berkelit yang cukup  mutakhir. Bahkan saya melihat indikasi jika pemaknaan terhadap quote ini dilakukan secara sepotong akan menimbulkan efek kemalasan dan sikap menggampangkan sesuatu.

Misalnya, seseorang yang gagal meraih nilai minimum saat ujian karena memang tidak pernah mau belajar dan malah apdet blog dimalam ujian. *seperti yang kamu lakukan sendiri saudara asasino* Jika dia dalam hati saja terbesit quote tersebut dan disamakan dengan keadaannya maka saya yakin dia adalah manusia yang super tak tahu diri. Karena dia sejatinya belum bekerja keras dan berakhir kegagalan.

Berbeda dengan Thomas A. Edison yang gagal ribuan kali membuat bola lampu. Namun itu ditempuh dengan perjuangan dan penuh perhitungan pemikiran. Meski akhirnya gagal ribuan kali, tapi sejatinya setiap dia gagal berarti dia selangkah maju untuk berhasil menciptakan bola lampu.

Siang tadi saya jumpa dengan kawan yang lain. Sama-sama menimba ilmu di Lintas Jalur Teknik Sipil. Saya jumpa dia setelah dia asistensi Tugas Akhirnya. Jujur saya iri dengan dia karena kemungkinan dia akan maju sidang tugas akhir bulan ini. Dan saya belum bisa. Dia pria yang optimis dan percaya diri.

Saya memang bukan tipe orang yang pandai menyembunyikan perasaan. Terlihat betul saya kecewa dengan diri sendiri karena tidak bisa mengejar progress tugas akhir. Kawan itu mengerti dan menghibur. Saya gagal pasti karena saya punya kesibukan yang berbeda dengan yang lain katanya.

Ya, memang saya mempunyai dua tanggung jawab pekerjaan selama kuliah ini. Di laboratorium mengerjakan beberapa proyek lab dan ikut juga mengurus media online ITS. Lagi pula semester ini saya dihadapkan dengan dua tugas besar kuliah karena sempat tidak lulus salah satu mata kuliah di semester awal. Belum lagi masih lumayan banyak kuliah yang harus diikuti.  Kalau dipikir lagi memang berat semester ini jika ditambah dengan dua pekerjaan part time itu.

Ahh, siang tadi ingin rasanya ku amini quote om Edison “I haven’t failed”. Tapi rasanya dalam diri ini menyangkal, harusnya saya bisa lebih membagi waktu sebelumnya dan saya yakin bisa saja saya lakukan jika memang saya mau konsisten. Harus saya akui saya gagal!

Setelah bertemu kawan itu, selang satu jam kemudian saya berjumpa dengan kawan yang lain. Sama mahasiswa semester akhir seperti saya. Dia tampak kecewa saat bertemu saya. Dia dicekal sekretariat jurusan karena daftar hadirnya kurang dari persyaratan. Tidak bisa ikut ujian.

Kawan saya ini kebingungan. Dia minta pendapat saya apa yang harus diperbuat. Baru saja pengajuan keringanannya ke dosen bersangkutan ditolak. Ya, memang karena pencekalan itu yang mempunyai kewenangan jurusan bukan dosen.

Saya memberi saran untuk berikan surat keterangan sakit susulan di tanggal-tanggal dia tidak masuk. Saran saya memang licik, tapi itu kan yang kebanyakan dilakukan mahasiswa. Tidak sakit, tapi ingin tidak masuk kelas. Maka terbitlah surat keterangan dokter palsu. Surat tersebut ada yang didapat dari kerabat yang dokter ada juga yang memalsu sendiri dengan aplikasi edit grafis di komputer. Ditambah printer yang makin murah tapi canggih, stempel klinik atau rumah sakit pun bisa dipalsu. Itulah sekolah di Indonesia! Keren sekali.

Kawan saya itu masih bingung. Dia berpikir sejenak menimbang-nimbang dan menerawang atur strategi. Memang ribet juga posisinya. Karena ujiannya malam hari ini. Sementara dia masih kebingungan mengurus pencekalan menjelang sore ini. Entah apa yang membuatnya baru mengurus di hari ‘H’ seperti ini.  Terus terang saya mulai kesal melihat kegalauannya yang terlambat.

