Dunia dalam Asa, bukan Dunia dalam Berita

…….Selalu ada Asa, Rasa, dan Cita……..

Archive for the ‘walking around’ Category

Mangrove dan Satpam

with 3 comments

Tanaman mangrove penting adanya. hmm ada yang belum pernah melihat mangrove dari dekat? Bapak Satpam baik hatinya. Ada yang belum pernah kena semprot mereka?

Selasa pagi (30/1), hari terakhir berpuasa dibulan penuh berkah ini, saya mengawali hari dengan suka cita tanpa mbangkong (baca: oversleep) di tempat tidur. Kenapa? karena adik saya yang dudul ini punya janji dengan seorang petani tambak di daerah Tambak Oso, waru. Dan kenapa adik saya yang dudul itu yang berjanji nge-date kok membuat saya tidak mbangkong? karena saya mau nebeng ke kampus sekalian foto-foto ditambak.Lalu kenapa dengan pak satpam? bentar dulu ahh sabar.

Masih Senin pagi, saya mandi pagi-pagi supaya bisa bareng adik saya yang dudul itu. Lalu berangkatlah kami ke Tambak Oso, untuk bertemu si-bapak yang dikejar kejar adik saya selama beberapa hari ini untuk tanda tangannya. Bukan karena terkenal atau artis petambak masa kini. Tapi itu bapak, merupakan ketua dari petani tambak yang mau adik saya ajak kong kalikong (baca: kerjasama) dalam program kreatifitas mahasiswa (PKM) bidang pengabdian masyarakat. Saya akui, adik saya yang dudul itu tidak dudul sekali melainkan sedikit hiperaktif. 😀

Setelah cukup sukses dengan PKM bidang kewirausahaannya mengenai pembuatan sirup apple mangrove dan menjadi wakil ITS di Pimnas XII di Semarang. Dia bersama teman-temannya kembali berniat mengikuti program serupa tapi untuk bidang pengabdian masyarakat. Singkat kata, bentuk kongkalikong mereka dengan bapak petani tambak itu nantinya, mungkin, berupa program pelatihan pembuatan sirup mangrove pada masyarakat petani tambak di Tambak Oso yang nantinya diharapkan meningkatkan taraf hidup petani tambak. Sekaligus melestarikan tanaman bakau tentunya. Saya pikir itu baru mahasiswa, down to earth dan bermanfaat.

Perjumpaan kami dengan bapak yang hanya mengenakan sarung saat menemui kami itu cukup singkat. Tapi meski singkat cukup membuat adik saya senang karena si Bapak akhirnya menyerahkan surat perjanjian kerjasama yang telah dia tandatangani. Tapi ciri khas anak muda yang gak pernah cepet puas dapat melekat pada pikiran adik saya yang dudul ini. Dia memancing si-Bapak yang belum mengenakan selembar kaos kutang itu untuk mengantarkan ke Tambaknya, demi dokumentasi foto. Tapi meski ajakan tak kentara dengan bahasa kromo halus telah dilancarkannya tak membuat bapak itu mengiyakan. Rupanya si bapak yang masih bersarung kotak-kotak itu ingin kembali menunaikan ibadah tidurnya. Kami lalu pergi ke Tambak terdekat sendiri dan membiarkan si Bapak kembali tidur. Tambak si bapak itu memang lebih jauh letaknya. Dan mungkin lebih menjanjikan rimbunnya tanaman mangrove.

Di tambak terdekat kami sedikit foto-foto tanaman mangrove. Foto-fotonya seperti ini.

mangrove 1

mangrove 1

mangrove lagi sampai satpam

Iklan

Written by Johan Asa

1 Oktober 2008 at 1:47 am

Ditulis dalam piece of me, walking around

Belut, Bookstore dan Tur Tiga Mall

with 3 comments

Wah weekend kali ini saya benar benar merasakan indahnya dunia Surabaya. Ternyata Surabaya tak sesempit laboratorium dan kantor redaksi. Ya! saya banyak meluangkan waktu.

