Dunia dalam Asa, bukan Dunia dalam Berita

…….Selalu ada Asa, Rasa, dan Cita……..

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Jam Berapa, Nak?

with 8 comments

makes_eat_timeSaya hanya mahasiswa lawas yang sok sibuk. Sering kali saya mengumpat 24 jam itu tak cukup dalam sehari. Mengumpat karena waktu 24 jam tak cukup untuk saya makan, tidur, pup, kencing, ngerjaka tugas, belajar, ngerjakan proyek dan lain sebagainya. Saya mengumpat entah untuk siapa saya juga tidak tahu. Ah, semoga Tuhan tidak marah padaku.

“Jam pinten nak?” kata wanita tua berjilbab lusuh kepada saya saat saya melintas di working area-nya. Dia bertanya dengan ekspresif. Tangan kirinya diangkat ke dada dan tangan kanannya menunjuk-nunjuk pergelangan tangan kirinya. Saya yakin betul ia tidak ingin melewatkan kesempatan mendapat informasi jam yang menurutnya sangat penting saat itu.

Saya berhenti begitu dia menyapa dengan pertanyaan. Memandangnya. Wajah yang kukenal. Suara yang kukenal. Wanita tua ini memang tidak sekali pernah menanyaiku bacaan jam yang melingkar di tanganku. Sudah beberapa kali setiap aku melintas di tempat dia bekerja. Sempat ge-er juga apa karena saya gantengan dikit yak. Ah, tapi sayangnya aku tak pernah menanyainya nama dia. Lain kali mungkin.

Mungkin bukan hanya saya orang yang ditanyainya. Mungkin setiap hari setiap waktu siang menjelang sore dia menunggu sivitas akademika kampus saya ini yang melintas didepannya. Hanya untuk ditanyai jam berapa saat ini. Mungkin dan mungkin. Saya suka memprediksi.

Setelah berhenti, saya melempar senyum padanya. lalu dengan ekspresif juga ku jawab pertanyaannya. “Jam dua kurang lima, bu,” kataku sambil memperlihatkan jam tangan titanium hasil hibah dari bapakku. Dia manggut-manggut lalu tersenyum kelihatan satu gigi palsunya yang dari logam, kurasa sewarna dengan jam tanganku. “Matur nuwun, nak,” katanya.

Saya tak berlalu begitu saja. Hari itu saya tidak terlalu terburu. Saya umbar dua, tiga pertanyaan pada wanita yang tergabung dalam korps petugas kebersihan kampus saya itu. “Badhe wangsul toh bu?” kata saya coba berbahasa jawa halus. (artinya: mau pulang bu?)

“mboten nak, mangke jam 2.30,” katanya. (artinya: tidak nak, nanti jam setengah tiga sore)

“ohh.. lha ibu kerja mulai jam berapa?” tanya saya lagi, kali ini tidak konsisten berbahasa jawa halus, karena memang tidak bisa. :p

“ya mulainya jam enam, nak. jam setengah sewelas (10.30, red) bisa istirahat terus jam satu kerja lagi,” katanya sambil dilanjutkan mencabuti rumput di sela pavingstone yang jadi tugasnya siang itu.

“ohh, lha dalemipun pundi bu?” kataku mencoba berbahasa jawa halus lagi. (artinya : rumah ibu daerah mana?)

“Keputih mriki kok nak, celak,” katanya lagi. (artinya : daerah Keputih sini kok nak, dekat)

Tak kulanjutkan interview dengan ibu itu, karena kulihat dia mulai sibuk kembali dengan rumput yang tumbuh di sela pavingstone itu. Saya segera pamit dan berlalu. Dia tersenyum lagi, terlihat satu gigi logamnya. Saya berlalu sambil tetap bertanya-tanya dalam hati. Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab.
Kenapa dia selalu menanyakan waktu saat ada orang melintas?
Apa dia rindu akan rumah?
Apakah dia rindu akan anaknya?
Apa dia tidak betah bekerja kasar?
Apa honor yang diberikan kampus ini kecil sehingga dia merasa rugi kalau overtime?
Apa karena rumput-rumput disela paving stone itu membuatnya jengkel hingga tangannya mengelupas?

ahhhhh yang jelas saya tahu dia bertanya kepada saya karena dia tidak memiliki jam tangan begitu juga teman disampingnya, partner korps kebersihannya.