“Ya sudah, ngulang semester depan saja,” potong saya akhiri lamunannya. Dia menatap wajah saya beberapa detik. Takjub agaknya. Dan sejurus kemudian menyodorkan tangannya untuk salaman. “Sip yo Jo, semester ngarep (depan, red),” katanya sambil menjabat tangan saya. Dia lalu berkata menghibur dirinya sendiri. “Ahh, Aku pancen gak isok lek mbujuki (aku memang tidak bisa klo mesti berbohong),” katanya.  EmPrettt! kataku dalam hati.

Pembaca yang budiman. Lalu apa teman saya itu layak mengucapkan quote dari om Edison? I Haven’t Failed yet! Aku tidak gagal, aku cuma tidak bisa ikut ujian akhir karena kehadiranku kurang.  Ahh.. saya pikir alasan itu tidak beralasan sama sekali. Bukannya meremehkan. Tapi kawan saya itu membolos karena kemalasannya sendiri. Pada saya dia mengakuinya. Empat minggu berturut turut tidak masuk karena malas dan beberapa masuk tapi titip absen. Menurut saya dia gagal sama seperti saya. Gagal tanpa berusaha keras semaksimal mungkin. Ya bisa saja dia lulus kalau proporsi penilaian sang dosen kecil di UAS.  Tapi rasanya di kampus ini jarang ada yang bisa lulus mata kuliah tanpa ikut ujian akhir semester.

Kawan saya ini sama seperti saya,  gagal pada kesempatan pertama dan sudah seharusnya tak boleh diulangi di kesempatan kedua. Dia dan saya harus segera menyadari tidak ada waktu untuk mengulang kegagalan sampai puluhan kali dan mengagungkan quote Edison. I Haven’t failed, because i just bla bla bla… Saya dan dia gagal dan tak boleh terulang!

Kembali teringat. Semalam setelah nonton film bang Cage. Saya mengirim text (sms) ke mantan kekasih saya. Sekilas isinya terkesan sekedar menyapa basa basi meminta didoakan karena saya besok ujian. Padahal Intinya saya ingin meminta maaf karena tepat pada malam tahun baru lalu saya agak sengal membalas textnya yang menanyakan nomor telepon teman temannya yang hilang di phonebook ponselnya *i’m soo sorry, sis*.

Yeah, malam tahun baru kemarin agaknya saya sedang sensitif. Mungkin karena ada sedikit rasa iri. *kok jadi sering kena penyakit hati gini*  Dia sudah mempunyai kekasih sedangkan saya melewatkan malam tahun baru dengan layar monitor yang dingin. – meski gak sepenuhnya dingin karena waktu itu sedang senang ada yang nemanin chattingan sampe pagi. terimaksih bule sweden 😛 –

Untuk yang kisah terakhir ini saya seharusnya berkata I haven’t failed in relationship with someone. but  I’ve just made bestfriend (dia) and a lot of  friends (temennya dia). 🙂  hahahaha tapi kedepannya tentu  gak mau dong endingnya sama. Pinginnya happy ending ever after, klo bisa kayak fairy tales.

Akhir gumaman saya ini, perlu memang kita berdamai dengan kegagalan agar tidak terpuruk menyesali. Tapi harus ingat harus bangkit setelah kegagalan. Kegagalan adalah bagian dari proses pendewasaan dan bagian proses pencapaian tujuan akhir. Dan yang lebih penting selalu berusaha berbuat sebaik mungkin. Minimalisir kegagalan! Dan itulah mungkin yang lebih tepat dinamakan berdamai dengan kegagalan. Memberi tempat sejauh – jauhnya pada kegagalan untuk menari tanpa mengganggu kita meraih sukses.

Bagaimana dengan anda? sudah siap berdamai dengan kegagalan?