Mulai dari Jumat malam. Ada yang bilang Jumat malam adalah awal dari kesenangan ber-weekend kami para mahasiswa. Jumat malam artinya akhir dari perkuliahan tiap minggu dan waktunya melepas penat. Jumat kemarin juga adalah hari terakhir perkuliahan sebelum libur lebaran. Bayangkan betapa senangnya mahasiswa seperti saya pada waktu itu. *berlebihan 😛

Melihat sekeliling, Jumat malam kemarin memang bisa dikatakan awalan yang sempurna menghadapi libur panjang. Jumat malam kemarin, no asistensi tugas (dosennya badminton) dan no kuliah (mungkin dosennya rebutan diskon di Matahari). What a perfect day. Beberapa kawan terlihat memiliki rencana masing-masing. Mulai dari bakar ayam bersama di kosan sebagai perayaan sebelum pulang kampung, bargaining dengan pacar menentukan mall mana yang dituju beli baju baru sampai ada yang dengan senangnya menghadapi Jumat malam ini dengan duduk manis di depan PC browsing materi tugas akhir. kekekek. Ya apapun yang mereka lakukan, intinya mereka bahagia karena libur panjang. 😎

Saya juga tak mau ketinggalan. Sorenya saya sudah berencana untuk pergi makan belut. Sudah lama gak makan belut goreng sambal terasi. Sudah lama, kangen sekalih! Tidak mau sendirian, kali ini yang beruntung menemani saya makan adalah nduk chiw, seorang blogger yang saya masih tidak yakin dia mahasiswa, karena tak gemar kuliyah. Dan lebih tak yakin lagi kalau dia itu cewek. Warung belut yang kita tuju adalah Spesial Belut Surabaya (SBS) cabang Mulyosari karena dekat kampus.

Akhirnya Jumat malam itu menyudahi kerinduan saya terhadap dia yang berwujud belut. Seporsi menu Belut Elek Goreng lengkap dengan dua piring nasi dan es temulawak masuk ke perut saya di malam penuh suka itu. Sedangkan chiw memilih belut saus inggris sebagai teman nasinya. Oiya menu belut elek goreng adalah menu spesial dari warung ini. Belut digoreng lalu disajikan diatas wadah penuh sambal terasi dan ekstra potongan bawang. Kenapa disebut elek? karena memang tampilannya jelek. Tapi yakinlah itu resep tahasia mereka, belut terasa sangat maknyus dengan sambal itu. 😳

FYI, saat berbuka sebelumnya padahal saya sudah memakan lele penyet. Tapi hal itu gak mengurangi nafsu makan saya, 2 piring nasi pin habis oleh saya. Oh iya dan taukah anda jika Lele diyakini beberapa orang bodoh seperti Chiw merupakan Ibu dari Belut? Lah bapaknya belut bernama Ular, saat itu Lele dan ular terlibat asmara dan lahirlah Belut. Jadi bisa dibilang -jika menuruti legenda aneh itu- di perut saya malam itu ada reuni keluarga antara ibu dan anak. hahaha

Selain kepuasan dengan Belut-belut enak itu, malam itu saya juga dapat mengambil suatu pelajaran. Cara makan saya yang cepat mungkin salah satu penyebab saya gak bisa gemuk-gemuk. Memperhatikan chiw yang bulet ituh makan dengan alon-alon asal kelakon. Hmmm, kedepannya harus kurangi speed makan. Berikut screenshot kekacauan di meja kami:

kekacauan di meja kami!

kekacauan di meja kami!