***

Hari berselang. Saya kali itu duduk di suatu seminar tentang industri kreatif. Saya duduk sebagai peserta waktu itu. Salah satu pembicara sempat menyinggung masalah manajemen waktu dalam bekerja. Sang pembicara, mengutip dari rekannya, dia mengingatkan, “Bekerja itu hanyalah mengisi waktu menunggu waktu Sholat”. Pikiran saya tiba-tiba kembali ke ibu kebersihan yang haus akan informasi jam. Kembali merenung sejenak. Mungkin ibu itu hanya tak ingin dia melewatkan ibadahnya tepat waktu. Ahh malu diri ini yang selalu mengumpat 24 jam tidak cukup dalam sehari. Ahh, semoga Tuhan tidak marah padaku.

asasino just another ordinary people ^_^

Iklan

Written by Johan Asa

16 April 2009 at 6:14 am

Ditulis dalam Uncategorized

Sedikit Perspektif Tentang Menjamurnya Jamaah Fesbukiyah

with 2 comments

logo_facebook

“Eh aku ternyata sanguin? padahal kukira koleris?” ujar seorang cewek kepada temannya. Mereka berdua sedang menikmati sore di kantin kampusnya. Saya kebetulan juga disana, menunggu pesanan cemilan sore saya, semangkuk pangsit mie.

“Aku lho Plegmatis,” sahut teman cewek bongsor yang sebelumnya bicara. Suara kedua gadis belia, kira-kira mahasiswa tingkat dua itu terdengar cukup keras. Heboh, sampai saya senyum-senyum sendiri melihat ulah pembicaraan mereka berdua.

“Plegmatiss? gak banget dehh,” lanjut si bongsor lagi ekspresif.

Tanpa menyahut lagi, kawan si-bongsor itu lalu beranjak membayar semangkok bakso diikuti si bongsor dibelakangnya. Saya masih menunggu pangsit mie tombo nyemil saya. Masih sambil tersenyum dan tertawa dalam hati. Facebook! Ya, percakapan kedua cewek itu tentang quiz di facebook.

Situs pertemanan, social networking, memang lagi tren saat ini. Facebook sukses menggeser Friendster yang lebih dulu booming. Bahkan banyak komunitas lain seperti kampus juga berlomba membuat situs jejaring antar alumni. Sebut saja www.its-one.com. Situs bikinan alumni kampus saya ini punya konsep yang sama seperti Facebook.

Facebook telah menjadi gaya hidup. Kerja sambil mesbuk. Kerjakan tugas kuliah sambil mesbuk. Facebook jadi hiburan setiap saat. Contohnya kedua mahasiswi tingkat dua tadi, mereka antusias sekali membahas hasil test kepribadian yang disajikan dalam bentuk quiz di facebook. Menurut saya, Facebook benar-benar sudah meradang pada diri mereka. Facebook menawarkan new experience pada mereka. Tentang hidup dan cara mengekspresikannya. Bisa jadi mereka lebih jago browsing teman di facebook daripada mencari jurnal ilmiah di 4shared. Ahh, perspektif yang ini terlalu ekstrimic.

Di-Indonesia, pengguna Facebook sering diplesetkan dengan sebutan jamaah fesbukiyah. Menggelitik bukan? Terdengar Mirip dengan jamaah Ahmadiyah dan aliran-aliran kepercayaan lain yang sesat. Siapa creator dari sebutan jamaah fesbukiyah? entahlah. Yang jelas Mark Zuckerber, pendiri facebook harus bangga karena dia dianggap imam dari jamaah fesbukiyah di Indonesia.

Ada yang bilang Facebook itu racun. Banyak perkantoran bahkan yang melakukan bloking akses ke situs ini, sama seperti saat pertama kali chating yahoomesenger booming. Kebijakan itu diambil supaya karyawannya tidak lupa waktu dan grafik produktifitas tetap berjalan semestinya. Facebook dikombinasikan dengan chatting YahooMesenger malah dianggap sebagai super racun. Kombinasi untuk mematikan waktu.

Jamaah fesbukiyah di tanah air sudah mencapai ratusan ribu. Bahkan mungkin jutaan. Saya tak sempat melakukan riset menggandeng BPS dalah hal ini. Maaf. :p Pengguna facebook berasal dari berbagai kalangan dan berbagai usia. Bayi yang baru lahir pun punya facebook. Orang jompo juga update facebook. Dosen, mahasiswa, pegawai kantoran, pegawai biasa, pengusaha, caleg dan pejabat juga ikut khusyuk dalam barisan jamaah fesbukiyah.