*foto dicomot dari: http://mrdaniels.wordpress.com/2008/05/

Iklan

Written by Johan Asa

5 Januari 2009 at 10:49 pm

Lebaran, Mudik dan Kue

with 5 comments

Tidak terasa liburan sudah akan berakhir. Sedih? jelas. Berarti mahasiswa semester gawat seperti saya ini harus kembali pada asistensi-asistensi yang rutin yang juga menyenangkan sekali. *teknik menghibur diri sendiri. Liburan ini saya tidak kemana-mana, tidak keluar kota surabaya ini. Hanya berkutat dalam kota. Ya, saya memang tidak punya kampung halaman. Tapi bukan berarti lalu saya tidak punya cerita. Kali ini saya mau cerita tentang lebaran versi asasino.

Idul Fitri, siapa umat muslim di dunia yang tak senang menyambutnya. Di Indonesia, terutama anak kecil dan pedagang pakaian sangat gembira menyambut lebaran. Bocah-bocah gembira puasa akan berakhir dan mereka mendapat angpau. Pedagang pakaian tak kalah sumringah karena trik penjualan bernama diskon akan sangat terbukti bermanfaat. Sedangkan orang dewasa yang bukan pedagang pakaian agaknya juga gembira tapi harus sedikit berpikir ekstra untuk mengatur pengeluarannya. Jangan sampai besar pasak daripada tiang. -Ahh,pandangan asasino terlalu dangkal-

Bicara tentang lebaran, masyarakat negara ini akan akrab dengan istilah arus mudik, arus balik dan lonjakan penumpang. Mudik adalah suatu tradisi untuk melengkapi esensi lebaran, kembali ke fitri. Semua kasta di negara ini turut serta menjaga tradisi luar biasa ini. Mulai dari pengangguran, tukang jamu gendong, pegawai rendahan, pegawai tinggian, pegawai BUMN, PNS, pegawai swasta sampai saudagar minyak saat menjelang lebaran akan berpikir untuk kembali ke kampung halaman. Bertemu orang tua, keluarga kerabat dan sanak famili menjadi suatu kerinduan yang menepikan capeknya berdesakan di stasiun, kemacetan di jalan dan kocek yang terkuras karena harga tiket pesawat semakin tak masuk akal. Lebaran seakan menjadi tujuan utama setelah kerja keras setahun.

Meski saya bukan (belum) termasuk partisipan gerakan arus mudik dan arus balik, tapi secara pribadi saya memandang takjub tradisi ini. Mengesampingkan sisi pola hidup masyarakat yang mendadak superkonsumtif menjelang lebaran, bagi saya mudik merupakan parameter lebaran yang tetap asyik diikuti melalui beragam headline di surat kabar. Saya justru kuatir jika suatu saat menjelang lebaran pola diskon pedagang pakaian malah sukses diterapkan oleh jasa penyedia transportasi pengangkut mudik. Yang artinya mudik sudah bergeser trennya, sama tidak pentingnya dengan lebaran dengan baju baru. Sangat tidak seru, menurut saya, jika mudik tergantikan dengan fitur video call saja. 😦

Menonton iklan Telkom, saya sedikit lega. Operator telekomunikasi meski saling berlomba menciptakan tarif murah yang berslogan seperti “menghilangkan jarak, begitu dekat begitu nyata”, ternyata mereka tetap peduli juga dengan esensi lebaran. Lewat iklan telkom itu juga saya semakin yakin peran guru SD sangat nyata dalam menjaga tradisi lebaran. Tugas story telling seakan menjadi keharusan setelah lebaran. Salut buat guru SD! 😀

Keluarga saya juga berkumpul lebaran ini. Saling berkunjung ke rumah keluarga yang lain. Meski dalam kota, alhamdulillah tradisi saling berjabat tangan dari rumah saudara ke saudara yang lain tetap terjaga. Lalu, kakak kandung perempuan saya yang satu-satunya ini juga memperkuat suasana lebaran di keluarga dengan membuat sendiri beragam resep kue kering dan brownies kukus. Hahaha, sis, meski saya sering mencela kuemu bukan berarti saya tidak bangga denganmu. foto kue mu masuk blog sayah. hahaha 😎

tradisi sungkeman di keluarga saya setelah selesai sholat ied

tradisi sungkeman di keluarga saya setelah selesai sholat ied

full team, sekeluarga.

full team, sekeluarga.

makan makan setelah sungkeman

makan makan setelah sungkeman

D

kue sistermade. 😀

D

brownies sistermade. wujud aneh, tapi rasa paten. 😀

Akhir posting saya kali ini ijinkan saya mengucapkan, Taqoballahu Minna Waminkum. Taqobbal ya Karim. Selamat hari raya Idul Fitri 1429 H. Jaga semangat Ramadhan dalam diri kita. 😀

Written by Johan Asa

4 Oktober 2008 at 9:46 am

Ditulis dalam ceracau, piece of me

Mangrove dan Satpam

with 3 comments

Tanaman mangrove penting adanya. hmm ada yang belum pernah melihat mangrove dari dekat? Bapak Satpam baik hatinya. Ada yang belum pernah kena semprot mereka?