…nge-mall itu menyenangkan atau membosankan?…

Written by Johan Asa

29 September 2008 at 6:53 am

foto lagi, pamer muka pas-pas-an

with 4 comments

ehh, siapa foto cowok ganteng disamping ini? klo liat dari topinya kayaknya engineer PT Badak LNG ini. hahaha hasrat narsisme kembali mencuat. postingan kali ini terusan hasil jepretan jalan-jalan beberapa waktu lalu dengan bro Ippan dan bro ndower. yeah.. ini foto lama tapi menurut saya (di) layak (layakkan) tampil di duniadalamasa. mengambil lokasinya di Tunjungan Plasa tanggal 1 september lalu. kita merasakan petualangan seru.

oke monggo dipirsani terusannya Baca entri selengkapnya »

Written by Johan Asa

19 Oktober 2007 at 9:16 pm

Ditulis dalam walking around

Nengok Dua Pameran Foto

leave a comment »

AWAL bulan ini ada dua pameran foto besar di kota Surabaya. wew! yang bikin menarik, keduanya pameran foto jurnalis foto kawakan dua media cetak raksasa di negeri ini. Kompas media grup dan Jawa Pos grup.

Pameran Kumpulan foto Terbaik Kompas, Mata Hati!

SEX for SALE!

yep! Kompas baru-baru ini mengeluarkan buku kumpulan foto terbaik kompas berjudul Mata Hati dan melakukan roadshow promo bersama Toyota Yaris ke beberapa kota besar. Salah satunya mereka tampil di Surabaya, dengan mengawali membuat klinik foto jurnalistik di Kampus ITS, posting saya sebelumnya, disini. Mata Hati juga tampil di ruang pamer Balai Pemuda Surabaya hampir selama sepekan, 26 Agustus – 1 September lalu.

Nah saya sempat nengok kesana (mata hati, red) di hari terakhir tgl 1 September, bersama dengan rekan Adi ‘ndower’ dan ‘bang’ ippan. Baca entri selengkapnya »

Written by Johan Asa

26 September 2007 at 10:37 pm

Ditulis dalam hobby, walking around

Jalan Irian Barat, Nongkrongnya Maniak Ikan Surabaya

with 24 comments

SIAPA yang tak suka melihat panorama buatan yang disajikan akuarium? kotak yang sering kali terbuat dari kaca itu selalu dapat menenangkan dengan liukan ikan hias dan indahnya tatanan landscape didalamnya. Akuarium seakan membuat kita sejuk dan memberi ruang untuk sedikit menghindar dari kepenatan. Di Surabaya ada satu tempat yang menjual segala sesuatu untuk mewujudkan keindahan itu. Dan tempat itu berbentuk pasar jalanan.

Suasana Jalan Irian Barat di Malam Minggu

Hampir semua kota besar punya pasar satwa semacam ini yang bisa memanjakan para hobiis. Jika di Surabaya jalan Irian Barat lah tempat untuk hobiis ikan hias. Lokasi jalan Irian Barat dekat dengan pusat kota dan berdekatan dengan pasar tradisional Keputran.

Selain sebagai pasar ikan hias, bagi masyarakat Surabaya, kawasan ini juga dikenal sebagai kawasan palang merah (wee lampu merah ouy). Itu karena disini juga tempat kaum waria mangkal mencari pasangan di malam hari. Eitss, tapi jangan takut. Kalau berniat datang mencari ikan hias, anda bisa datang ke pasar ini malam minggu atau malam kamis (sabtu malam / rabu malam), karena memang itulah jadwal buka pasar ini. “Jadi jangan salah jadwal men, bisa salah tingkah ente.”

Pasar ini berada sepanjang jalan Irian Barat yang bersebelahan dengan kali Mas (bener gak?). Disini kamu bisa mendapati segala jenis ikan hias dari ikan air tawar sampai air laut. Lalu juga bisa mendapati perlengkapan penunjang kehidupannya seperti filter, aerator dan lain sebagainya. Komplitlah.

berbagai jenis ikan hias bisa didapati di pasar ini

mulai dari kapas filter, filter, aerator, heater sampai benda aneh khusus untuk sang ikan ada!

Tenang saja, di pasar ini harga relatif terjangkau dan yang terpenting disini masih berlaku aturan ngenyang (menawar). Mulai dari ikan serba limaribu sampai ikan serba juta ada! Mulai dari ikan kelas dasar sungai; sapu-sapu, sampai ikan kelas hotel berbintang; arwana ada!