Lalu, jamaah Fesbukiyah apakah sesat? yang jelas MUI belum angkat bicara. Mungkin mereka sebagian juga hanyut dalam arak-arakan jamaah fesbukiyah. Lalu, apa salah jika keranjingan facebook? menurut perspektif saya tidak. Menurut saya Facebook adalah personal multimedia. Kemampuannya melebihi blog yang lebih dulu eksis.Facebook, punya kelebihan dalam hal fitur content. Ditangan orang yang superkreatif facebook bisa berubah menjadi sarana marketing yang bagus. Marketting produk, marketing diri bahkan sampai marketing -isme (pemahaman) bisa dilakukan facebook. Menjadi sarana mencari uang tentu bukan mustahil bagi Facebook. Bukankah di negeri ini sekarang sedang gandrung Entrepreneur? Facebook telah memfasilitasinya.

Kecepatan update di Facebook menjadi kelebihan yang lain. Beragam informasi bisa didapat di situs jejaring yang menurut saya mempunyai konsep sharing eveything ini. Bagi saya, tidak perlu terlalu memprotect diri dari Facebook. Facebook merupakan fenomena. Facebook adalah terobosan teknologi media. Filter utama tetap pada diri sendiri. Yang perlu diperhatikan adalah jangan terlalu menjadi budak dunia maya melupakan kodrat sebagai manusia sosial di lingkungan nyata. Untuk anak-anak dan remaja ada baiknya dilakukan kontrol oleh orang tua. Mereka sangat butuh interaksi sosial nyata di lingkungan nyata. Experience nyata yang tak sebatas teks, gambar dan video.

Akhir dari perspektif yang singkat ini sore itu saya tersadar dan menyimpukan bahwa Facebook memang racun tapi tidak se-racun pangsit mie lengkap dengan saos merah yang baru saja diantarkan sang penjual pada saya. Jadi, tidak perlu menolak teknologi multimedia seperti Facebook. Bergabunglah dengan kami di jamaah fesbukiyah. hyahahahahahaha.. πŸ˜€

asasino is just another jamaah fesbukiyah (^.^)V

Written by Johan Asa

10 April 2009 at 9:05 pm

Ditulis dalam Uncategorized

Antara Caleg dan DDT

leave a comment »

Menurut hasil riset singkat saya bersama partner terbaik abad ini, om google, dengan keyword β€œDDT adalah” menghasilkan temuan DDT merupakan insektisida populer temuan masa lampau yang kini keberadaannya banyak ditentang karena ternyata tidak ramah lingkungan. DDT merusak ekosistem alami. DDT dapat masuk sampai rantai makanan manusia. Penggunaan DDT berlebihan justru dapat menimbulkan resistensi kekebalan tubuh serangga hama. Akronim, DDT adalah Dichloro Diphenyl Trichlorethane.

Mengapa saya tertarik dengan DDT? Toh saya bukan biologist atau chemist. Sederhana, saya terbawa suasana demokrasi. Ya, pesta demokrasi yang akan segera diawali dengan pemilihan legislatif 9 April yang akan datang. Lho, kok bisa DDT nyambung ke Pemilu? Bukannya Pemilu itu lebih relevan dengan politik, langsung umum bebas dan rahasia? Yayaya, masih sederhana saja, saya terbawa kesal dengan secarik kertas edaran pengumuman dari RT/RW setempat.

Pengumuman itu biasa saja, seperti halnya edaran rapat koordinasi antar warga atau ada undangan syukuran di balai desa. Tatanan struktur surat undangan sesuai dengan kaidah protokoler pemerintahan setingkat rukun warga. Dibawahnya tak lupa tertanda ketua RW dan disertai stempel resmi kenegaraannya. Hanya saja isinya menurut saya mengesalkan. Pengumuman tentang akan datangnya juru selamat yang membunuhi nyamuk-nyamuk aides pembawa penyakit deman berdarah.

Juru selamat itu tak datang cuma-cuma. Dia telah dibayar tunai oleh yang lebih berkuasa memberi amplop. Entah berapa nilainya, yang pasti minimal ada 2 – 3 juru selamat yang akan datang mengepulkan asap. Penguasa itu dermawan kalau dipikir. Selain punya uang lebih, dia pasti punya dendam tersendiri terhadap nyamuk aides. Sayangnya, hanya dermawan musiman. Penguasa itu sedang nyaleg (baca saja: nyalonkan legislatif).