Selasa pagi (30/1), hari terakhir berpuasa dibulan penuh berkah ini, saya mengawali hari dengan suka cita tanpa mbangkong (baca: oversleep) di tempat tidur. Kenapa? karena adik saya yang dudul ini punya janji dengan seorang petani tambak di daerah Tambak Oso, waru. Dan kenapa adik saya yang dudul itu yang berjanji nge-date kok membuat saya tidak mbangkong? karena saya mau nebeng ke kampus sekalian foto-foto ditambak.Lalu kenapa dengan pak satpam? bentar dulu ahh sabar.

Masih Senin pagi, saya mandi pagi-pagi supaya bisa bareng adik saya yang dudul itu. Lalu berangkatlah kami ke Tambak Oso, untuk bertemu si-bapak yang dikejar kejar adik saya selama beberapa hari ini untuk tanda tangannya. Bukan karena terkenal atau artis petambak masa kini. Tapi itu bapak, merupakan ketua dari petani tambak yang mau adik saya ajak kong kalikong (baca: kerjasama) dalam program kreatifitas mahasiswa (PKM) bidang pengabdian masyarakat. Saya akui, adik saya yang dudul itu tidak dudul sekali melainkan sedikit hiperaktif. 😀

Setelah cukup sukses dengan PKM bidang kewirausahaannya mengenai pembuatan sirup apple mangrove dan menjadi wakil ITS di Pimnas XII di Semarang. Dia bersama teman-temannya kembali berniat mengikuti program serupa tapi untuk bidang pengabdian masyarakat. Singkat kata, bentuk kongkalikong mereka dengan bapak petani tambak itu nantinya, mungkin, berupa program pelatihan pembuatan sirup mangrove pada masyarakat petani tambak di Tambak Oso yang nantinya diharapkan meningkatkan taraf hidup petani tambak. Sekaligus melestarikan tanaman bakau tentunya. Saya pikir itu baru mahasiswa, down to earth dan bermanfaat.

Perjumpaan kami dengan bapak yang hanya mengenakan sarung saat menemui kami itu cukup singkat. Tapi meski singkat cukup membuat adik saya senang karena si Bapak akhirnya menyerahkan surat perjanjian kerjasama yang telah dia tandatangani. Tapi ciri khas anak muda yang gak pernah cepet puas dapat melekat pada pikiran adik saya yang dudul ini. Dia memancing si-Bapak yang belum mengenakan selembar kaos kutang itu untuk mengantarkan ke Tambaknya, demi dokumentasi foto. Tapi meski ajakan tak kentara dengan bahasa kromo halus telah dilancarkannya tak membuat bapak itu mengiyakan. Rupanya si bapak yang masih bersarung kotak-kotak itu ingin kembali menunaikan ibadah tidurnya. Kami lalu pergi ke Tambak terdekat sendiri dan membiarkan si Bapak kembali tidur. Tambak si bapak itu memang lebih jauh letaknya. Dan mungkin lebih menjanjikan rimbunnya tanaman mangrove.