Gak usah kuatir dengan kocek tipis, kalau ada niat mulia memelihara ikan dengan kasih sayang dan ikhlas pasti kamu akan dapat bawa pulang ikan kerumah. 🙂

hebatz, ada paket serba limaribu!

yang ini ikan Koi, agak mahal lah ya! (cantik-cantik ya ikannya?!)

Pasar ini tidak hanya untuk hobiis yang berniat belanja, bagi yang niatnya cuma jalan-jalan sama kekasih atau keluarga juga sah-sah aja kok. Bisa dibilang selain tempat belanja ikan hias yang kumplit juga sebagai sarana rekreasi yang murah meriah. Lihat saja jika malam minggu tiba. arek Suroboyo banyak juga yang menghabiskan waktu hanya untuk jalan-jalan di sini.

jadi tempat asyik untuk jalan bareng teman, pacar, istri, suami juga anak! (mbak yang kujepret cakep lho)

Ikan yang dijual juga banyak dalam bentuk grosir, istilahnya disini satu kantong berisi beberapa ikan sejenis. Ya, memang pasar binaan dinas perikanan provinsi Jatim ini juga menjadi jujugan para penjual ikan hias di se-antero Surabaya. Pedagang yang berjualan disini juga banyak yang berasal dari luarkota, Blitar, Tulungagung dan kota peternak ikan lainnya.

salah satu pedagang ikan Arwana dan Oscar menawarkan dagangannya pada calon pembeli.
“wuihh ikan apa tuh dalam bak?” (jawaban; lele)

Hehehe, postingan ini terselenggara karena sejak SMP saya sudah menyandang gelar maniak ikan hias. Sekarang memang agak menurun perhatian saya terhadap ikan hias. Habis, ada yang lebih cantik dan asyik men. argghhhhh! lagi pula semakin hari saya semakin minder dengan ikan-ikan itu, lah yang pelihara mereka sendiri gak bisa berenang. Gawat kalau mereka tahu!

Tips memelihara ikan;
1. Jangan jadikan hobi ini pelarian sesaat. hanya karena, “eh lucu ikannya, warnanya bagus, beli ah.” seminggu kemudian pernyataan itu terlontar lagi, “eh lucu ikannya, warnanya bagus, beli ah.” wahh nambah ya koleksi ikannya? “gak juga mas, yang minggu kemarin mati gak tau napa.”.. biadabbbb!!!!

2.
Sesuaikan kemampuanmu dalam merawat makhluk hidup sebelum memutuskan mengadopsi ikan. jangan sampai orang malas bersihkan akuarium dan gak telaten kasih makan dengan gampangnya bilang “saya tuan dari ikan koi ini, semasa dia (koi, red) hidup,”. mending orang semacam itu disarankan pelihara ikan sapu-sapu di bak kamar mandi.

3. Sesuaikan kantong dan penghasilanmu sebelum memilih ikan mana yang akan kamu urus. Nah, ini penting agar sang buah hati tidak terlantar dan menjadi kaum prihatin. bayangkan kalau pelihara ikan arowana tapi gak mampu beli atau cari kodok/ikan kecil/jangkrik dll. bisa-bisa tuh ikan diajak puasa juga dan hanya berbuka dengan cecak, klo nemu dirumah. (cecak tidak baik buat sisik ikan).

4. Akuarium atau kolam tempat ikan harus disesuaikan dengan si ikan yang akan menjadi tuan rumah. Jangan asal beli ikan sehingga akuarium ukuran 50X40X30 jadi over populasi. pandai-pandai memilih juga ikan mana yang cocok di akuarium dan mana yang cocok di kolam.

5. Jangan asal percaya dengan si penjual. biasa pemula nanya begini, “pak, yang ini bisa tidak kumpul dengan ikan ini,” biasanya penjual bahkan belum pernah memelihara ikan itu dalam waktu lama dan memperhatikan sifatnya, biasa mereka hanya tangan kedua. lebih baik kamu browsing di internet dan tanya ke yang sudah ahli. klo mau mix jenis ikan di satu akuarium harus hati-hati. ndak semua ikan jenis cocok hidup berdampingan dengan yang lain.