Saya kesal bukan karena dermawan itu caleg (baca saja: calon legislatif). Bukan, bukan sungguh bukan. Apalagi kesal karena dermawan itu berasal dari partai tertentu. Saya juga bukan kesal dengan pesta demokrasi yang akan berlangsung ini. Kalau saya kesal dengan Pemilu pasti saya sudah malas keluar rumah. Di luar sana jalanan sudah rimbun dengan tatapan aneh pria berkumis, pria gemuk, pria bijak berkacamata dan mbak dan ibu-ibu dengan senyum manis. Kalau sudah kesal dengan pemilu saya pasti berjalan denga menutup mata. Karena dimanapun, mata ini pasti tak sengaja membaca janji janji manis partai beraneka warna itu. Sungguh saya masih peduli dengan demokrasi!

Sekali lagi, saya kesal dengan sederhana. Sudah ada dua kali surat edaran pengumuman datang kerumah saya. Yang pertama sudah terealisasi dengan sukses. Si-dermawan tentu orang yang berbeda dengan dermawan di surat edaran kedua. Partainya pun beda. Yang pertama sukses membuat penghuni komplek sibuk dengan kecoa, lipan dan bekas-bekas yang ditinggalkan sang juru selamat, fogman! Masih ada senyum bahagia kala itu, karena memang perumahan kelas menengah kebawah ini sudah sangat perlu diasap. Ada yang bersyukur, karena kalau menunggu fogging gratis dari pemkot akan lama. Mengungsikan balita saat proses pun masih dilakukan dengan senang hati. Bekerja pembersihan after effect fogging juga dengan suka cita.

Tapi, yang kedua ini agaknya datang tidak tepat waktu. Belum sebulan kalau saya tidak salah hitung, dari yang pertama datang. Saya tidak tahu pasti kandugan Fogging itu apa saja. Apakah ada unsur DDT atau tidak saya kurang paham juga. Tapi menurut hasil riset kecil saya dengan partner terbaik saya, om google, menunjukkan fogging hanya membunuh nyamuk dewasa saja. Kurang dari sebulan mungkin memang waktu yang sangat cukup untuk larva berubah menjadi nyamuk dewasa. Tapi bukan waktu yang cukup menghapus rasa capek warga membersihkan sisa pasca penyemprotan.

Selain itu kalau dipikir ilmiah, saya kira terlalu sering fogging juga tidak baik. Pertama kekhawatiran serangga pembawa penyakit akan menjadi lebih resisten. Kedua bisa mengganggu kesehatan warga, terutama balita yang belum sempurna benar ketahanan tubuhnya.

Apa fogging telah menjadi tren alat kampanye simpatik termutakhir para DCT (baca saja: Daftar Calon Tetap) legislatif saat ini? apakah DDT bisa mempengaruhi DPT (baca saja : Daftar Pemilih Tetap) untuk mencontreng nama si-dermawan sesuai yang tertera di surat edaran? Ahh, saya tidak tau. Mungkin karena sudah terlalu banyak DDT yang saya hirup selama hidup saya ini membuat saya resisten terhadap janji-janji DCT. Tapi yang jelas saya masih tercatat sebagai DPT yang baik, hadir disetiap Pemilu.

asasino is not aides aegepty, he is just another victims

Written by Johan Asa

2 April 2009 at 7:07 pm

Ditulis dalam Uncategorized

Halal Bihalal Sixers 2002

with 3 comments

[WARNING : BERITA BASI] Lebaran.. lebaran.. lebaran.. mumpung masih bulan syawal. masih pada suka histeria sale maap maapan. maka posting ini masih berbau edisi halal bi halal. Ya, beberapa sixers 2002 [sebutan untuk alumni jelata sma 6 surabaya angkatan 2002] mengadakan halal bihalal Jumat (10/10) Tempatnya di Element cafe, Frans Bakery gubeng lt 2 itu.

Sebelumnya saya mohon maaf kepada rekan-rekan yang tidak bisa hadir karena tidak tahu. Memang pengumuman adanya halal bihalal ini kemarin melalui posting di milis saja dan kesepakatan YM Conference beberapa rekan sixers2002. Saya sendiri cuma makmum dan tukang jepret yang gak janji bisa hadir tepat waktu saat itu karena derita kuliah. [usul rek, gimana kalo kita buat jalur sms berantai ttg agenda segala kegiatan kita]

Saya pribadi mensinyalir kurangnya peserta juga karena banyaknya teman-teman yang sudah menikmati arus balik dan tidak ada di kota surabaya tercinta ini. Teman-teman mungkin sudah kembali sibuk dengan segala aktifitasnya hingga lupa memantau milis. Untuk diketahui, Sixers2002 memang telah tersebar keberbagai belahan nusantara dan dunia.