Di tambak terdekat kami sedikit foto-foto tanaman mangrove. Foto-fotonya seperti ini.

mangrove 1

mangrove 1

mangrove lagi sampai satpam

Written by Johan Asa

1 Oktober 2008 at 1:47 am

Ditulis dalam piece of me, walking around

Asasino Hari Ini: Lima Kebahagiaan

with 4 comments

Hari ini saya cukup bahagia. 😦 ahahahaha 😀 *kebahagiaan yang gak jelas

Pertama yang membuat bahagia, hari ini adalah Senin dan saya semakin mengerti bahwa selama seminggu lalu progress Tugas Akhir saya jalan ditempat dan nyaris tiarap. Padahal setiap hari saya ketemu dosen pembimbing saya di lab. ya Tuhan. 😕

Kedua, hari ini masih Senin, minggu ini tugas-tugas melimpah ruah menunggu untuk dipanen bapak ibu dosen. Sementara saya sebagai buruh tani mahasiswa mengerjakan semuanya terseok seok. omaigat. 😥

Ketiga, masih di hari Senin ini, saya dapat kabar dari redaktur pelaksana saya per telepon, mbak Indah namanya, katanya percetakan majalah tiba-tiba menelpon minta bahan cetak segera dikirim hari ini klo tidak mereka gak janji bisa selesai tepat waktu. *percetakan macam apa ini, ganti jadwal mendadak! bego! 😦 Sedangkan naskah dari tim saya belum masuk semua! oh iya ini terkait majalah ITSPoint edisi wisuda oktober. sebenarnya cetak ulang dari edisi bulan lalu tapi ada tambahan iklan baru dan tambahan dua halaman baru liputan sosok mahasiswa cumlaude. ohohoho

Keempat, di Senin yang Indah ini masih dapat kabar dari mbak Indah via YM, katanya rektor punya ide brilian untuk merangsang semangat para professor untuk melakukan penelitian. ITS dapat dana 2 trilyun atau Milyar *pokoknya dapet banyak. dananya untuk penelitian. Kata rektor cara merangsang keaktifan profesor meneliti adalah dengan membuat tulisan terkini tentang penelitian professor di ITS. Jadi professor saling berlomba meneliti. Untuk diketahui ada 73 profesor di ITS, dan rektor minta 2 pemberitaan ttg itu tiap minggu untuk ditampilkan di website. Dan itu artinya, tim saya harus kerja kerja lebih keras. 🙄

Kelima, hari ini, saya gak ada kerjaan di lab, proyek lagi sepi. Cuma pagi tadi diminta prof Raka betulin soal untuk quiz mata kuliahnya. Setelah itu ngangur, tapi saya tetep gak bisa cabut, saya jagain anak kepala lab saya, Dr Endah. Dia sedang mengajar. Anaknya lucu, Farros namanya. Anak laki-laki masih usia anak SD kelas 1. Wew tapi yang bikin saya suka, dia anak yang cerdas. Hahaha secara anaknya dosen, trah unggulan. 😛 dan juga Farros pernah tinggal di England nemenin ibunya ambil doktor. Sejauh pengalaman saya, anak yag pernah tinggal di luar negeri saat kecil cenderung aktif dan cerdas. Sampai siang saya bermain dengan Farros sambil mengerjakan tugas kuliah. 😀

Sekian asasino hari ini. Semoga dapat saya ambil hikmahnya.

Written by Johan Asa

15 September 2008 at 3:48 pm

Ditulis dalam go-blog, piece of me

Menikmati Hidup

with 4 comments

Manusia mempunyai nafsu berikut akal. Nafsu ingin terpuaskan dan akal yang selalu bergeliat untuk mengantar seseorang mencapai titik puas. Kepuasan memang tidak ada habisnya. Satu kepuasan tercapai menyusul kemudian akal pikiran seakan berlomba meng-create target lain untuk dipenuhi. Nafsu memang gak ada habisnya.

Menikmati hidup saya pikir identik dengan pemuasan terhadap kebutuhan manusia. Saya pikir juga cara menikmati hidup tiap orang berbeda-beda. Apa yang seseorang lakukan dan itu dia anggap membawa pleasure padanya belum berarti membawa kesenangan juga bagi orang lain. Intinya pikir saya menikmati hidup adalah kombinasi antara nafsu seseorang dengan akal seseorang. Pribadi satu dengan lainnya berbeda cara menikmati hidup. Manusia sering kali merasakan kenikmatan hidup saat diwaktu senggangnya. Menjalankan hobinya atau menyalurkan nafsunya hingga terpuaskan.