6. Perhatikan juga perlengkapan pendukung. Syarat wajib makhluk hidup dapat survive adalah oksigen. jadi buatlah sirkulasi air dengan filter dan beri pasokan oksigen dengan aerator. harga sekarang udah murah-murah kok (banyak produk china).

7. konsisten dan ikhlas dalam memelihara. Mereka (ikan-ikan, red) niscaya akan memberikanmu balasan dengan lincah gerak dan kilau warna indahnya.

Written by Johan Asa

25 September 2007 at 1:55 pm

Ditulis dalam hobby, walking around

Ikan Bakar Maknyusss

leave a comment »

JIKA ditanya orang “apa hobimu?” hmmm, aku bakal mikir agak lamaan untuk menjawab. hohoho, karena sampai saat ini belum tau apa yang menjadi hobiku sebenarnya. Hobi jika didefinisakan merupakan kegiatan yang dilakukan diwaktu senggang dan dilakukan secara kontinyu. Lah, selama ini yang kukerjakan diwaktu senggang lebih sering adalah hal-hal yang muncul secara tiba-tiba dikepalaku. Jadi hobiku adalah melakukan hal yang terbesit tiba-tiba di pikiran, yang berpeluang menciptakan rasa damai dan menyenangkan.

Seperti, pernah pas ngerasa sepi sendiri mendesah dan pikiran ruwet, tiba-tiba langsung muncul ide wisata kuliner ke Blauran. Sendiri, benar-benar sendirian tidak ada kawan atau lawan tanding. Single fighter (kasihan)! Dan hasilnya bawa oleh2 ke redaksi ITSOnline beberapa jajan pasar yang maknyuss. Sekaligus bawaken oleh2 apem ‘fresh from the oven’ buat si Mayo yang udah pinjemin buku Mekanika Tanah untuk bahan ujian. Yang ternyata jadi santapan mayo and the gank. Aku pun tenar dengan apem maknyuss ^__^

Atau waktu hari libur, malas kemana-mana, tidak punya aktifitas berbobot untuk dilakukan, akhirnya nongkrong didepan kolam ikan. Liat ikan peliharaanku, eh lucu bisa renang. -gw lucu kok gak bisa renang yak?- ;jayus;

Mungkin juga yang satu ini, nongkrong di atap genteng sambil lihat indahnya langit. Tapi yang ini selallu berakhir dengan nestapa (masuk angin, red). Juga kadang melakukan aktifitas seperti liputan, jeprat-jepret atau sekedar mendengar keluhkesah dan opini man on the street, tanpa menulis report berita kemudian. Menyenangkan!

——————–

Kali ini yang mau di ekspos di kantor berita duniadalamasa adalah realisasi ide spontanku pada tanggal 15 Juli lalu, hari Minggu tepatnya. Sudah lama juga sih, tapi sekali lagi redaksi duniadalamasa memuat ini dikarenakan nguber jumlah posting-an. Ide itu adalah bakar ikan di rumah. weikkzzz, Yummyyy! Mbak ruri sebelumnya sudah melakukan posting mengenai aktifitas ini, bisa dilihat disini.

Ide ini sebenarnya sudah terbesit sejak lama. Tapi karena berbagai aktipitas sing ora penting harus rela menunggu sampai esok harinya. Semua berawal dari cerita mama tentang sebuah pasar ikan di dekat kawasan masjid Ampel. Pasar Ikan Pabean namanya. Mama-ku memang orang Suroboyo asli, makanya tau banyak tempat-tempat asik (dijamannya) di Surabaya.

Waktu itu, setelah mama bercerita tentang pasar Pabean, langsung saja mata ini berbinar-binar, cring-cring-cring. haha.. selalu seperti itu kalau mendengar cerita yang berbau tradisonal dan merakyat. Maklum jee aku gak pernah dolan ke yang namanya pasar ikan. kata mama waktu itu, “lho disana uakeehh iwak gede-gede. ikan pari besar juga ada,” ceritanya. Wadooow, langsung pingin kesana.