Meskipun yang hadir bisa dibilang sedikit dan peserta bisa diitung dengan jari kaki dan tangan tapi acara tetap berlangsung meriah dan guyub. Dan tetap saja dibilang ini adalah acara halal bi halal sixers2002. hidup sixers2002!

Konsep acara mengalir gayeng saja. Tak ada aturan dresscode atau bahasan topik khusus. Sama seperti halal bihalal RT/RW hanya saja minus sambutan tetua dan ceramah ustad. Isi acara kita malam itu berkutat di: Salaman maap maapan – Ngobrol-Ngobrol sesama alumni – ngobrol sama waitress pesen makanan – makan-makan tetep sambil ngomong dan bergaya kalau dijepret – trus ngobrol ngobrol lagi – ketawa-ketiwi kekenyangan.

Hanya saja plus nya dalam halal bihalal ini dibanding halal bihalal kantor atau RT adalah totalanmburi. Apa yang kamu makan dan minum yoo bayaren dewe rekk. hahaha secara belum ada satupun dari kami yang jadi saudagar minyak. Karyawannya BP Migas sih ada tapi baru. *sambil lirik lirik rosyid. Tapi gak papa justru itu seninya, gayeng dan guyub.

okeh mari langsung saja kita pantau skrinsyut jepretan foto fotonya.

asyiknya rame rame

asyiknya rame rame

wuuuaaahhhhhh maaapin ane yakkk

wuuuaaahhhhhh maaapin ane yakkk

---------------

---------------

Written by Johan Asa

23 Oktober 2008 at 5:32 am

Ditulis dalam Uncategorized

Bahaya Beban Dosa Berlebih Pada Jembatan

with 9 comments

Weits. Judul ini bukan mentang-mentang saya ambil jurusan Teknik Sipilis. Dan juga bukan mau sombong saya ambil judul tugas akhir perencanaan struktur jembatan kereta api. Posting ini sukses terselenggara karena saya baru berpulang dari ngopi barengs (ngobar) bareng dua kawan. Hohoho kami bertiga ngobar di jembatan Merr (Medokan Ring Road) II C, Surabaya. Untuk diketahui jembatan Merr kalau malam, pedestriannya berubah jadi tempat nongkrong muda mudi.

Sebenarnya tadi bukan yang pertama kali saya cangkruk (nongkrong, red) disitu. Tadi itu ketiga kalinya. Pertama, dulu banget pas awal awalnya jembatan itu sukses direhab jadi lokalisasi para pecinta cangkruk surabaya. Kunjungan kedua dua semester yang lalu. Dan dari kedua kunjungan itu yang paling membekas adalah saya selalu pulang dengan masuk angin!

Nah, kali ini sebenarnya saya juga malas menerima ajakan rekan saya. Ya karena cangkruk disana bikin selalu bikin paginya mesti mencret-mencret, atau paling gak ya kentut-kentut. Tapi karena rindu ngobar akhirnya saya ikut. Untunglah Ifan dan REza rekan saya yang datang duluan mendapatkan tempat di tepi jembatan. FYI, kalau ditengah bentang anginnya agak kenceng. Itulah yang bikin kita bisa mules.

Makanan dan minuman disana menurut saya biasa, dibilang enak ya enggak, dibilang gak enak ya kasihan. Untuk harga lebih mahal dari warung kopi dekat kampus, tapi lebih murah dari Excelso dan starbucks. πŸ˜› Jujur saya gak nangkep kesenangan suasana nongkrong disana. Selama disana saya cuman dapat kesenangan bahan obrolan teman ngopi. Tapi herannya, banyak juga muda mudi yang nongkrong disana. Singkat kata menurut saya tempatnya gak asyik. 😦

Jembatan Merr II C saat ini memang masih jembatan prematur. Karena terganjal pembebasan lahan dan masalah ini itu yang pelik makanya jembatan yang seharusnya merupakan bagian dari program pengembangan Surabaya timur ini belum selesai sempurna. Jembatan yang awalnya akan berfungsi mengatasi kemacetan dan menjadi jalur singkat penghubung antara Jalan A R Hakim – Semampir – Rungkut seakan hanya menjadi pengganti jembatan belly sebelumnya (treteg ijo) yang menghubungkan Kedung Baruk dan Semampir. Malahan macet masih sering terjadi di Semampir Semolowaru. Benar-benar prematur.