Ada seorang kawan yang merasa sangat menikmati hidup saat melihat kesebelasan favoritnya berlaga secara langsung di stadion. Lalu, ada seorang kawan lagi yang merasa hidupnya menjadi enjoy saat dia berada dibalik layar monitor komputer yang memainkan game multiplayer. Adapula seorang juru parkir yang merasa hidup dan berbinar saat berurusan dengan pancing memancing. Saya sendiri, merasa hidup saat bisa menikmati indahnya dunia yang jauh dari segala kesibukan saya seperti duduk manis bersama sahabat  sambil menyantap kambing oven dan minum jus buah. hahahaha

Menginjak hari ke 15 berpuasa ini, saya jadi tersadar kembali. *respon saya lambat ya. hahaha* Kenikmatan hidup bukan hanya saat kita ada di waktu luang. Nikmatnya hidup bisa kita rasakan disetiap detik. Bernapas, mendengar, merasa, berpikir, semua dan semua karunia-Nya adalah nikmat hidup. Saya berpikir, nampaknya akal kita  telah dibutakan oleh nafsu. Selalu manafsirkan kenikmatan dalam tataran kepuasan pribadi.  Padahal nikmat yang sesungguhnya kita dapatkan setiap detiknya. Sudahkah kita bersyukur?

Maka dari itu, jika ada ajakan lagi dari kawan untuk menikmati hidup *saya sering terlihat gak bisa  menikmati hidup ya rek?*,  saya akan menolak dengan halus.  Akan saya bilang begini, “maaf setiap detik saya berusaha menikmati hidup tapi kalau ada makanan enak saya ikut dong.” 🙂

Written by Johan Asa

15 September 2008 at 1:44 am

Ditulis dalam ceracau, opini, piece of me

Selamat untuk Saya yang Berulang Tahun

with 8 comments

9 Agustus 1984 Tanggal lahirku. bukan 6 Agustus 1984 *nyindir orang2 yang kasih ucapan salah tanggal.

6 dan 9 memang mirip. TApi tolong jangan disatukan menjadi satu makna 69. Atau yang lebih parah yang kebalik 96, geger-gegeran lakan (punggung”an) eheheheh *gak mutu, menunjukkan saya telah semakin dewasa dan bijaksana. -yang ngerti maksudnya ngacung!?-

Saya ulang tahun ke 24 tahun. Sudah tua, semakin dekat dengan mati. 🙂

Terimakasih pada semua rekan yang telah mendoakan saya. Memberi ucapan dan doa dengan tulus serta tak lupa membubuhi dengan embel” traktiran yang membuat saya semakin yakin kalian benar2 tulus moroti saya. Baik yang lewat email, sms, telpon, dan komen di FS. saya ucapkan terimakasih sebesar-besarnya. semoga persahabatan kita ini tetap ada sampai kapanpun. *rek aku terharu

Written by Johan Asa

9 Agustus 2008 at 11:35 pm

Ditulis dalam ceracau, piece of me

Kemarin Ternyata Bukan Hari Baik

leave a comment »

Kemarin ternyata bukan hari baik. Kemarin hari baik memang tapi hanya sampai tengah hari. Kemarin hari mujur saya memang tapi hanya saat saya menemukan berkas pendukung data tugas akhir (TA) saya di lemari berdebu Depo Lokomotif bagian jalan dan jembatan PT KAI yang beralamatkan di Sidotopo. Hari baik memang saat sebelumnya itu, karena selama sebulan bolak balik kantor DAOP PT KAI area stasiun Gubeng akhirnya proposal TA saya disetujui KASI SDM yang ruwet, dan akhirnya bisa mengambil data di kantor Sidotopo itu.

Hari baik saya memang karena di depo loko Sidotopo, para birokratnya lebih ramah dari si KASI SDM di gubeng yang membuat saya cemas hingga berpikir urung ambil TA jembatan kereta api. Hari baik saya memang kemarin, karena selama perjalanan setelah mendapat data saya menyanyi2 sambil menyetir motor. HAri baik saya memang tiba dikampus dilirik gadis berbaju merah yang benar saya belum kenal. Hari baik saya memang kemarin, tapi hanya sampai disana. Baca entri selengkapnya »

Written by Johan Asa

20 Mei 2008 at 4:38 pm

Ditulis dalam go-blog, piece of me