Dan, hari Minggu lah (15/7) baru itu terlaksana. Ya pada hari minggu kuturut mama tercinta ke pasar. Naik Suprafit orenz istimewa kududuk dimuka. Kududuk samping pak kusir yang fiktif belaka. Mengendarai motor supaya baik jalannya. bruuuummmmmm…ngeeengggggg. “pelan-pelan han, mama wedi (takut, red)..” kata mama sambil mencengkram pinggangku.

Lalu, sampailah kami ditempat tujuan. Bau amis ikan sudah tercium saat kami akan parkir motor. Werrrr… sebuah becak penuh dengan ikan pun lewat dihadapan kami. Wow.. mataku terbelalak saat liat ray fish besar (iwak pari) utuh dibawa becak itu. Sayang gak sempat kejepret kamera. 😦

Setelah parkir petualangan belanja ikan pun dimulai. Sekali lagi maap, gak banyak foto yang bisa saya jepret disini karena tujuan mulia awal kami adalah belanja! Dan jika kau belanja di pasar tradisional dengan jeprat-jepret, salah satu akibatnya adalah jadi susah nawar dan harga yang dipatok pedagangnya bisa-bisa jauh lebih tinggi. Yup, maybe next time. klo cuman niat hunting gambar.

Disana, mama beli beberapa jenis ikan. Mulai dari ikan teri yang putih kecil, lalu ikan bawal (alias dorang), trus ada ikan Selar yang ada warna garis kuning di badannya dan tak lupa kita beli ikan P (what a simple fish name?!).

Mamaku (paling kanan) sedang pilih-pilih ikan Selar. Ikan ini enak juga dibakar dan harganya murah. Cocok kalau ingin merasakan nikmatnya bakar-bakar ikan ala bolang (bocah petualang).

Setelah blusukan di pasar Pabean selama kurang lebih satu setengah jam. Kami pun memutuskan pulang. Yup, cukup untuk lauk selama seminggu hasil buruan kita ini.

Sesampai rumah kesibukan pun dimulai. Mama berperan aktif lagi sebagai sie-beteti (bersihkan sisik ikan), mbak Ruri sebagai koordinator cipta sambal enak tenan, Yudha (adikku) seksi pembantu umum, bapak juga sebagai supporting unit dan ketua dewan penasihat, Dan saya sebagai ujung tombak didapuk jadi ketua pengadaan barang dan jasa (cieeehhh) alias sebagai juru bakar ikan sekaligus pengadaan perlengkapan masak.

Sayang lagi, proses bakar-bakar dan keceriaan lain selama proses berlangsung tidak sempat diabadikan. Yeah, kita lupa pentingnya seksi dokumentasi. Tapi tak apa.. beberapa foto jepretan setelah output tercapai (ikan bakar matang) saya rasa cukup menyenangkan.

Sebagai inisiator pengaggas ide sekaligus juru bakar amatir (beranjak ke expert), tak lain tak bukan saya mengatakan bahwa ini ikan bakar paling yummyyy.. numero uno.. liat warnanya! matang merata dan tidak amis. Enak maknyusss.. top markotop dahhhh!

Mbak Ruri juga telah menyiapkan sambal mantapkalinya. Akhirnya, inilah tujuan yang kita idam-idamkan selama 22 tahun terakhir. (berlebihan) ^_^v

Yummy.. waktunya santap malam bersama. Ikan bakar ala bolang telah siap lengkap dengan sambal merah , sambal kacang juga nasi hangat. weitttssss, belum mulai kok ikannya sudah ada yang cuil? pasti kelakuan si-kucing Garong (criminal cat)

kelakuan si kucing garong-1 tertangkap kamera (diperagakan oleh Yudha)

criminal cat-2 pose waspada…. (diperagakan oleh Mas Iwan)