Karena prematur itu, akhirnya sebagian oknum melihat celah memanfaatan ruang jembatan. Pada malam hari mereka menggunakan pedestrian sebagai sarana jualan kaki lima. Pedestrian jembatan disulap jadi warung lesehan. Parahnya, masyarakat ternyata suka akan sensasi ngopi diatas jembatan. Jadilah hubungan baik supply and demand terbentuk. Jadilah Merr II C tempat ngobar dan one stop entertainment. -selama saya dan kawan-kawan duduk 2 jam disana, ada paling tidak 10 kali pengamen datang dan 5 kali gerobak keripik yang sama melintas-

Sebagai calon engineer sipil yang budiman saya sangat berduka dengan keadaan Jembatan Merr II C saat ini dan mengutuk keras oknum (baik pemerintah kota, pedagang, pembeli dan pengamen). Setau saya dalam perencanaan jembatan gak ada yang namanya diperhitungkan beban muda-mudi nongkrong, beban gerobak dan beban motor parkir sepanjang dua sisi pinggir jalan jembatan. Memang pasti beban yang timbul akan lebih kecil dari beban yang direncanakan, secara melihat fungsi sebenarnya dari jembatan ini. Tapi tetap saja tidak benar jika pedestrian disulap menjadi tempat lesehan dan pengamen wira-wiri sepuluh kali!. Belum lagi beban dosa sejoli yang pacaran mesra hingga tengah malam.

Ahh, Ada begini kan karena ada demand ada supply. Saat ini memang minim tempat hiburan yang merakyat. Gak salah kalau masyarakat mencari sensasi baru nongkrong – ngobrol – ngopi – pulang – masuk angin – mencret. Tapi mungkin perlu dimasukkan dalam peraturan perencanaan jembatan yang baru, beban tambahan pada jembatan juga meliputi beban warung lesehan pedestrian, beban parkir motor dan beban dosa pasangan mesum.

Malam tadi, saya pakai jaket dan kaos dobel. Saya minum kopi susu dan makan indomi rebus, semua habis Rp. 6000. Semoga paginya tidak kentut-kentut. 😎

Sudah tak mau lagi diajak nongkrong disana. Cukup tiga kali. πŸ˜€

foto diambil dari: http://actadigital.blogspot.com/

Written by Johan Asa

18 September 2008 at 3:00 am

Ditulis dalam Uncategorized

Waktu Saya Singkat

with 3 comments

Hehehe, ini bukan mau kejar tayang posting. Tapi mumpung saya masih melek dan segar bugar di redaksi dan lagi masih ada semangat menulis sambil menunggu waktu turun gunung beli sahur *sebelumnya udah ketiduran pulas diredaksi dari jam 8 malam sampek jam 12*

Waktu saya singkat kawan, makanya lebih baik saya buat cepat straight to the point. Ini terkait cita-cita saya yang melegenda, enjiner sejati tanpa ampun. Seorang dosen saya berkata didepan kelas tentang mimpi dan cita-cita, katanya jika setiap saat kita memikirkan apa yang kita cita-citakan dan diimbangi dengan semangat untuk berbuat, maka cita-cita itu bukanlah hal mustahil. hehehe πŸ˜€ sang dosen berkata sambil diselingi cerita yang seakan akan saya buat mirip dengan kisah hidup saya, kuliah lama-sambil kerja-punya impian. πŸ˜€

Terhubung dengan waktu, kemarin saat bukbar 6ers 2002 saya mendapati saya salah seorang yang belum lulus kuliah. 😦 hehehe tapi saya tetap bersyukur dengan jalan hidup saya ini. Trims ya Allah. Maka dari itu, sebagai wujud syukur saya, saya akan lebih bersemangat *teknikmemotivasidirilewatblogsendiri*. Waktu saya singkat, hingga Desember nanti kesempatan ngejar tugas akhir saya. Sekarang masih 0,… (nol koma sekian) prosen. hahahaha. Dan sekarang waktu saya singkat juga, belum beli sahur. πŸ˜›

Written by Johan Asa

15 September 2008 at 3:14 am

Ditulis dalam Uncategorized