Demikian kisahnya. semoga bisa menjadi inspirasi untuk menghabiskan akhir pekan anda bersama keluarga. Bakar-bakar ikan sangat menyenangkan, dan bisa menjadi opsi yang layak dipilih. Tak perlu punya lahan yang luas atau pekarangan untuk bakar-bakar ikan. Buktinya, saya yang tinggal di perumahan juga bisa. Hehehe, saya memindahkan tempat bakar-bakar ke teras lantai 2, a.k.a balkon. Angin yang bertiup semakin membuat meriah susana, tetangga pun jadi ngiler cium baunya. wekekeke ^_^

Written by Johan Asa

8 Agustus 2007 at 10:56 am

Ditulis dalam hobby, walking around

Oleh-oleh Jalan Bareng Jagoan ITS

with one comment

POSTING kali ini sebenarnya sudah agak lama kejadiannya. Tanggal 16 – 22 Juli lalu dapat tugas mengikuti kontingen ITS berangkat ke Pimnas XX di Universitas Lampung (Unila). Disini saya bertugas menggantikan Humas ITS Mr Sukemi yang sekarang menjabat staf ahli Menkominfo, untuk melakukan liputan selama disana. Meski kejadiannya lama, tidak apa-apa deh untuk di masukkan di duniadalamasa. Itung itung nguber postingan. 🙂

Tugas kali ini cukup mendadak. H-2 menjelang keberangkatan redaksi ITSOnline baru diberi kabar dari Kemahasiswaan ITS mengenai permintaan pak Rektor mengikutsertakan wartawan ITSOnline. Yup, tak lain untuk meliput tim ITS di Unila. Dan salah satu alasan (memangnya cuma satu) mengapa mereka (rektorat, red) menunjuk ITSOnline karena pada kepemimpinan yang baru ini cukup lambat dalam menyikapi dan mengisi posisi humas yang kosong sepeninggal pak Kemi ke Jakarta. Dan untuk menunjukkan kompetensiku kubuatlah satu berita awalan ini.

Saya sendiri tidak ada masalah dengan segala hal yang mendadak. Hanya saja agak kecewa dengan birokrat. Meski saya easygoing, tapi tetap ngerti yang namanya planning pak! (ngamuk mode: on) hehehe, habise si bapak-bapak itu di meeting pertama denganku memberi informasi kalau aku diberangkatkan hari Selasa pagi naik Pesawat bareng beberapa pejabat ITS. Dalam benakku saat itu memang sewajarnya aku dinaikkan pesawat, karena disana aku bakal kerja liputan kesana kemari. Supaya gak capek gitu.

Nah, di hari Senin siang saat aku melakukan liputan pemberangkatan kontingen, yang bisa dilihat disini, barulah si-Bapak yang berwenang itu memberi kabar kalau aku harus berangkat bareng mahasiswa kontingen ITS untuk Pimnas sore itu juga naik kereta api. Mampuuusss, mana cucian (yang baru dicuci malam sebelumnya) belum kering betul dan belum disetrika. : doooh :

Seperti biasanya saya selalu mencoba ngobrol ceplas-ceplos -meski belum sepenuhnya bisa-, “lho pak katanya kemarin saya berangkat besok, naik pesawat,” kataku sambil menatap matanya.

“enggak, pak johan berangkat sore ini, supaya bisa mengikuti tim mahasiswa dari awal hingga akhir,” kata si Bapak.

“waduh, sekarang saya belum siap pakaian da packing,” kataku coba ngeles, supaya berangkat naik pesawat reekkk. Numpak sepur lak yoo kesel.

“Ya sekarang kamu kan bisa pulang. Nanti kereta berangkat jam 5an kok. Gmn siapkan?,” katanya.

“Ya sudah pak. sippp lah,” kataku singkat sambil mengangkat dua jempol (tanda pasrah). ^__^?

Belum sampai disitu pengorbanan seorang jurnalis. Dengan waktu yang serba mepet (kudu setrika, paking, mandi, B-A-B, makan dsb), datang telepon dari Mas Bekti, Pemred ITSOnline. Dikatakannya, kamera canon G3 punya humas ITS yang akan kubawa liputan di Lampung tidak ada chargernya. Dan aku mesti ambil dulu di rumah pak Kemi (yang cukup jauh dari rumahku). Yaa, memang kamera itu baru diserahkan (dipinjemkan) ITS ke ITSOnline. Wew, dan jadilah lengkap penderitaan awal keberangkatan. Berpacu mengejar waktu, mencari alamat pak kemu yang mbulet di daerah Sidoarjo. Meski KTP-ku Sidoarjo, aku lebih mengenal jalan Surabaya dari Sidoarjo. Dan akhirnya ketemu, itupun gak bisa langsung.. orang rumahnya pak kemi lupa tempat chargernya. nunggu dulu deh sambil ketar-ketir (cemas).

Dan, jadi pula berangkat naik kereta api Gumarang dari stasiun pasar Turi menuju stasiun Gambir Jakarta. Kuakui, menyenangkan jalan-jalan bareng dengan jagoan-jagoan ITS (istilah Pak Nur). Ada beberapa kejadian berkesan mengamati tingkah polah mahasiswa ITS selama perjalanan, seperti berita yang menurut saya lucu tentang dua orang mahasiswa ini.

Ini foto beberapa jagoan kampus yang akan berjuang disana.

Liputan pun dimulai. Journalist on duty…. (hasil jeprat-jepret) -maaf saya masih amatiran motretnya-

Teks Foto: Gajah Ikut Buka Pimnas.


Teks Foto: Dirjen Dikti Prof Satrio Soemantri Brojonegoro buka Pimnas


Teks Foto: Ahh, segar! Dirjen Dikti meminum sirup Mangrove karya mahasiswa ITS.


Teks Foto: Pak Sigit dari PENS ITS unjuk pamer robot ke wartawan media Lampung


-jurnalis juga butuh popularitas… jepret aku reekkkk!-

-lagi-


Selain itu juga sempat jeprat-jepret foto selain kegiatan Pimnas, berikut beberapa foto itu;

– Interest Robot Sejak Dini


– mbak Sarkam (sadar kamera). Duh, cantiknya! Dijepret di Bandara Raden Intan 2 Lampung




– Adik kecil dandanan seksi (wooopsss!) sedang menunggu sepur di Gambir

– Programmer Pelit-, ^__^ saat perjalanan pulang ke Surabaya saya bergabung dan menghabiskan waktu perjalanan saya dengan empat jagoan ITS pada lomba Apllied Programming. Busett, ternyata programmer saking seneng mikir, beli makan siang pun nawarnya sampe bikin mampus ibu penjual (liat kanan foto, ibu penjual nelangsa dibuatnya). Akhirnya dapat Nasi Goreng Rp. 6000 (setelah dirasa cukup murah dari yang lain).

– Nah, yang dibawah ini saya jadi model lagi. Dijepret di stasiun Gambir pas mau pulang oleh Hadziq sang maskot mahasiswa ITS (eh, mawapres ding) -juga salah satu tim programmer-. Dari lensa kamera ponsel Nokia seri N70-nya. trims ya Dziq!

Untuk berita hasil liputan saya selama disana, dan prestasi jagoan ITS bisa dilihat di link berikut:

  1. Stand ITS di Pimnas Lebih Dulu Berbenah

  2. Tiba di Lampung, Kontingen ITS Siap Bertanding

  3. Pimnas XX Resmi Dibuka di Lampung

  4. Dirjen Dikti Coba Sirup Mangrove

  5. Stand ITS Tampilkan Sepuluh Karya
  6. Tim ITS Mulai Berlaga
  7. Dua Poster PKM ITS Lolos ke Tahap II
  8. ITS gelar Workshop Robo Soccer
  9. Tim Programming ITS Melaju ke Final
  10. ITS Peringkat Empat di Pimnas XX

Yaaaa, perjalanan selama sepekan ini sangat menyenangkan. Bertemu banyak orang baru.

Written by Johan Asa

6 Agustus 2007 at 5:26 pm

Ditulis dalam journalism, walking around